Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

UNTUKMU YANG MERINDU RAMADHAN

Abu Bassam | Rabu, 27 Mei 2015 - 10:34:07 WIB | dibaca: 2813 pembaca

Masjid Quba

Di antara tanda kebesaran Allah Ta'ala ialah disyariatkan-Nya kewajiban ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Di dalamnya terdapat keutamaan sangat besar, keagungan, dan kemuliaan. Perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya.

Di antara hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan ibadah puasa adalah :
 
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ تَعاَليَ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ ، إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ ( رواه بخارى )

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah Ta'ala berfirman: Setiap amalan Bani Adam (pahalanya) adalah baginya, kecuali puasa; karena puasa adalah bagi-Ku, dan aku yang memberikan pahalanya. (Shahih al-Bukhari juz V hal. 2215 no. 5583)

Mengingat keutamaan puasa seperti tersebut dalam hadits ini, berbahagialah orang yang memanfaatkannya dengan baik dan merugilah orang yang menyia-nyiakanya.

Definisi Puasa
Puasa (shaum), secara bahasa bermakna imsak (menahan). Sedangkan secara syar'i, bermakna menahan diri, yang disertai dengan niat, dari segala sesuatu yang dapat membatalkan, mulai dari terbitnya fajar Shubuh hingga terbenamnya matahari.

Hukum  Puasa
Umat Islam sepakat, hukum puasa pada bulan Ramadhan ialah fardhu (wajib).
Allah Ta'ala di dalam al-Quran berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:183)

Juga hadits, adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ … ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima perkara,  … puasa bulan Ramadhan.
(Shahih al-Bukhari juz I hal. 12 no. 8)

Al-Hafizh al-Dzahabi Rahimahullah berkata, ”Sudah menjadi ketetapan bagi kaum muslimin, orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur (syar'i) adalah lebih jelek dari pada pezina dan pecandu khamer, bahkan mereka meragukan keislamannya, menganggapnya zindiq, dan menyimpang dari agama.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, ”Apabila (seseorang) tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena menganggap halal (meninggalkanya), maka, lantaran perbuatannya itu, orang tersebut wajib dibunuh. Bila ia seorang fasiq, maka harus dihukum karena berbuka pada siang hari bulan Ramadhan.” (Majmu' Fatawa, 25/265)

 
Keutamaan Puasa
Puasa mempunyai keutaman yang banyak. Di antara hadits sahih yang menerangkan keutamaannya, bahwasanya puasa dikhususkan oleh Allah bagi diri-Nya, dan Dialah yang langsung memberikan pahala puasa dengan melipatgandakan pahalanya untuk orang yang berpuasa dengan tanpa batas.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ، الْحَسَنَةُ عَشَرَةُ أَمْثَالِهَا ، إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ ، إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِي. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، الصَّوْمُ جُنَّةٌ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Setiap perbuatan anak Adam dilipatgandakan balasannya sepuluh hingga 700 kali bahkan hingga apa yang dikehendaki Allah, kecuali puasa. Puasa itu bagi-Ku, Aku yang akan memberiakan balasannya atas sikapnya yang meninggalkan makan dan minum karena-Ku. Orang yang berpuasa mempunya dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. Aroma mulut orang yang berpuasa lebih baik, di sisi Allah 'Azza wa Jalla, dibanding aroma misk. Puasa itu adalah perisai, puasa itu adalah perisai.” (Shahih Muslim juz II hal. 806 no. 1151)

Sungguh, puasa itu tiada tandingannya, hingga doa orang yang berpuasa tidak ditolak. Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Saat berbuka ia bergembira karenanya dan saat bertemu dengan Rabbnya, ia bahagia karena puasanya dapat memberikan syafa'at pada hari Kiamat. Dia akan berkata, “Wahai Rabbku, aku telah menghindarkannya dari makanan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberikan syafa'at kepadanya,” dan bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi. Puasa juga menjadi perisai dan benteng paling kuat guna mencegah dari api neraka. Barangsiapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah, niscaya Allah menjauhkan mukanya dari api neraka sejauh tujuh puluh tahun. Barangsiapa berpuasa satu hari karena semata mengharap keridhaan Allah dan ia mati dalam keadaan puasa, niscaya masuk surga. Di surga itu ada pintu yang disebut Royyan. Melalui pintu itu orang-orang yang berpuasa masuk surga, dan tidak seorang pun masuk lewat pintu itu selain mereka.

