Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

SIKSA KUBUR BUKAN AKIDAH KABUR

Abu Bassam | Kamis, 25 Juni 2015 - 13:04:41 WIB | dibaca: 2670 pembaca

ilustrasi

Sebagian kaum Muslimin merasa punya alasan untuk meragukan adzab kubur. Alasannya keyakinannya bersikap prasangka karena dibangun di atas hadits ahad.

Mereka mencoba menolak keyakinan hadits dengan analisis akal alias logika. “Toh, saya pernah menggali kubur juga tidak ada tanda-tanda siksaan,” tambahnya. Bukan hendak membenarkan film-film mistik dan khurafat tentang siksa kubur yang kini tengah marak. Tulisan ini sekadar untuk membuktikan secara ilmiah berdasar al-Quran dan al-Sunnah bahwa siksa kubur bukanlah akidah kabur seperti dituduhkan oleh sebagian orang pendewa akal.
Para penolak itu, ironisnya, setiap shalat selalu berlindung kepada adzab kubur dalam doa sebelum salam. Akankah seorang yang berakal sehat merasa berlindung diri dari suatu bahaya yang keberadaannya tidak jelas? Dalam beberapa hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  juga memberikan petuah kepada umatnya untuk senantiasa berlindung kepada Allah Ta'ala dari pedihnya siksa kubur. Akankah seorang muslim tega mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam  menyuruh umatnya berlindung dari sesuatu yang kabur?

Berikut adalah fatwa dari para ulama terkait dengan alam kubur dan yang terkait dengannya.


ADAKAH ADZAB KUBUR ITU?

Tanya: Apakah adzab kubur itu benar adanya?
Jawab: Kebenaran adanya adzab kubur sangat jelas, ditetapkan oleh al-Qur'an, as-Sunnah dan ijma' (kesepakan) kaum muslimin.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam

«تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ»

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur! (3 x)” (Muslim hadits no. 2867)
Juga telah menjadi ijma' kaum muslimin, dengan bukti seluruh kaum muslimin dalam shalatnya mengucapkan, “Aku meminta perlindungan kepada Allah dari adzab neraka jahannam dan dari adzab kubur.”
Sedangkan dari al-Qur'an, firman Allah Ta'ala,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ {46}

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.'” ( al-Mu'min:46)
Tidak diragukan bahwa diperlihatkannya neraka kepada mereka bukan untuk melepaskan diri darinya, akan tetapi untuk menimpakan adzab pada mereka. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَوْتَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُوا أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنفُسَكُمُ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalan tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) , "Keluarkanlah nyawamu.” ( al-An'am:93)
Allahu Akbar! mereka tamak terhadap jiwa mereka sehingga tidak mau mati.

الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ {93}

“Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri ayat-ayat-Nya.”
( al-An'am:93)
Huruf alif dan lam pada kata اليوم (al-yaum) pada ayat di atas menunjukkan waktu yang akan datang yaitu waktu kematiannya.
Dengan demikian adzab kubur benar adanya, menurut keterangan al-Qur'an, as-Sunnah dan ijma' (kesepakatan) kaum muslimin.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/27-28]

PENGERTIAN KUBUR DAN BARZAKH

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kubur? Apakah lubang tempat mengubur mayat atau alam barzakh?
Jawaban: Pada asalnya kubur adalah tempat dikuburnya mayat. Allah Ta'ala berfirman,

ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ {20} ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ {21}

“Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,”
( 'Abasa:21)
Ibnu Abbas berkata, “Maksud ayat ini, dimuliakan dengan menguburkannya. Terkadang juga yang dimaksud adalah barzakh, yaitu masa penantian setelah kematian sebelum terjadinya hari kiamat, sekalipun tidak dikubur. Allah Ta'ala berfirman,

لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {100}

“Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitan.” (Al-Mukminun:100)
Yakni bagi orang-orang yang telah mati. Hal itu ditunjukkan oleh ayat sebelumnya:

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99}

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia).” (Al-Mukminun:99)

Oleh karena itu, jika seseorang berdoa dalam shalatnya dengan mengucapkan “Aku berlindung kepada Allah dari adzab kubur,” apakah yang dimaksud adalah adzab di dalam kuburan atau adzab barzakh? Jawabnya adalah adzab barzakh. Karena pada hakikatnya manusia tidak tahu apakah dia mati dalam keadaan terkubur, mati dimakan singa atau mati terbakar dan menjadi debu.

