Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

TAFSIR SURAT AL `ASHR (BAGIAN 1)

Abu Bassam | Minggu, 02 April 2017 - 10:34:42 WIB | dibaca: 3980 pembaca

Oleh: Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA Hafizhahullah

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى عليه وعلى آله وأصحابه وإخوانه


Alhamdulillah kita sudah sampai pada tafsir surat Al 'Ashr, surat yang ringkas dan padat namun memiliki makna yang sangat dalam.

Para ahli tafsir diantaranya Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di awal tafsir beliau tentang surat Al 'Ashr:

Datang Amr bin Ash radhiyallahu Ta'ala 'anhu. Dia datang menemui Musailamah Al Kadzab  yang mengaku sebagai nabi baru.

Tatkala beliau bertemu dengan Musailamah Al Kadzab, maka Musailamah Al Kadzab bertanya kepada Amr bin Ash (dia tahu bahwa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam sering diturunkan kepadanya surat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala):

"Apakah dimasa sekarang ini ada surat yang diturunkan kepada sahabat kalian (maksudnya Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam)?"

Maka Amr bin Ash radhiyallahu Ta'ala 'anhu menjawab:

"Na'am (benar), telah diturunkan kepadanya suatu surat yang ringkas namun sangat dalam maknanya."

Kemudian Amr bin Ash membaca surat tersebut.

وَالْعَصْرِ *
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ *
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر


⑴ Demi masa,
⑵ Sesungguhnya seluruh manusia dalam kerugian,
⑶ Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling nasehat menasehati (wasiat mewasiatkan) di dalam melaksanakaan kebenaran dan saling wasiat mewasiatkan (nasehat, menasehati) dalam kesabaran.


(Apa yang dilakukan oleh Musailamah Al Kadzab tatkala mendengar surat ini? )

Maka diapun terdiam sebentar (dia berpikir sebentar).

Dia (Musailamah Al Kadzab) kemudian berkata:

"Saya juga diturunkan surat."

(Bukan hanya Nabi Muhammad saja yang diberi surat tersebut, saya juga di beri surat yang lain.)

Maka Amr bin Ash berkata:

"Mana surat yang diturunkan kepadamu?"

Maka Musailamah Al Kadzab pun mengatakan yang artinya:

"Wahai marmut, sesungguhnya engkau itu dua telingga yang besar dan dada."

(Sama dengan: وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ dia (Musailamah Al Kadzab) mempunyai surat yang lain)

Kemudian dia bertanya kepada Amr bin Ash:

"Bagaimana menurutmu, wahai Amr bin Ash, surat yang turun kepadaku?"

Amr bin Ash berkata:

"Wahai Musailamah, Wallahi, sesungguhnya engkau sungguh tahu, bahwa saya ini tahu engkau itu adalah pendusta."

⇒ Ini disebutkan oleh ahli tafsir diantaranya Ibnu Katsir rahimahullah tentang surat Al Ashr.

Adapun surat Al Ashr adalah surat Makiyyah, yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi  shallallahu 'alayhi wa sallam  tatkala Nabi di Mekkah, meskipun sebagian kecil ulama berpendapat bahwasanya dia adalah surat Madaniyyah.

Surat ini, sebagaimana disebutkan oleh Amr bin Ash radhiyallahu Ta'ala 'anhu, merupakan surat yang pendek namun maknanya sangat dalam.

Sampai-sampai At Thabrani rahimahullah menyebutkan riwayat dari para shahabat bahwa para shahabat kalau bertemu mereka saling membacakan surat Al 'Ashr.

كَانَ الرَّجُلانِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَيَا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى يَقْرَأَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ : ” وَالْعَصْرِ إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ” ، ثُمَّ يُسَلِّمَ أَحَدُهُمَا عَلَى الآخَرِ

"Bahwasanya dua orang shahabat nabi shallallahu 'alayhi wa sallam  apabila mereka bertemu, mereka tidak berpisah kecuali sebelum mereka berpisah, mereka membacakan surat Al 'Ashr."


(Hadits shahih riwayat Abu Dawud dalam Az Zuhd, no. 417; Ath Thabrani dalam Al Mu'jam Al Awsath, 5: 215; Al Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman, 6: 501. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, lihat Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2648)

Jadi sebelum berpisah dibacakan surat Al 'Ashr. Salah satu membacakan kepada yang lainnya.