Faedah Puasa
Puasa memiliki beberapa manfaat, baik dari segi kejiwaan, social, dan kesehatan.  

1.    Secara kejiwaan, puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajarkan dan membantu penguasaan diri, serta mewujudkan dan membentuk ketakwaan yang kokoh dalam diri. Yang tersebut terakhir adalah hikmah puasa yang paling utama.
Firman Allah Ta 'ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:183)

2.    Secara sosial,
puasa membiasakan umat berlaku disiplin, bersatu, cinta keadilan, dan persamaan, juga melahirkan perasaan kasih sayang dalam diri orang-orang beriman dan mendorong berbuat kebajikan, sebagaimana juga menjaga masyarakat dari kejahatan dan kerusakan.

3.    Sedang di antara manfaat puasa ditinjau dari segi kesehatan, ialah membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa dan endapan makanan, mengurangi kegemukan dan kelebihan lemak di perut.

4.    Termasuk manfaat puasa adalah dapat menahan nafsu. Karena berlebihan dalam hal makan maupun minum serta menggauli isteri bisa mendorong nafsu berbuat kejahatan, enggan mensyukuri nikmat serta mengakibatkan kelengahan.

5.    Di antara manfaat puasa adalah bisa untuk mengosongkan hati hanya untuk berpikir dan berdzikir. Sebaliknya, jika berbagai nafsu syahwat dituruti, maka bisa mengeraskan dan membutakan hati, selanjutnya menghalangi hati untuk berdzikir dan berfikir, sehingga membuatnya lengah. Berbeda halnya jika perut kosong dari makanan dan minuman, akan menyebabkan hati bercahaya dan lunak, kekerasan hati sirna, kemudian semata-mata dimanfaatkan untuk berdzikir dan berpikir.

6.    Orang kaya bisa mampu mengetahui betapa besar nikmat Allah atas dirinya. Allah memberi karunia nikmat tak terhingga, sementara pada saat yang sama banyak orang miskin tak mendapatkan sisa-sisa makanan, minuman, dan tidak pula menikah. Keadaan itu akan mengingatkan orang-orang kaya kepada orang-orang yang sama sekali tak dapat menikmatinya. Ini akan menyadarkannya untuk bisa mensyukuri nikmat Allah atas dirinya berupa serba kecukupan. Juga menjadikannya berbelas kasih kepada saudaranya yang memerlukan, dan mendorongnya untuk membantu.

7.    Termasuk manfaat puasa, ialah mempersempit aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam. Karena setan masuk kepada anak Adam melalui aliran darah. Dengan berpuasa ia menjadi lebih aman dari gangguan setan, kekuatan nafsu syahwat dan kemarahan. Karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai benteng untuk menghalangi nafsu syahwat nikah, sehingga beliau memerintahkan kepada orang yang belum mampu menikah dengan berpuasa. (Lihat kitab Larha'iful Ma'arif, oleh Ibnu Rajab, hal. 163. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).


Etika Berpuasa
Di antara etika berpuasa ada yang sifatnya wajib dan ada juga yang sunnah. Di antaranya adalah:

1.    Sedapat mungkin sahur dan menundanya hingga di penghujung waktunya. Rasulullah bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah, sesungguhnya di dalam sahur itu mengandung berkah.”
(Shahih al-Bukhari juz VII hal. 217 no. 1923)
Jadi, sahur adalah makanan yang penuh dengan berkah, sekaligus menyelisihi kebiasan ahlul kitab. Sementara itu sebaik-baik makanan sahur adalah kurma.
(HR al-Bukhori).

2.    Menyegerakan berbuka (bila telah sampai waktunya). Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Orang-orang akan selalu mendapatkan kebajikan selagi mereka menyegerakan dalam berbuka puasa.”
(Shahih al-Bukhari juz II hal. 692 no. 1856)

3.    Menghindari rafats, karena Rasulullah  shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ

“Apabila pada hari seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah dirinya berbuat rafats.”
(Shahih al-Bukhari juz II hal. 673 no. 1805)

Rafats adalah jatuh dalam perbuatan maksiat. Oleh karena itu orang yang berpuasa seharusnya meninggalkan semua perbuatan haram, seperti menggunjing, perkataan jorok dan dusta, karena perbuatan tersebut dapat menghapus pahala puasanya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar belaka.” (Sunan Ibni Majah juz I hal. 539 no. 1690, dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib juz XIII hal. 173 no. 5801)
 
