Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

TAFSIR SURAT AL KAUTSAR

Abu Bassam | Sabtu, 04 Februari 2017 - 09:42:31 WIB | dibaca: 5174 pembaca

oleh: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوان



Kita lanjutkan tafsir Juz'amma. Kita akan membahas surat Al Kautsar. Surat ini adalah salah satu surat yang terpendek, terdiri atas 3 ayat.

Para ulama khilaf (berbeda pendapat) tentang surat ini, apakah surat ini surat madaniyyah atau makkiyyah.

Kenapa dikatakan surat makkiyyah?

Karena surat ini sebab (nuzul) turunnya adalah adanya cercaan orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Allah buka firman-Nya dengan:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

"Sesungguhnya kami telah memberikan kepada engkau Al Kautsar."

Dan sering saya ucapkan bahwasanya diantara metode bahasa Arab untuk menunjukan pengagungan adalah digunakan kalimat "kami" (إِنَّا), tidak menunjukan Allah itu ganda, tidak!

Dan ini merupakan uslub (metode) dalam bahasa Arab. Jangan kita dengar perkataan orang-orang Nasrani yang tidak mengerti tentang bahasa Arab. Seandainya إِنَّا itu maknanya Allah itu ganda maka orang-orang musyrikin sudah akan mencerca Nabi.

Tapi orang-orang musyrikin, mereka ahli bahasa Arab, mereka tidak pernah mencela, seperti mengatakan:

"Loh, Tuhanmu banyak? Karena kamu mengatakan إِنَّا أَعْطَي ."

Mengapa demikian? 

Karena mereka paham bahwa kata "kami" itu maksudnya pengagungan. Dan ini juga digunakan dalam bahasa Indonesia.

Tatkala kita ceramah, kita bilang, "Kami telah melakukannya," padahal "saya" maksudnya.

"Kami" adalah untuk pengagungan, karena Allah mengatakan:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَد*

"Katakanlah Allah Maha Esa."

Sehingga:

   إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Artinya:

"Kami telah memberikan engkau (wahai Muhammad), Al Kautsar."

Surat ini intinya adalah untuk pemulyaan terhadap Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam.

Al Kautsar berasal dari wazan  فَوْعَلْ.

Sebagian ulama mengatakan, seperti disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Katsir, al kautsar diambil dari kalimat katsrah (banyak). Jadi al kautsar maknanya adalah "kebaikan yang banyak", kebaikan yang banyak secara umum.

Pendapat kedua mengatakan, secara khusus al kautsar adalah sungai di surga,karena banyak hadits menunjukan akan hal ini.

Nabi  shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda: 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ

Dari Anas, ia berkata:

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam pernah terdiam kemudian Rasulullah bangun sambil tertawa..

Maka para shahabat bertanya:

"Apa yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah?"

Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam berkata:

"Baru saja turun kepadaku suatu surat.”
 
(Lalu Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam membacakan surat ini, Kautsar)

Kemudian beliau berkata:

“Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?”

Para shahabat berkata:

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

Kata Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam:

"Ia adalah sungai yang Allah janjikan untukku... (dst)."

(HR Muslim)

Disebutkan dalam riwayat yang lainnya, sungai tersebut mengalir diatas "yaqut wal marjan". Jadi di bawahnya bukan pasir melainkan mutiara dan permata.

Kemudian sungai tersebut mengalirnya bukan di dalam lubang tetapi di atas.

Para ahli tafsir menyebutkan perkataan salaf, bahwasanya "anharu jannah tajri min ghairi uhdud" (sungai-sungai di surga itu mengalir tanpa ada lubang, mengalirnya diatas tanpa lubang). Ini adalah perbedaan sungai di dunia dengan sungai akhirat.

Kemudian di samping-sampingnya ada emas dan perak, ini ciri sungai al kautsar.

Kemudian dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam menyebutkan bahwa dari sungai al kautsar tersebut ada aliran yang menuju al haudh (danau/telaganya) Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Dan telaga Nabi  Shallallahu 'alayhi wa sallam  airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada madu.

Kemudian di dalam telaga tersebut banyak cangkir-cangkir yang jumlahnya seperti bintang di langit, bercahaya. Barangsiapa yang minum dari telaga Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam maka dia beruntung.

Semoga kita termasuk orang-orang yang minum dari telaga Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Karena Nabi menyebutkan, ada sebagian umatnya yang datang menuju ke telaga, kemudian diusir,  kata Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam:

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ لِي رِجَالٌ مِنْكُمْ، ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي، فَيُقَالُ لِي: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Aku akan mendahului kalian di al haudh. Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata:

"Ya Allah, mereka adalah orang yang saya tahu ya Allah"

(Dalam riwayat lain: "Umati...... umati, " mereka adalah umat-umatku.)

