Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

SIKAP MELAMPAUI BATAS DALAM BERAGAMA

Abu Bassam | Senin, 25 Mei 2015 - 10:08:58 WIB | dibaca: 3377 pembaca

Oleh Al-Ustadz Abu Nida Chomsaha Sofwan, Lc Hafizhahullah.

Melampaui batas memang bukan hal yang bagus; berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya. Sering disebut dengan ghuluw. Adalah tindakan melampaui (melanggar) batas yang telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun keyakinan.

Sikap ghuluw pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya: Suatu ketika pernah tiga orang laki-laki datang ke rumah istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan tentang ibadah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban dari istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan membandingkan dengan diri mereka, mereka merasa belum melakukan apa-apa. Lalu salah satunya berkata, “Saya akan shalat malam terus menerus.” Yang lain mengatakan, “Saya akan puasa terus dan tidak berbuka.” Yang ketiga berucap, “Saya akan menjauhi wanita (dengan tidak menikah).” Demi mendengar penuturan para sahabatnya itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Apakah kalian semua yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa di antara kalian. Akan tetapi, aku puasa dan berbuka, shalat dan juga tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, bukanlah termasuk golonganku.”
Imam Bukhari berkata, “Ghuluw dalam masalah akidah pun pernah terjadi semasa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam satu riwayat sahabat pernah melontarkan perkataan kepada Nabi,

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

'Terserah Allah dan engkau.'


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi teguran keras dengan mengatakan, “Apakah kamu hendak menjadikan aku sebagai tandingan Allah? Katakanlah:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

'Terserah Allah saja.' (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, dan Nasai. Lihat kitab Qaulul Mufid hal. 126.)

Ghuluw pada Zaman Sahabat

Pada zaman Khulafa Rasyidin sekelompok orang dari pengikut Ali Radhiyallahu 'anhu memisahkan diri. Mereka mengasingkan diri di suatu tempat yang disebut Harura, sebuah desa di Kufah (Irak). Mereka kecewa terhadap apa yang dilakukan Ali Radhiyallahu 'anhu tatkala berdamai dengan khalifah Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu. Mereka anggap Ali Radhiyallahu 'anhu telah salah dan kafir. Berdalil dengan firman Allah:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka merekalah orang yang kafir.”
(Al-Maidah:44)
Kemudian mereka kafirkan juga Mu'awiyah, Amr bin al-Ash, Abu Musa al-Asy'ari  Radhiyallahu 'anhum. Hingga berkembang paham bahwa orang yang berbuat dosa besar dihukumi kafir, keluar dari Islam, boleh dibunuh, dan di akhirat masuk nereka selama-lamanya. (Lebih lengkapnya lihat Firaq wal Adyan al-Mu'ashirah.)

Sifat-Sifat Khawarij

1.    Mencela, menganggap sesat, dan mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka.

Karena itu tidak heran jika leluhur mereka pun berani mencela (mengkritik) Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal pembagian ghanimah (harta hasil rampasan perang), seperti yang dilakukan oleh Dzul Khuwaisirah terhadap Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Wahai, Muhammad, berbuatlah adil! Engkau tidak berbuat adil!'; mereka juga mengkafirkan khalifah Utsman Radhiyallahu 'anhu, Ali Radhiyallahu 'anhu dan yang lainnya.

2. Suka berburuk sangka (su-uzhan).
Akibatnya mereka tidak takut menuduh Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ikhlas dalam membagi ghanimah. Karena mereka tidak paham maksud syariat dan dalam hati mereka ada penyakit, maka mereka pun suka berburuk sangka.

3. Berlebih-lebihan dalam beribadah.

Hal ini disebutkan dalam sabda Rasulullah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ

“Salah seorang di antara kalian merasa shalatnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat mereka, demikian pula puasanya dengan puasa mereka”
Maksudnya, secara lahiriah shalat dan puasa yang kamu kerjakan tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan shalat dan puasa kaum khawarij.

4. Keras terhadap sesama kaum muslimin.

Bukti dari hal tersebut sebagaimana disebutkan sabda Nabi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدْعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

“Mereka membunuhi orang-orang Islam dan membiarkan penyembah berhala.”

Maksudnya, mereka memerangi orang-orang Islam, tetapi membiarkan para penyembah berhala.(Dzahiratu al-Ghuluw hal.112-119 Lebih lengkapnya lihat Firaq wal Adyan al-Mu'ashirah.)

