Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

TAFSIR SURAT QURAISY (bagian 02)

Abu Bassam | Senin, 23 Januari 2017 - 09:36:30 WIB | dibaca: 1253 pembaca

oleh: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان


Kita lanjutkan dari tafsir Juz'amma, melanjutkan membahas surat Quraisy.

Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan kenikmatan yang lain setelah itu.

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

"Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan."

Ini merupakan nikmat yang luar biasa yang Allah berikan kepada orang-orang Quraisy.

Mereka tidak pernah kelaparan di kota Mekkah. Padahal kota Mekkah tidak ada apa-apa, lembah kering tanpa ada tumbuhan, sungai dan lautan. Namun mereka tidak pernah kelaparan.

Kemudian mereka tidak takut, tidak ada ketakutan. Barang siapa yang memasuki kota Mekkah akan merasa aman, Orang-orang menghormati kota Mekkah, orang-orang menghormati Ka'bah.

Ini adalah nikmat. Dan kita tahu bahwasanya kalau seseorang hanya memiliki harta yang banyak namun tidak ada keamanan maka dia tidak akan tentram.

Kapan seorang dikatakan tentram?

Kalau kebutuhan duniawinya terpenuhi dan dia merasa aman.

Oleh karenanya, benar sabda Nabi Shallallahu 'alayhi wa sallam :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Barangsiapa dipagi hari dia merasa aman dirumahnya, kemudian tubuhnya sehat tidak ada gangguan pada tubuhnya, kemudian ada makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia sesungguhnya telah diberikan kepada dia."

(Hadits riwayat Tirmidzi nomor 2346)

Ini adalah hakikat ketentraman. Karenanya ketentraman, ketenangan, keamanan, mahal harganya.

Kita bisa melihat bagaimana suatu negara kalau sudah tidak ada ketentraman, ketenangan, pasti terjadi kekacauan. Semua orang berani bertindak, pemerintah sudah tidak di hargai, semua orang main hakim sendiri.

Tatkala sudah tidak ada kestabilitas keamanan maka suatu negara akan merasa tidak tentram, meskipun dia punya penghasilan tinggi. Tapi bila keamanan tidak ada maka dia tidak akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan.

Oleh karenanya, diantara nikmat Allah kepada negara Arab Saudi adalah Allah kumpulkan antara kemudahan dunia dan keamanan. Dan kita berharap agar Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjaga ketentraman di Al Haramain, di tanah suci Mekkah dan kota Madinah. Dan juga kepada negeri-negeri kaum Muslimin yang lainnya.

Jangan terperdaya dengan sebagian orang yang maunya ribut saja. Dia menyangka bahwa itu adalah kebaikan akan tetapi itu bukan kebaikan.

Alhamdulillah dengan ketenangan, ketentraman, kita bisa berdakwah kita, bisa menyebarkan Islam dalam ketenangan dan ketentraman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat ini:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

"Sembahlah pemilik Ka'bah ini."

Bukan menyembah Ka'bah.

Disebutkan dalam satu riwayat, ada seorang datang masuk ke Ka'bah. Kemudian dia heran tatkala melihat orang-orang thawaf di Ka'bah, ada yang mencium hajar Aswad. Maka terbetik dalam hatinya, Iblis membisikan dalam hatinya, "Lihat mereka menyembah batu, Jahiliyah."

Maka seakan-akan ada orang menepuk dia lalu mengatakan:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

"Sembahlah pemilik Ka'bah."

Bukan Ka'bah nya yang di sembah.

Disebutkan juga ada seorang ulama yang pernah memberikan pengajian dimasjidil Haram, kemudian dia sering mengatakan (dia beristiqhasah dengan Ka'bah):

"Ka'bah, tolonglah aku."

Maka didengarlah oleh seorang ulama yang lain dan dia ingin menasehati ulama ini yang mungkin lepas kontrol sehingga menyeru kepada Ka'bah, seakan-akan bisa meminta pertolongan kepada Ka'bah.

Maka orang ini berpura-pura tidak tahu dan ingin belajar Al Quran. Dia mengatakan:

"Saya ingin membacakan Al Quran dihadapanmu, kalau salah tolong diperbaiki."