Kata Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Wahai Muhammad, engkau tidak tahu yang mereka lakukan setelah kematianmu, sungguh mereka telah merubah dan telah mengadakan penggantian dan perubahan."

(Hadits shahih Ahmad 4180 dan Bukhari 6576)

Ini adalah dalil yang sangat kuat bahwasanya Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam tidak mengetahui apa yang akan terjadi setelah Beliau meninggal dunia.

Oleh karenanya pernyataan orang-orang ahli khurafat yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam masih bergentayangan ruhnya atau bisa keluar dari kuburannya ini semua adalah khurafat.

Kalau jasad Nabi masih bisa keluar bahkan ikut acara maulid Nabi bahkan dikatakan jika ada 10 acara maulid maka Nabi hadir pada semuanya, dari mana seperti ini?
Jika demikian berarti Nabi tahu ada perubahan-perubahan di alam semesta setelah beliau meninggal. Beliau tahu Si Fulan jadi munafik, Si Fulan jadi kafir. 

Padahal Allah mengatakan:

"Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah engkau meninggal, wahai Muhammad."

Tapi mereka (ahli khurafat) mengatakan bahwa Nabi tahu. Bahkan pendiri thariqat tijaniyyah (Ahmad At Tijani) mengatakan pernah ngobrol dengan Nabi dan mengambil ilmu langsung dari Nabi setelah Nabi meninggal dunia. Bahkan sebagiannya mengatakan bukan hanya dengan ruh Nabi tapi bahkan dengan jasad Nabi.

Seperti ada orang "bahlul" dari Banjarmasin yang mengatakan bahwa dia datang ke masjid Nabawi (tahun 2000 an), tiba-tiba kuburan nabi bergoyang dan nabi keluar kemudian mencium lutut dia. Ini adalah orang bahlul, yang membenarkan dia juga lebih "bahlul".

Bagaimaimana Nabi bisa keluar? Kubur Nabi ditutup dengan tiga tembok kemudian tembok besi hijau yang terakhir.

Kemudian banyak askar, kalau kuburan Nabi goyang pasti akan terjadi kehebohan tingkat dunia.
 
Ini adalah orang khurafat dan pengikutnya lebih khurafat lagi dari pada dia.

Kalau Nabi tahu masa depan setelah Beliau meninggal, kenapa para shahabat waktu terjadi khilaf diantara para shahabat, mereka tidak datang ke kuburan Nabi dan mengatakan:

"Wahai Rasulullah, ada khilaf antara Muawiyyah dan Ali, bagaimana solusinya, wahai Rasulullah?"

Tidak ada!

Tidak ada dalam sejarah para shahabat ngobrol bersama Nabi (setelah beliau meninggal) untuk mencari solusi, tidak ada! Namun orang-orang membuat khurafat, membuat thariqat, mengatakan dapat ilmu langsung dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, dapat dzikir khusus dari Nabi. 

Subhanallah.

Dzikir yang Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali tidak mengetahui akan tetapi ini orang "bahlul" tahu, Subhanallah.

Demikianlah kebodohan yang ditunggangi kebodohan dan orang-orang pun mengikuti kebodohan tersebut.

Dilariskan dengan jaminan-jaminan tertentu dengan khurafat-khurafat tertentu dengan kesaksian-kesaksian tertentu maka laku, Kenapa?

Karena Jin berperan.

Sebagaimana Nabi Muhammad (tidak tahu yang akan terjadi), Nabi Isa pun demikian.

Allah sebutkan dalam Al Qur'an, Allah mengatakan:

يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ

"Wahai Isa apakah engkau pernah memerintahkan kepada murid-muridmu untuk menjadikan engkau dan ibumu sebagai Tuhan selain Allah?"


(QS Al Maidah: 116)

Nabi Isa mengatakan:

"Tidak Ya Allah, tidak pernah saya mengatakan demikian."

Kata Nabi Isa:

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيد

"Wahai Allah tatkala saya masih hidup, saya menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan, tetapi setelah saya meninggal dunia engkau yang menjadi saksi."


(QS Al Maidah: 117)

Ini nabi Isa, tatkala beliau meninggal dunia, beliau tidak tahu apa-apa tentang umatnya,

Bagaimana orang mengatakan, bahwa wali yang sekarang sudah meninggal, dia tahu apa yang kita lakukan. Oleh karenanya kita beristighasah kepada wali: "Wahai wali Fulan, wahai sunan Fulan!"

