Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

Untuk Itu, Aku Tak Mau...

Abu Bassam | Senin, 14 September 2015 - 11:15:30 WIB | dibaca: 2793 pembaca

Salah satu ciri istri shalihah adalah yang taat pada perintah suaminya, khususnya dalam hal yang mubah dan disyariatkan. Jika dalam perkara yang disyariatkan, tentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnya, karena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya, seperti kewajiban shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, memakai jilbab, dan lain-lain. Maka untuk hal ini, seorang hamba tidak boleh meninggalkannya, karena meninggalkan perintah Allah Ta'ala adalah  dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubah, jika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakan sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya bila suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumah, berusaha mengatur keuangan keluarga dengan baik, membantu pekerjaan suami, atau berusaha tampil menarik.

Kewajiban untuk menaati suami itu akan gugur bila suami menyuruh istrinya melakukan suatu kemaksiatan yang dilarang dalam Islam.
Seorang istri tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan, meskipun ia sangat mencintai suaminya. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka kewajiban mematuhi Allah jauh lebih besar. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kita, kemudian mengikat tali cinta di antara kita berdua.

Namun, bukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kita, tetapi cobalah untuk menasihatinya dan berbicara dengan lemah lembut, siapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasihati. 

Nah, berikut ini beberapa contoh perintah suami yang wajib untuk tidak ditaati:

1. Menyuruh berbuat syirik.

Jangan sampai menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukun, menyuruh mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan, bermain zodiak, dan lain-lain. Ketahuilah saudariku, syirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezhaliman yang paling besar. Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Dialah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah pengkhianatan yang sangat besar!

2. Menyuruh melakukan bid'ah

Istri  juga harus menolak, jika suami memerintahkan untuk mengerjakan amalan (yang dianggap ibadah)  yang tidak ada dasarnya dari al-Quran dan al-Sunnah. Misalnya, untuk mengadakan acara mitoni (selamatan tujuh bulan bayi dalam kandungan), selamatan kematian, atau menghadiri peringatan maulid nabi. Beberapa amalan itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah, sehingga mereka pun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, jika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkannya, maka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dengan halus serta menasihati suaminya.

3. Memerintah untuk melepas jilbab

Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnya, maka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apa pun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan, hal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatan, tidak khawatir timbulnya fitnah, serta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri, yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam dijelaskan dalam surat Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggar, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

4. Mendatangi istri ketika haid atau dari dubur

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, 
“…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (Riwayat Muslim)
Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apa pun. Walaupun begitu, Islam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubur, juga tidak boleh melakukan jima' saat istri haid.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ 

“Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnya, atau mendatangi dukun maka sesungguhnya ia telah mengingkari apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (Riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi dari hadits Abu Hurairah). 
 
Berjima' boleh dari depan atau belakang, asalkan tetap di farji (kemaluan).
Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur, hendaknya sang istri menolak dan menasihatinya dengan cara yang hikmah. Begitu pula ketika istri sedang haid, persilakan suami melakukan apa saja, asal jangan yang satu itu....

sumber: Majalah FATAWA Vol V No 05 



Berita Terkait