Maka dia mulai dari Juz Amma. Satu persatu dia baca dan didengar terus oleh orang alim ini. Sampai akhirnya tiba pada surat Quraisy, namun dia sengaja merubah bacaannya, dia mengatakan:

فَلْيَعْبُدُوا هَٰذَا الْبَيْتِ

"Sembahlah Ka'bah ini."

Maka orang alim tadi mengatakan salah dan mengatakan:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

"Sembahlah pemilik Ka'bah ini, Tuhannya Ka'bah ini."

Orang ini mengulang-ulang bacaan:

فَلْيَعْبُدُوا هَٰذَا الْبَيْتِ

"Sembahlah Ka'bah ini."

Lalu ditegur lagi oleh orang alim ini bahwa bacaannya salah. Akhirnya orang ini mengatakan:

"Tadi saya dengar saat pengajian, engkau mengatakan minta tolong kepada Ka'bah."

Akhirnya orang alim ini pun sadar bahwasanya yang disembah bukanlah Ka'bah karena Ka'bah hanyalah sebuah batu yang tidak bisa beri manfaat dan mudharat.

Dan sering saya sampaikan batu termulia dialam semesta ini adalah hajar Aswad. Bahkan disebutkan dalam suatu riwayat bahwa hajar Aswad turun dari Surga. Tidak ada sesuatu yang dicium bernilai ibadah dan mendapatkan pahala kecuali mencium hajar Aswad.

Meskipun demikian, tatkala Umar Bin khathab radhiyallahu Ta'ala 'anhu mencium hajar Aswad, dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim, Umar bin Khathab mengatakan:

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

"Wahai Hajar Aswad, saya tahu kamu hanyalah sekedar batu. Tidak bisa memberi manfaat dan juga memberi mudharat. Kalau bukan karena saya melihat Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mencium kamu, saya tidak akan mencium kamu."

(Hadits riwayat Muslim nomor 1270)

Kita mencium hajar Aswad karena Nabi pernah mencium hajar Aswad, sebagaimana kita sujud ditanah karena Nabi sewaktu shalat sujud di tanah. Kita mencium hajar Aswad  bukan karena hajar Aswad tersebut mengalir barakah, seperti yang sakit menjadi sehat atau yang lainnya.

Oleh karenanya Umar mengatakan, "Kamu tidak bisa memberi manfaat atau memberi mudharat."

Dan tahukah anda, bahwasanya Ka'bah dahulu pernah direnovasi oleh orang-orang kafir Quraisy.

Yang membangun Ka'bah adalah orang-orang kafir Quraisy. Mereka mencari batu-batu, mereka pikul lalu mereka membangun Ka'bah, karena Ka'bah hanyalah simbol, bukan sesuatu yang memberikan kemudharatan maupun memberi manfaat.

Kalau hajar Aswad batu yang paling mulia tidak memberi manfaat dan tidak memberi mudharat, bagaimana batu-batu yang lainnya?

Yang dijadikan jimat, batu akiq dan yang lainnya yang merupakan khurafat.

Yang menjadi masalah, seorang kyai menjual jimat dan semakin mahal harganya karena yang jual seorang kyai. Ini yang menyedihkan, menyedihkan kaum muslimin ditanah air kita.

Sampai saya baru mendengar kabar, ada jama'ah umrah dari Indonesia memotong kiswah Ka'bah, untuk apa memotong kiswah Ka'bah?

Oleh karenanya, kita katakan yang kita sembah bukan batu, sebagaimana tuduhan orang-orang kufar, "Lihatlah bagaimana kaum Muslimin Jahiliyah menyembah batu."

Kita katakan tidak! Yang kita sembah bukan batu melainkan yang punya Ka'bah yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ini tadi isi dari surat Quraisy yang intinya, tatkala seseorang diberikan kenikmatan, kemudahan, oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala maka wajib bagi dia untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sebagaimana Allah menyatakan kepada orang Kafir Quraisy, "Kalian diberikan keamanan, kemudahan dan rejeki, oleh karenanya sembahlah Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Diantara bukti seorang bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kalau dia tidak beribadah kepada Allah, mana buktinya dia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Demikialah yang dapat disampaikan pada kesempatan kali ini, In sya Allah besok kita lanjutkan tafsir surat yang lain.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


--------------------------------------------
Via Group WA BiAS (BimbinganIslam.com)

Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0302
--------------------------------------------



Berita Terkait