Allah Ta'ala berfirman,

وَمَاتَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (Luqman:34)
Sehingga jika saya katakan adzab kubur, maksudnya adalah adzab yang diberikan kepada manusia setelah kematiannya hingga datangnya hari kiamat.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/26-27]
 
 
JASAD YANG DIMAKAN BINATANG BUAS ATAU HANCUR

Tanya: Jika mayat tidak dikuburkan tetapi dimakan singa atau hancur apakah dia juga mendapat adzab kubur?
Jawab: Ya, dia tetap mendapat adzab kubur. Adzab kubur tersebut dilakukan pada ruh karena jasad telah musnah. Karena ini adalah perkara gaib, maka saya tidak dapat menglazimkan bahwa jasad tidak merasakan adzab sekalipun telah hancur atau terbakar. Seseorang tidak dapat menyamakannya dengan keadaan dunia, sebab hal ini adalah perkara ukhrawi.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/29]


YANG MENDAPAT ADZAB KUBUR

Tanya: Apakah adzab kubur juga ditimpakan kepada mukmin yang berbuat maksiat atau khusus hanya untuk orang kafir?
Jawab: Adzab kubur yang berlangsung terus menerus diberikan kepada orang munafik dan kafir. Adapun orang Islam yang berbuat maksiat terkadang mereka mendapat adzab kubur. Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dalam Shahihain (Shahih al-Bukhari  dan Shahih Muslim) bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam melintasi dua buah kubur muslim, kemudian berkata,

« إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْجِي مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ »

“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Dan mereka tidak disiksa karena perkara besar. Salah satunya dahulu tidak cebok ketika kencing, sedangkan yang satunya lagi dahulu suka adu domba (memfitnah).”


[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/28-29]


UNTUK PENGINGKAR ADZAB KUBUR

Tanya: Bagaimana menjelaskan kepada orang yang mengingkari adanya adzab kubur. Mereka beralasan bahwa jika kita menggali kubur didapati keadaannya tidak berubah, tidak menjadi sempit tidak pula menjadi lapang?
Jawaban: Saya jelaskan dengan berbagai keterangan :

Pertama, bahwa adanya adzab kubur telah ditetapkan oleh syari'at. Sebagaimana  firman  Allah Ta'ala tentang Fir'aun dan kaumnya:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ {46}

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya kedalam adzab yang sangat keras.'”
(Al-Mukmin:46)

Demikian pula dalam sebuah hadits,

« فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ فَقَالَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالُوا نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ »

(Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ,) “Kalau bukan karena (khawatir) kalian akan enggan untuk saling menguburkan (satu sama lain), niscaya aku akan berdoa kepada Allah agar diperdengarkan adzab kubur kepada kalian sebagaimana yang aku dengar. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan berkata, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab neraka!” Para sahabat berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari adzab neraka.” Nabi berkata lagi, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur!” Para sahabat berkata, “Kami berlindung kepada Allah dari adzab kubur.” (Muslim hadits no. 2867)

Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam  mengenai keadaan orang mukmin di dalam kuburnya,

« يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مُدَّ بَصَرِهِ »

“Dilapangkan kuburnya sejauh matanya memandang.” (Ahmad IV/287)
Serta nash-nash yang lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Tidak boleh memperdebatkan nash-nash ini hanya dengan persangkaan yang lemah, akan tetapi yang wajib adalah membenarkan dan tunduk.

Kedua, pada asalnya adzab kubur dilaksanakan pada ruh, bukan pada jasad yang nampak. Seandainya adzab dilaksanakan pada jasad yang nampak, maka bukan lagi menjadi perkara iman kepada yang ghaib. Iman seperti ini tidak ada manfaatnya. Perkara ini adalah perkara ghaib. Keadaan alam barzakh tidak sama dengan keadaan alam dunia.