Kenapa?

Karena surat Al 'Ashr adalah surat yang pendek akan tetapi maknanya sangat dalam. Sampai-sampai Al Baihaqi dalam Manaqibus Syafi'i meriwayatkan perkataan Imam As Syafi'i:

لو فكر الناس كلهم في سورة العصر لكفتهم

"Seandainya seluruh manusia merenungkan tentang makna dari surat ini, maka sudah cukup bagi mereka."

(Tafsir Ibnu katsir 8/499)

Artinya tidak perlu surat-surat yang lain, karena surat ini adalah surat yang pendek namun maknanya sangat dalam.

√ sampai-sampai para shahabat kalau bertemu mereka membacakan surat ini.
√ sampai-sampai Imam Syafi'i mengatakan kalau manusia merenungkan (mentaddaburi) isi dari surat Al 'Ashr maka cukup bagi mereka.

Dalam riwayat yang lain dari Imam Syafi'i, beliau mengatakan, "Maka sudah cukup bagi mereka surat ini (Al 'Ashr)."

Inilah surat yang dihapalkan hampir seluruh kaum muslimin.

Apa kaitannya dengan surat At Takatsur?

Kaitannya:

⑴ Surat At Takatsur menjelaskan bahwa  diantara sebab seorang terjerumus kedalam adzab kubur (dan adzab neraka Jahannam) adalah at takatsur, sifat berlomba-lomba memperbanyak harta (dunia).

⇒ Paling banyak mobilnya, kebunnya, rumahnya,  mereka berlomba-lomba dalam memperbanyak harta yang semua itu tidak akan bermanfaat bagi akhiratnya.

Kita berlomba-lomba boleh dalam hal akhirat akan tetapi untuk masalah dunia kita ambil secukupnya, tidak perlu berlomba-lomba.

Gara-gara menyibukan mencari  dunia yang tidak bermanfaat diakhirat dan akhirnya terjatuh dalam kerugian.

Diantara kerugian tersebut adalah adzab kubur dan adzab di neraka Jahannam.

⑵ Surat Al Ashr menjelaskan tentang kerugian. Bahwasanya manusia pada dasarnya berada dalam kerugian.

Saya katakan tadi bahwasanya surat ini adalah surat yang pendek namun maknanya dalam. Dan surat yang pendek lainnya di dalam Al Qur'an adalah  surat Al Ashr, An Nashr dan Al Kautsar.

Kita mencoba untuk menggali kandungan dari surat ini.

Pada surat ini intinya Allah ingin menjelaskan bahwasanya manusia semua dalam kerugiaan. Untuk bisa lolos dari kerugian tersebut dia harus melakukan 4 (empat) perkara, yaiiu:

① Beriman
② Beramal Shalih
③ Saling menasehati dalam kebenaran
④ Saling menasehati dalam kesabaran.


Barang siapa yang tidak melakukan empat-empatnya maka akan ada kerugian yang mengenai dia. Pasti dia terkena dari sebagian kerugiaan. Dia hanya bisa lolos dari segala bentuk kerugian kalau dia sudah melaksanakan 4 perkara di atas.

Allah membuka suratnya dengan: وَالْعَصْرِ (demi masa). Para ulama khilaf tentang al 'ashr disini. Apakah al 'ashr disini maksudnya waktu 'ashar yang kita pahami? dan ini pendapat sebagian ulama.

Dan kita tahu waktu 'ashar adalah waktu setelah dari adzan 'ashar sampai panjang bayangan seseorang dua kali dari panjang tubuhnya.

Sedangkan waktu zhuhur dimulai matahari tergelincir dari tengah langit dan berakhir tatkala panjang bayangan suatu benda sama dengan pajang benda tersebut, dan ini adalah awal dari waktu ashar.

Jadi kapan waktu ashar berakhir?

Kata para ulama waktu ashar berakhir sebagaimana disebutkan dalam hadits Jibril, bahwasanya waktu ashar adalah jika panjang bayangan suatu benda dua kali lipat dari benda tersebut.

