Artikel Stikes Madani

Stikes Madani

UNTUKMU YANG SUKA BERTEMU DAN BERTAMU

Abu Bassam | Selasa, 15 September 2015 - 14:45:35 WIB | dibaca: 2844 pembaca

ilustrasi

Di antara keindahan dan kemuliaan ajaran agama Islam adalah mengatur, membimbing dan mengarahkan bagaimana seharusnya seorang menjalin sendi ukhuwah dan tali persaudaraan. Termasuk dalam hal ini adalah bersilaturahmi, saling berkunjung, bertemu dan bertamu bahkan menjamu tamu dengan baik, hal ini berdasarkan hadits sahih dari nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam

Bahkan Rasulullah bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ 

“…dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya!” [HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47, Ahmad no. 7571, Tirmidzi no. 1188, dan Darimi no. 2222]

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dikenang perbuatannya (dipanjangkan umurnya), hendaklah menyambung kekeluargaan.” (HR. Bukhari no. 5527, Muslim no. 4639, dan Abu Dawud no. 1443)

Nah, agar bertamu kita, berkunjung kita, dan pertemuan serta penjamuan tamu kita benar, tidak merugikan dan indah adanya hendaknya adab-adab yang dituntunkan syariat diperhatikan dan diamalkan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kunjungan di antaranya:

Memilih waktu yang pas, yang baik dan tidak mengganggu. Ada waktu-waktu yang kita dilarang oleh syariat untuk melakukan kunjungan, dilihat mashlahat dan mudharatnya. Sebagaimana telah diketahui bersama ada keadaan-keadaan di mana seseorang tidak ingin diganggu dan dilihat orang lain. Misalnya waktu sebelum shalat Fajar, saat-saat tidur siang, dan setelah shalat Isya.

Memberi tahu orang yang akan dikunjungi. Kita tidak tahu kesibukan orang lain. Bisa jadi orang yang akan dikunjungi sedang tidak mau ditemui karena sibuk, capek, atau karena suatu hal. Begitu juga memberitahukan siapa yang akan berkunjung, berapa jumlahnya dan lain-lain itu bagus untuk diperhatikan.

Mempertimbangkan mashlahat dan mudharat dalam berkunjung. Kalau yang akan dikunjungi sedang susah, hendaknya berusaha memberikan bantuan yang bisa meringankan kesusahanya. Begitu juga tidak terlalu sering mengunjunginya, hingga justru mengganggu dan merugikan.

Berikut adalah sebagian adab ketika berkunjung dan bertamu:

1. Ketika hendak bertamu hendaklah berdiri di sebelah kanan atau sebelah kiri pintu. Hal ini dimaksudkan supaya orang yang bertamu tidak mengarahkan pandangannya langsung pada tempat-tempat yang tidak disukai penghuni rumah untuk dilihat. Rasulullah juga pernah pada sahabat tentang masalah ini.

2. Seseorang tidak boleh memandang atau mengintip ke dalam rumah orang lain yang  dikunjunginya tanpa seizin pemiliknya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ

“Barangsiapa yang sengaja mengintip ke dalam rumah orang lain tanpa izin, maka dihalalkan pemilik rumah untuk mencukil matanya.” [HR. Muslim no. 2158] 

3. Mengucapkan salam kepada yang dikunjungi/ditemuinya. Hal ini pernah terjadi pada sahabat Sufyan bin Umayyah setelah masuk Islam, beliau berkunjung menemui Rasulullah tanpa salam lalu Rasulullah menyuruh kembali dan mengucapkan assalamu’alaikum. Bisa dilihat hadits riwayat Imam Ahmad no. 14999, Abu Dawud no. 5176, dan Tirmidzi no. 2710.

4. Sepantasnya orang yang meminta izin tidak mengetuk pintu terlalu keras, yaitu dengan ketukan sesuai dengan hajat, lalu diikuti dengan salam.
Imam Al-Maimun pernah berkata, ‘Ada seorang wanita mengetuk dengan keras pintu rumah Abu ‘Abdillah. Abu ‘Abdillah keluar dan berkata, ‘Ini adalah ketukan polisi.” Sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Muflih dalam Al-Adab al-Syar’iyah Jilid 1 hal. 73.

5. Meminta izin untuk masuk maksimal tiga kali.
Rasulullah bersabda,

إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ 

“Jika salah seorang di antara kalian meminta izin hingga tiga kali tidak dijawab hendaknya pulang saja.” [HR. Bukhari no. 6245 dan Muslim no. 2153]

6. Bila penghuni rumah bertanya ‘siapa’? Hendaklah yang datang menyebutkan nama secara jelas, tidak cukup mengatakan ‘saya’.
Tujuannya agar penghuni rumah mengetahui dengan jelas siapa tamu yang datang. Kasus semacam ini pernah dialami sahabat Jabir bin Abdillah ketika mengunjungi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak membayarkan utang ayahnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya siapa itu? Jabir bin Abdillah menjawab, ‘Saya!’ Rasulullah bersabda, ‘Saya..! Saya..!’ Sepertinya beliau tidak menyukai jawaban tersebut. [Bisa dilihat dalam hadits riwayat Bukhari no. 6250 dan Muslim no. 2155]