Ketiga, bahwa adzab, nikmat, lapang dan sempitnya kubur, itu dirasakan oleh orang yang telah mati. Seseorang yang tidur dikasurnya terkadang dapat melihat dalam mimpinya bahwa dia berjalan, pergi dan pulang, memukul, dipukul, berada di tempat yang sempit atau di tempat yang luas, sementara orang yang ada di sekitarnya tidak melihat dan merasakan hal itu.
Yang wajib bagi kita dalam hal ini adalah mendengar dan taat, beriman dan membenarkan.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/29-30]


SIKSAAN UNTUK FISIK ATAU RUH?

Tanya: Apakah adzab kubur ditimpakan kepada jasad atau ruh?
Jawab: Pada asalnya ditimpakan kepada ruh karena setelah kematian hukum dilaksanakan kepada ruh. Sedangkan jasad yang telah menjadi bangkai, tidak butuh pengawetan, makan atau minum, bahkan dialah yang dimakan tanah.
Akan tetapi Syaikh Islam Ibnu Taimiah berkata, bahwa ruh terkadang masih berhubungan dengan jasad sehingga keduanya diadzab atau disiksa bersamaan. Menurut Ahlus sunnah, ada lagi pendapat yang lain, bahwa nikmat dan adzab dilakukan pada jasad tanpa ruh. Dibuktikan dengan ditemukannya secara nyata pada kubur-kubur yang digali adanya bekas-bekas adzab atau nikmat pada jasad penghuni kubur tersebut.

Beberapa orang telah mengabarkan kepada saya (Syaikh Ibnu Utsaimin) bahwa di sini, Unaizah, Saudi Arabia, ketika sedang berlangsung penggalian untuk membuat pagar pembatas negara, dilaluilah sebuah kuburan. Ketika kubur tersebut digali, di dalamnya ditemukan sesosok mayat yang jasadnya masih utuh belum rusak, padahal kain kafannya telah hancur dimakan tanah. Sebagian yang melihatnya mengatakan bahwa janggut mayat tersebut ber-hana  dan mengeluarkan semerbak bau wangi seperti misk. Para pekerja pun menghentikan penggalian. Kemudian mendatangi seorang ulama untuk menanyakan tentang hal yang mereka temui. Ulama tersebut memerintahkan agar tidak mengganggu kubur tersebut. Jika tetap ingin menggali agar menggali di sebelah kanan atau kiri kubur tersebut.
Atas dasar keadaan seperti itu para ulama mengatakan bahwa ruh terkadang berhubungan dengan jasad sehingga adzab diberikan kepada ruh dan jasad. Bisa pula dengan pemahaman dari hadits yang disabdakan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam,

«إِنَّ الْقَبْرَ لَيَضِيْقُ عَلىَ الْكَافِرِ حَتَّى تَخْتَلِفَ أَضْلاَعُهُ»

“Sesungguhnya kubur akan disempitkan untuk orang kafir sehingga berhimpitlah tulang rusuknya.” (lihat lafal hadits selengkapnya musnad Ahmad III/126)
Hal ini menunjukkan bahwa adzab diberikan kepada jasad, karena tulang rusuk terdapat pada jasad. Wallhu a'lam.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/25-26]


LAMANYA ADZAB KUBUR

Pertanyaan:
Apakah adzab kubur itu berlangsung terus menerus atau tidak?
Jawaban: Orang kafir (atau munafik) --semoga Allah melindungi kita-- sama sekali tidak mendapatkan nikmat, akan diadzab terus menerus.
Adapun jika orang itu mukmin tetapi berbuat maksiat, maka adzabnya hanya sebatas dosa yang dia kerjakan. Bisa jadi adzab atas dosanya telah selesai sebelum datangnya kiamat. Sehingga terhentilah hukuman atasnya sampai hari kiamat datang.

[Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin II/30]

Pernah dimuat di Majalah FATAWA Vol III No 09



Berita Terkait