 
Syarat Sahnya Puasa
Syarat-syarat sahnya puasa ada enam:
1.    Islam. Tidaklah sah puasa orang kafir sebelum masuk Islam.
2.    Berakal. Tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
3.    Tamyiz. Tidak sah puasa anak kecil sebelum dapat membedakan yang baik dari yang buruk.
4.    Tidak sedang haid. Tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
5.    Tidak nifas. Tidak sah puasa wanita yang sedang nifas, sebelum suci dari nifas.
6.    Niat, dari malam hari untuk setiap hari dalam puasa wajib, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.”
(Sunan Abi Dawud juz I hal 744 no. 2454, dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Sunan Abi Dawud juz II hal. 465 no. 2143. Riwayat ini dikuatkan oleh Imam al-Bukhori, al-Nasa'i, al-Tirmidzi dan lain-lain).
Hadits ini menunjukkan tidak sahnya puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari, yaitu dengan meniatkan puasa untuk esok harinya.
 
 
Sunah-sunah Puasa
Sunah puasa ada enam:
1.    Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.
2.    Segera berbuka puasa bila benar-benar matahari terbenam.
3.    Memperbanyak amal kebaikan, terutama menjaga shalat lima waktu pada waktunya dengan berjamaah, menunaikan zakat harta benda kepada orang-orang yang berhak, memperbanyak shalat sunat, sedekah, membaca al-Quran dan amal kebajikan lainnya.
4.    Jika dicaci-maki, supaya mengatakan ‘Saya berpuasa' dan jangan membalas mengejek orang yang mengejeknya, memaki orang yang memakinya, membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepadanya; tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa.
5.    Berdoa ketika berbuka sesuai dengan yang diinginkan. Seperti membaca doa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki] (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami': 4/209, no. 4678) [7]

6.    Hendaklah berbuka menyantap kurma segar (ruthab), jika tidak ada bisa dengan kurma kering (tamr). Jika tidak punya keduanya, cukup dengan air.
 
 
 
Yang Diwajibkan Berpuasa Ramadhan

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

1.    "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk berpuasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa." (Al-Baqarah ayat 183)

2.    Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَكْبَرَ

“Telah diangkat pena (kewajiban syar'i/taklif) dari tiga golongan; dari orang gila sehingga dia sembuh, dari orang tidur  sehingga bangun, dari anak-anak sampai ia bermimpi/dewasa."
(Musnad Ahmad juz I hal. 118 no. 956, Sunan Abi Dawud juz XIII hal, 54 no. 4400, dan Tirmidzi juz V hal. 477 no. 1488).


Yang Dilarang Berpuasa
Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, katanya,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

“Ketika kami haidh pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintah mengqadha shalat". (Shahih Muslim juz I hal. 182 no. 789)
Keterangan di atas memberi pelajaran bahwa wanita yang sedang haid dilarang berpuasa sampai habis masa haidnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yang ditinggalkannya selama dalam masa haid.

 
Yang Boleh untuk Tidak Berpuasa Ramadhan
Diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan bagi empat golongan:

1.    Orang sakit yang bila berpuasa justru akan membahayakan dirinya dan orang bepergian yang diperbolehkan meng-qashar shalat. Tidak berpuasa bagi kedua kelompok ini adalah lebih utama, tetapi wajib meng-gadha-nya. Kalau mereka tetap menjalankan puasa tetap sah (mendapat pahala). Firman Allah Ta'ala,

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

"Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah:184)
Maksudnya, jika orang sakit dan orang yang bepergian tidak berpuasa, maka wajib meng-qadha (menggantinya) sejumlah hari yang ditinggalkannya pada hari lain setelah bulan Ramadhan.

2.    Wanita haid dan wanita nifas; mereka tidak boleh berpuasa dan wajib mengqadha. Jika berpuasa tidak sah puasanya. Aisyah Radhiallahu 'anha berkata :
"Jika kami mengalami haid, maka diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan menggadha shalat".  (Hadits Muttafaq 'Alaih).

3.    Wanita hamil dan wanita menyusui,
jika khawatir atas kesehatan anaknya, maka boleh baginya tidak berpuasa dan harus meng-qadha serta memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Jika berpuasa, maka puasanya sah. Adapun jika khawatir terhadap kesehatannya, maka ia boleh tidak puasa dan harus meng-qadha saja.