Nabi Isa saja tidak tahu yang terjadi dengan umat ini, begitu pula Nabi Muhammad, lalu bagaimana wali-wali mengetahui apa yang terjadi sekarang? Kemudian kita meminta tolong kepada dia, dimana otak kita untuk berpikir?

Jadi kautsar adalah sungai yang Allah berikan kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam. Sungai yang sangat indah. Kemudian dari alirannya mengalir menjadi danau, telaga Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam yang barangsiapa telah minum dari telaga tersebut maka dia telah beruntung.

Kemudian, kata Allah Subhanahu wa Ta'ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

"Shalatlah hanya untuk Rabbmu dan sembelihlah hanya untuk Rabbmu."

Ini dua ibadah yang sangat agung yang sering Allah gandengkan, antara shalat dengan menyembelih, dua-duanya merupakan bukti tauhid.

Allah mengatakan, "Fashalli lirabbika (shalatlaha hanya untuk Allah), wanhar lirabbika kadzalik (demikian pula sembelihlah hanya untuk Allah saja)."

Oleh karenanya ketika kita menyembelih kita mengatakan, "Bismillah," hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalam ayat yang lain Allah mengatakan:

 إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Sesungguhnya shalatku dan sesembelihanku hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala."

(QS Al An'am: 162)

Oleh karenanya, barangsiapa yang menyembelih kepada selain Allah maka dia terjerumus kedalam kesyirikan.

Kata Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam :

لَعَنَ اللهُ مَن ذَبَحَ لِغَيرِ الله

"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wa Ta'ala."

(Hadits riwayat Muslim)

Barangsiapa yang menyembelih untuk jin, wali, sunan, penunggu gunung, nyi roro kidul, maka dia telah melakukan kesyirikan.

Penyembelihan hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karenanya, luar biasa ketika kita berhaji, seluruh orang menyembelih hewan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Tatkala haji, tauhid sangat nampak. Nanti sepulang haji sebagian orang kembali lagi melakukan kesyirikan.

Antum lihat, bagaimana jalan dari Mekkah menuju Madinah sepanjang 400 km lebih. Pemerintah Saudi banyak membelah gunung untuk dijadikan jalan. Bahkan di Mina, gunung dilubangi menjadi terowongan. Tidak ada satu telurpun yang dipecahkan dalam rangka untuk menjaga gunung, tidak ada!

Akan tetapi di Indonesia, baru membuat jembatan sudah memerlukan 8 ekor kambing. Membangun rumah perlu 3 ekor ayam untuk disembelih. Bagimana bila melubangi gunung, perlu berapa kerbau? Ini lah kenyataan yang ada ditanah air kita.

Oleh karenanya Allah mengatakan, "Fashalli lirabbika (sembahlah Allah saja/sujudlah kepada Allah saja)." Dan, "Wanhar (dan menyembelihlah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala)."

Kemudian, kata Allah Subhanahu wa Ta'ala:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

"Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, mencelamu dialah yang telah terputus."

Dengan dasar ayat inilah sebagian ulama mengatakan bahwasanya surat ini adalah surat makkiyyah.

Karena disebutkan sebagian orang-orang Quraisy tatkala anak Nabi  shallallahu 'alayhi wa sallam yang bernama Qassim meninggal dunia, yang menunjukan nabi tidak punya keturunan laki-laki, maka mereka mengatakan, "Selesai urusan, Nabi abtar (terputus)."

Karena seorang tidak mungkin jaya kecuali kalau punya anak banyak. Dia akan meneruskan perjuangan bapaknya. Ternyata anak Nabi yang laki-laki semuanya meninggal dunia maka mereka mengatakan, "Muhammad akan selesai urusannya."

Kata Allah: "Inna syaniaka huwalabtar (dia yang mencela yang akan terputus)."

Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sekarang namanya indah. Semua orang menyebutnya dan tidak pernah berhenti sebutan Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam diatas alam dunia ini.

Setiap saat ada orang shalat, setiap saat ada orang bershalawat, setiap saat dikumandangkan adzan selalu ada: "Asyhadu ala ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarasulullah." Setiap detik tidak ada penyebutan Nabi yang hilang, akan selalu ada disebut Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam. Allah tinggikan.

Sedangkan orang-orang pencela nabi Muhammad sudah hilang, hilang dalam sejarah, tidak ada yang kenal. Dan ini adalah bentuk pemuliaan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam.

Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, In sya Allah besok kita lanjutakan tafsir surat yang lain.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
 الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته


----------------------------------------    
Via Group WA BiAS (BimbinganIslam.com)


Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0306         
 
    



Berita Terkait