7. Jika pemilik rumah menyuruh kepada orang yang bertamu untuk kembali, maka seharusnya ia kembali.
Hal ini berdasarkan firman Allah,

وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ ازْكَى لَكُمْ

“…Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja) lah", maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu..” [Nur:28]

8. Disunnahkan ketika bertemu saling berjabat tangan namun tidak kepada lawan jenisnya yang bukan mahrom bagi dia .
Rasulullah bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا 

“Dua orang muslim yang bertemu kemudian berjabat tangan akan diampuni dosanya selama belum berpisah.” [HR. Abu Dawud no. 5212, Tirmidzi no. 2727, dan Ibnu Majah no. 3703]

تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ

“Hendaklah kalian saling berjabat tangan, karena bisa menghilangkan ganjalan/dengki dalam hati. Hendaklah kalian juga saling memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai dan menghilangkan dendam.” [HR. Malik bin Anas sebagaimana disebutkan jalur-jalurnya oleh Imam Abdilbarr, periksa dalam Al-Tamhid jilid 21 halaman 12]

9. Disunnahkan juga untuk tidak melepas tangan ketika berjabat tangan sehingga orang yang dijabat tangan melepas sendiri tanganya. Demikianlah perbuatan Rasulullah sebagaimana disebutkan dalam hadits Imam Tirmidzi no. 2490 dan Ibnu Majah no. 3716, sebagaimana disahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani Rahimahullah dalam Silsilah Shahihah jilid 5 hal. 635, hadits no. 2485.

10. Tidak disunnahkan memeluk kanan dan kiri bergantian (mentahni’) berdasarkan hadits Anas riwayat Imam Tirmidzi no. 2728 dan Imam Ibnu Majah no. 3702
Seorang berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami bertemu dengan sahabatnya, apakah boleh mentahni’nya?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak.’ Orang itu bertanya lagi, ‘Bolehkah ia menjabat tangannya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, jika ia mau.’” Hadits ini disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah Shahihah jilid I hal. 248 hadits no. 160.
Larangan ini bila menjadi kebiasaan dan sering dilakukan. Namun jika bertemu dengan seseorang yang datang dari perjalanan atau lama tidak bertemu, maka tidak mengapa memeluk kanan dan kiri bergantian sebagaimana hadits shahih dari Jabir bin Abdillah ketika melakukan perjalanan jauh menemui Abdullah bin Unais radhiallahuanhuma.

11. Bila yang bertemu bersama-sama (ada orang yang ikut dengannya ketika bertamu) maka diperkenalkan dan diberitahu pada orang yang dikunjungi agar tidak terjadi salah paham, rikuh, sungkan, dan tidak enak hati. Hal ini sebagaimana hadits yang dibawakan oleh Abu Mas’ud riwayat Imam Bukhari no. 5434, Muslim no. 2036, dan Tirmidzi no. 1099.

12. Duduk di tempat yang disediakan dan berusaha menjaga pandangan untuk tidak melepaskan pandangan pada tempat lain, kecuali yang disediakan oleh pemilik rumah. Karena di tempat lain dari rumah tersebut ada hal-hal yang tidak pantas dilihat oleh orang lain. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kehormatan wibawa dan harga diri seorang muslim.

13. Bagi yang dikunjungi hendaklah memuliakan tamu sebagaimana yang telah diisyaratkan nabi, sebagaimana tersebut dalam hadits di awal. Memuliakan tamu sangat ditekankan oleh syariat sebagaimana dijelaskan para ulama. Di antara bentuk memuliakan tamu adalah.
Menyambutnya dengan penuh senyum dan kegembiraan atas kedatangannya.
Menyediakan minuman dan makanan seadanya dan lain-lain.

14. Disunnahkan mendoakan bagi yang menjamu/memberi makan, sebagaimana dilakukan oleh nabi ketika disuguhi susu. Beliau bersbda,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي وَاسْقِ مَنْ سَقَانِي 

“Ya Allah berilah makan dan minum kepada orang yang telah memberiku makan dan minum.” [HR. Ahmad no. 22692]

15. Disunnahkan bagi yang menjamu tamu untuk mengantar hingga keluar pintu. Imam Sya’bi (Amir bin Syarohil al-Sya’bi) berkata, ‘Termasuk kesempurnaan kunjungan seorang tamu adalah engkau mengantarkannya hingga ke pintu (saat pulang). [Periksa dalam Al-Adabusy Syar’iyyah jilid 3 hal. 22]

Inilah beberapa petunjuk syariat dalam bertemu, bertamu, dan menjamu tamu. Mudah-mudahan menjadikan kita semakin cinta terhadap ajaran Islam, kemudian mempraktekkannya dalam hidup ini agar kita bisa memperoleh manis dan indahnya beragama Islam.

sumber: Majalah FATAWA Vol V No 05



Berita Terkait