4.    Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh, maka boleh baginya tidak berpuasa dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya. Ibnu Abbas radhiyallhu'anhu ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin,” ia mengatakan: ‘Ayat ini tidak mansukh (tidak dihapus hukumnya).' Orang yang dimaksud adalah lelaki dan perempuan lanjut usia yang tidak mampu berpuasa, maka mereka harus memberi makan seorang miskin setiap harinya. Sedangkan jumlah makanan yang diberikan yaitu satu mud (genggam tangan) gandum atau satu sha' (sekitar 3 kg) dari bahan makanan lainnya.

5.    Barangsiapa berperang melawan musuh atau dikepung musuh di kampungnya,  sedangkan puasa dapat melemahkan kekuatannya dalam pertempuran, maka ia boleh berbuka puasa sekalipun tanpa safar. Demikian pula jika ia terpaksa harus berbuka sebelum penyerangan, maka boleh berbuka.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda kepada para sahabatnya sebelum peperangan dimulai;   “Sesungguhnya kalian besok pagi akan berhadapan dengan musuh, dan berbuka itu lebih membuat kalian kuat maka berbukalah.” (HR Muslim).

6.    Barangsiapa yang sebab pembatal puasanya jelas, seperti sakit, maka tidak mengapa berbuka secara terang-terangan. Dan barang siapa yang sebab pembatal puasanya tersembunyi, seperti haidh, maka sebaiknya berbuka secara tersembunyi agar terhindar dari tuduhan.


Hal-hal yang Membatalkan Puasa
1.    Makan dan minum dengan sengaja. Jika dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
2.    Jima' (bersenggama).
3.    Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk kategori ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan transfusi darah bagi orang berpuasa.
4.    Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga lantaran onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena tanpa sengaja.
5.    Keluarnya darah haid dan nifas. Jika seorang wanita mendapati darah haid atau nifas, maka batallah puasanya, baik pagi maupun sore hari sebelum terbenam matahari.
6.    Sengaja muntah dengan mengeluarkan makanan atau minuman dari perut melalui mulut. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang muntah tanpa sengaja maka tidak wajib qadha. Sedangkan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib qadha". (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).
Lafazh lain menyebutkan: "Barang siapa muntah tanpa sengaja, maka ia tidak (wajib) mengganti puasanya". Diriwayatkan al-Harbi dalam Gharibul Hadits (5/55/1), dari Abu Hurairah secara maudhu', dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shilshilatul Alhadits ash-Shahihah, no. 923).
7.    Murtad dari Islam -semoga Allah melindungi kita darinya. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah Ta'ala: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am ayat 88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.
Jika wanita nifas telah suci sebelum sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi, shalat dan berpuasa.
 

Hal-Hal yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Puasa
1. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anhu: “Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh, sedangkan beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi.” (Al-Bukhari dan Muslim).
2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata kepadanya: “Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyiram air di atas kepalanya, padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas”. (HR Ahmad, Malik dan Abu Dawud).
3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berbekam, sedangkan beliau dalam keadaan puasa. (HR al-Bukhari).
4. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, adalah Rasulullah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium (istrinya), sedangkan beliau dalam keadaan puasa; dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh), sedangkan beliau dalam keadaan puasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. (HR al-Jama'ah, kecuali Nasa'i. Hadits sahih).
5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuj: “Sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah Radhiyallahu 'anha Wanita itu bertanya,'Sesungguhnya suami saya mencium saya sedangkan kami dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu?' Maka ia menjawab,'Adalah Rasulullah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium saya sedangkan kami dalam keadaan puasa'.” (HR al-Thahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan syarat Muslim).
6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah, sesungguhnya Nabi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu beristinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan berpuasa. (HR Ashhabus-Sunan).
7. Perkataan Ibnu Abbas: Tidak mengapa orang yang berpuasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya. (Ahmad dan al-Bukhari).
8. Barang siapa lupa, lalu makan atau minum, maka hendaknya terus berpuasa, karena sesungguhnya ia diberi makan atau minum oleh Allah. (HR al-Bukhori).
9. Barang siapa yang muntah tidak sengaja, maka tidak wajib qadha'. Dan barang siapa yang muntah dengan disengaja, maka wajib mengqadha. (HR al-Tirmidzi).
10. Bersiwak (gosok gigi dengan siwak) asal tidak menggunakan siwak yang telah dicampur zat lain, seperti siwak hijau, ataupun yang mempunyai rasa tambahan, seperti rasa lemon dan menthol.

