Berita Bin Baz

TAKLIM USTADZ FARIQ GAZIM ANUZ DI ICBB 2017

Abu Bassam | Sabtu, 28 Januari 2017 - 10:40:37 WIB | dibaca: 2351 pembaca

(ICBB-YOGYA) Telah berlangsung Taklim atau Kajian Bersama Ustadz Fariq Gasim Anuz Hafizhahullahu Ta'ala di Masjid Islamic Centre Bin Baz (ICBB) Yogyakarta (Sabtu, 28/1). Kajian dimulai jam 07.30 sampai dengan 08.30 wib dengan moderator Akhuna Rajendra.

Pada taklim kali ini Ustdaz Fariq Gasim Anuz Hafizhahullah menyampaikan materi "Taubat Dari Dosa Tersembunyi" yang juga merupakan judul buku tulisan Beliau. Ketika menyampaikan materi ini dihadapan para santri dan Asatidzah ICBB, Ustdaz Fariq Gasim Anuz banyak mengambil dari kisah-kisah nyata tentang dosa tersembunyi yang penuh hikmah agar dapat diambil ibroh. Terlihat atusiasme para santri ketika mendengarkankajian ataupun ketika mengajukan pertanyaan.

Berikut ini kutipan dari muqoddimah kajian beliau:

MUQADDIMAH:

Beberapa waktu lalu, Ustadz menerima telepon dari seseorang yang menceritakan kegalauan hatinya. Ia sering melakukan dua macam dosa ketika menyendiri. Ia meminta nasehat dan saran agar bisa terlepas dari jeratan dan lilitan dosa yang selama ini sering ia lakukan. Saran dan nasehat pun telah disampaikan
secara singkat.

Tidak berapa lama kemudian, ia menulis surat yang isinya,
“… Apakah dibolehkan bagi saya untuk meminta menyegerakan kematian kepada Allah? Pertanyaan tersebut muncul karena:

1) Saya sudah merasa putus asa terhadap diri saya sendiri karena tidak mampu meninggalkan maksiat tersebut (dua hal yang pernah saya jelaskan sebelumnya). Saya melihat kematian bisa menghentikan saya dari melakukan maksiat tersebut. Sudah banyak sekali cara yang saya tempuh untuk sekadar mengurangi intensitas maksiat tersebut, namun hasilnya tidak maksimal. Tetap saja terulangi kembali. Taubat pun sudah berkali-kali, namun kerap kali terulang kembali. Saya benar-benar sudah merasa bingung dan putus asa atas maksiat ini.

2) Saya mendapatkan hadits seperti ini: “Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa
ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa, ‘Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah
aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.’” (HR. Bukhari dan Muslim). Saya mengambil kesimpulan bahwa boleh meminta kematian karena
sebab saya pun bukan karena kesengsaraan dalam hal duniawi.

Hal lain yang membuat saya makin takut adalah hadits berikut: Dari Tsauban, dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, “Sungguh aku mengetahui
suatu kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan banyak kebaikan semisal Gunung Tihamah yang putih. Namun Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.” Tsauban berkata, “Wahai Rasulullah, tolong sebutkan sifat-sifat mereka pada kami supaya kami tidak menjadi seperti mereka tanpa kami sadari.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Adapun mereka adalah saudara kalian. Kulit mereka sama dengan kulit kalian. Mereka menghidupkan malam (dengan ibadah) seperti kalian. Akan tetapi mereka adalah kaum yang jika bersepian mereka merobek tirai untuk bermaksiat pada Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 4245. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Seperti yang antum ketahui, maksiat yang saya lakukan adalah model maksiat yang dilakukan saat bersendirian. Saya takut bahwa semakin lama saya hidup, semakin banyak maksiat itu saya lakukan dan semakin banyak pula kebaikan yang terhapus. Sejauh ini saya belum bisa menghentikan bahkan mengurangi maksiat tersebut. Karena itulah saya berfikir kematian lebih baik bagi saya untuk menghentikan diri ini dari maksiat tersebut.

Dua hal itulah yang mendasari pertanyaan di atas. Sebagai tambahan informasi bahwa saya benar-benar tidak sedang mengalami kesengsaraan secara duniawi.
Jadi, pertanyaan di atas timbul benar-benar karena saya takut akan semakin banyaknya maksiat yang akan saya lakukan. Selama ini saya tetap berusaha untuk beramal shalih yang saya bisa, baik amalan sunah maupun wajib dari shalat, zakat, puasa, bakti kepada kedua orang tua dan lainnya. Saya tahu bekal saya masih sangat-sangat kurang. Saya tahu ada yang salah pada diri ini, tapi saya tidak tahu apa yang salah, dimana letaknya, dan bagaimana mengatasinya? Karena itu saya memohon penjelasan dari antum terhadap pertanyaan dan latar belakang adanya pertanyaan tersebut.

Itulah isi suratnya, sungguh hati ini terharu mem-bacanya. Mungkin problem di atas adalah masalah yang dialami oleh banyak orang termasuk diri kita sendiri, karena kita sebagai manusia tak luput dari dosa. Iman kadang naik, kadang turun.

JAWABAN:

Ustadz Fariq Gasim Anuz Hafizhahullah kemudian menyampaikan:

Yang pertama: dibahas adalah HUKUM MEMINTA MATI boleh atau tidak ?

Beliau kemudian membacakan sebuah hadits:

“Sekali-kali jangan ada seorang pun di antara kalian yang menginginkan mati sebab musibah yang menimpanya. Kalaupun terpaksa menginginkannya, maka bedo'alah: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika mati lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

kemudian Ustadz menjelaskan intinya kita tidak boleh meminta kematian karena musibah dunia. Meminta kematian saja tidak boleh karena dia menganggap atau telah memastikan kematian lebih baik baginya, yang boleh adalah berdoa seperti:
“Ya Allah, hidupkanlah aku jika hidup lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika mati lebih baik bagiku.”

Yang kedua: Jangan kita putus asa dari ampunan Allah, karena syaithon berusaha agar kita putus asa dari ampunan Allah. kemudian Ustadz menceritakan kisah Taubatnya Orang yang telah mebunuh 99 orang.

Untuk lebih lengkapnya materi kajian Ustadz Fariq Gasim Anuz Hafizhahullah ini, insyaa Allah akan kami up load setelah proses editing selesai. Semoga kita semuanya dijauhkan dari segala macam dosa baik yang tersembunyi dan yang terang-terangan. Aamiin.

Barakallahu fiikum.
 



Berita Terkait