Misalnya:

Jika ada kayu kita tegakan kayu tersebut panjangnya 2 (dua) meter kalau panjang bayangannya sudah 4 (empat) meter berarti waktu ashar sudah selesai, ini yang disebut dengan waktu  ikhtiyariy. Seseorang tidak boleh sengaja shalat ashar keluar dari waktu ini kecuali ada halangan.

Jadi pada waktu idhthirariy (waktu darurat, waktu antara waktu ikhtiyariy sampai dengan matahari terbenam) boleh mengerjakan shalat 'ashar (jika ada halangan).

Mereka mengatakan waktu ashar sampai bayangan suatu benda 2 (dua) kali lipat setelah itu namanya ashy atau ashyla.
 
⇒ Intinya sebagian ulama mengatakan bahwa al 'ashr adalah waktu 'ashar.

Kenapa Allah bersumpah dengan waktu ashar?

Karena di waktu 'ashar ada shalat 'ashar, dan shalat 'ashar termasuk shalat yang sangat penting, oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Hendaknya kalian menjaga shalat-shalat dan jagalah shalat ashar (shalat wustha')"

(QS Al Baqarah: 238)

Kenapa kita harus menjaga shalat ashar (wustha')?

Karena, banyak orang yang lalai dari shalat 'ashar, terutama tatkala sudah letih pulang dari bekerja, sehingga shalat 'asharnya ditinggalkan atau dikerjakan dengan terlambat (tidak tepat waktu).

Oleh karenanya Allah mengatakan, "Jagalah shalat dan jagalah shalat 'ashar."

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari nomor 594, kata Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam:

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

"Barangsiapa yang meninggalkan shalat 'ashar maka pada hari tersebut gugur amalannya."

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam  bersabda:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa shalat pada waktu 2 (dua) dingin maka dia masuk surga."

 
(Hadits riwayat Al Bukhari no. 540 dan Muslim no. 1005)

Maksudnya 2 (dua) waktu dingin tersebut adalah shalat subuh dan shalat 'ashar,  karena shalat subuh adalah awal dingin dipagi hari dan shalat 'ashar adalah mulai awal dingin menuju malam hari.

Inilah pentingnya shalat 'ashar. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah dengan waktu 'ashar karena pada waktu 'ashar dilaksanakan shalat 'ashar.

Ini pendapat sebagian ulama.

Sebagian lagi mengatakan, kenapa Allah bersumpah dengan waktu 'ashar?

Karena matahari mulai meredup tatkala shalat 'ashar menunjukan bahwa matahari ada waktunya. Matahari tidak akan menyala terus dan tidak akan bersinar terus, mulai meredup pada waktu tersebut (waktu 'ashar).

Mengingatkan kita adanya perubahan kondisi bahwasanya manusia tidak akan selamanya demikian. Dia akan berubah menuju kondisi semakin lemah dan semakin lemah dan akhirnya akan meninggal dunia.

Ini diantara pendapat sebagian ulama.

Akan tetapi jumhur ulama berpendapat yang disebut dengan al 'ashr adalah masa (zaman), sebagaimana yang kita baca dalam terjemahan Al Qur'an kita.

Wal-'ashr artinya "demi masa" (demi zaman), karena masa adalah tempat kita beramal, tempat seorang mendapatkan keberuntungan dan tempat seorang mendapatkan kerugian.

Kapan dia mendapatkan keberuntungan?

Jika dia beramal shalih, beriman, bertawashabilhaq, bertawashabishshabr, maka dia akan mendapatkan keberuntungan, akan mendapatkan pahala, kemenangan.

Namun jika dia kemudian lalai tidak beriman, tidak beramal shalih maka di akan mendapatkan kerugian.

Dia mendapatkan keberuntungan atau kerugian di dalam masa. Masa ini tempat beramal. Masa yang sekarang sedang kita hadapi adalah tempat kita beramal. Oleh karenanya Allah bersumpah dengan: "Demi masa".

Demikianlah yang dapat kita sampaikan pada kesempatan kali ini,  In sya Allah  besok kita lanjutkan.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته



--------------------------------------------
via Group WA BiAS (BimbinganIslam.com)

Download audio: bit.ly/BiAS-FA-Tafsir-H0501
--------------------------------------------



Berita Terkait