Dari penjelasan di atas, terdapat pelajaran bahwa hal-hal tersebut boleh dilakukan dan tidak membatalkan puasa.
1.    Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun lantaran udara panas, demikian pula menyelam ke dalam air pada siang hari.
2.    Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh.
3.    Berbekam pada siang hari.
4.    Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.
5.    Beristinsyak (menghirup air ke dalam hidung) terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya.
6.    Disuntik pada siang hari.
7.    Mencicipi makanan asal tidak ditelan.
8.    Makan atau minum karena lupa.
9.    Muntah tidak dengan sengaja.
10.    Bersiwak.
 
 
Beberapa Hukum Puasa Bagi Wanita

1. Anak perempuan baru baligh (haidh), kemudian karena malu ia tidak berpuasa, maka ia wajib bertobat dan mengganti puasa yang ditinggalkannya, sekaligus memberi makan seorang miskin setiap hari puasa yang ditinggalkannya sebagai kaffarat atas puasa yang ditinggalkannya apabila hingga datang Ramadhan berikutnya ia belum mengqadha'.

2. Seorang isteri hendaklah tidak melakukan puasa (selain puasa Ramadhan) bilamana suaminya ada di sisinya kecuali dengan izinnya.

3. Wanita haidh apabila telah melihat cairan kental putih yang diketahui oleh setiap wanita sebagai tanda haidh sudah bersih, maka ia berniat puasa semenjak malam hari. Jika wanita belum bisa mengenal tanda kesuciannya, hendaklah ia mencolekkan kapas atau semisalnya pada vaginanya. Jika kapas itu bersih, berarti ia telah suci dan harus berpuasa. Kemudian, apabila darah haidh berulang lagi, maka ia berbuka, sekalipun darah yang keluar sedikit atau berupa warna keruh, karena hal itu membatalkan puasa selagi keluarnya masih pada hari atau masa haidh.

4. Wanita yang telah mengetahui kebiasaan waktu datang haidhnya pada esok hari, maka ia tetap berpuasa dan tidak boleh membatalkan sebelum melihat adanya darah.

5. Yang afdhal bagi wanita haidh adalah membiarkan kebiasaan haidhnya dan rela terhadap ketetapan Allah terhadap dirinya, tidak melakukan sesuatu untuk mencegah haidhnya.

6. Darah istihadhah tidak mempengaruhi sahnya puasa.

7. Pendapat yang kuat, bahwasanya wanita hamil dan menyusui itu diqiaskan kepada orang sakit. Dia boleh berbuka (tidak puasa) dan kewajibannya hanyalah qadha' Rasulullah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memberikan keringanan puasa dan separuh shalat bagi musafir, dan puasa bagi wanita hamil dan wanita menyusui”. (Diriwayatkan oleh al-Tirmidzi).

8. Apabila seorang isteri sedang berpuasa disetubuhi oleh suaminya pada siang hari atas dasar keridhaannya, maka hukumnya sama dengan suaminya. Adapun kalau ia dipaksa, maka isteri wajib menolaknya dengan serius, dan ia tidak wajib mambayar kaffarat.

Mengomentari tentang suami yang menyetubuhi isterinya pada siang hari Ramadhan, sedangkan istri sedang tidur, maka Ibnu Uqail Rahimahullah berkata, “Isteri tidak wajib membayar kaffarat. Namun sebagai sikap hati-hati, sebaiknya isteri mengganti puasa hari itu pada lain hari nanti. Apabila seorang wanita telah memulai malakukan qadha' terhadap puasanya, maka ia tidak boleh membatalkannya tanpa udzur syar'i, dan sang suami tidak boleh menyuruhnya berbuka saat isteri sedang mengqadha'. Juga tidak ada hak baginya untuk menyetubuhi istrinya. (Diriwayatkan oleh al-Bukhori).

 
Hukum Jima' pada Siang Hari Bulan Ramadhan
Diharamkan melakukan jima' (bersenggama) pada siang hari bulan Ramadhan. Barang siapa yang melanggar, ia harus meng-qadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat), yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika tidak mendapatkan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin; dan jika tidak mampu, maka bebaslah ia dari kafarah itu. Firman Allah Ta'ala: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Al-Baqarah ayat 285). Lihat kitab Majalisu Syahri Ramadhan, hlm. 102-108.


Maraji "ILMU MENYAMBUT RAMADHAN" oleh al-Ustadz Musthofa al-Mashri, Lc (pernah dimuat di Majalah Fatawa Vol V Vol 08 Tahun 2009). Dengan sedikit peng-editan dari Redaksi
 
 
 



Berita Terkait