5. Kurang pertimbangan dan dangkal akalnya.

Hal ini disebutkan dalam hadits:

يَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثَ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ

“Akan muncul pada akhir zaman suatu kaum yang kurang pertimbangan dan cetek akalnya.”

Imam Nawawi mengatakan, “Kemantapan dan kokohnya ilmu dikarenakan kesempurnaan umur dan banyaknya pengalaman, serta kuatnya akal” (Fathu al-Bari XII/287)
Apabila bertemu tiga unsur dalam diri pemuda, yaitu semangat tinggi, sedikit ilmu & pengalaman, dan mengabaikan ulama, akan mengakibatkan sikap ghuluw; merasa dirinya sajalah yang benar sementara yang lain salah. Karena itu tokoh-tokoh kaum Khawarij pada zaman dahulu bukanlah orang-orang yang paham agama —sebagaimana Ibnu Mas'ud, Umar, Ali, Aisyah, Abu Musa, Mu'adz bin Jabal, Abu Darda', Salman al-Farisi, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Umar atau murid-murid mereka, melainkan orang-orang yang tidak terkenal dalam dunia ilmiah.

Sebab-sebab Munculnya Sikap Ghuluw
Sikap ghuluw bisa muncul kapan saja dan di mana saja. Ada beberapa sebab munculnya sikap ghuluw pada masa sekarang ini.
1. Situasi politik yang menekan Islam dan umatnya.
2. Budaya yang berasal dari luar (baca: musuh-musuh Islam) yang diumpankan kepada keluarga muslim melalui media cetak maupun elektronik yang merusak tatanan masyarakat Islam, sehingga tersebarlah kemaksiatan.
3. Fikrah (pemikiran) yang menyimpang,tidak lurus, yang disebabkan oleh:
    a. Mengabaikan Ulama Salaf
    b. Memperdalam agama melalui kitab-kitab atau buku-buku tanpa bimbingan guru yang terpercaya (ulama).
    c. Pemahaman yang rancu terhadap dalil agama, baik Al-Quran dan Al-Hadits. Akibatnya salah dalam memahaminya.
4. Keadaan pribadi yang bersangkutan:
    a. Al 'Ajalah (sikap tergesa-gesa, tanpa dipikir masak-masak)
    b. Merasa sombong dengan kebaikan yang dilakukan (ketaatan kepada Allah)
    c. Mengikuti hawa nafsu
    d. Berlebihan dalam membalas atau menyikapi penekanan dan intimidasi pihak luar. (Dzahiratu al Ghuluw hal.337)

Pemikiran Khawarij semacam itu berjalan terus di segala zaman. Pemahaman ini banyak tersebar di kalangan umat Islam, seperti menyebarnya virus menular. Kondisi tersebut sudah demikian kronisnya. Dalam mengobatinya jelas dibutuhkan sikap kehati-hatian dan kesungguhan. Karena sudah demikian kronisnya, maka penyakit ini terkena angin sedikit saja bisa kambuh dan menjadi-jadi. Inilah perumpamaan paham Khawarij di tengah-tengah umat Islam.
Di zaman Nabi, munculnya perilaku khawarij umumnya disebabkan dari dalam diri sendiri (sebab no.3 dan 4), sedangkan untuk kondisi sekarang ini di samping sebab dari dalam juga disebabkan dari luar (sebab no.1 dan 2). Diantaranya adalah tekanan politik yang tidak menguntungkan Islam dan muslimin, termasuk munculnya kemaksiatan-kemaksiatan yang seolah-olah dilegalkan oleh pemerintah —dalam hal ini kami menghimbau kepada para pejabat pemerintah di posnya masing-masing, agar memperhatikan Islam dan kaum muslimin yang memang mayoritas di negeri ini. Insyaallah kalau itu dilakukan, penyakit ghuluw tersebut tidak akan muncul. Yang diharapkan adalah kemaslahatan (kebaikan) bagi semua. Semoga Allah membimbing kita, amin.
Situasi seperti itulah salah satu penyebab munculnya perilaku Khawarij; apalagi bila orang yang terkena paham Khawarij tersebut sempat ditangkap, di penjara dengan disertai siksaan,
intimidasi dan sebagainya. Mereka akan trauma dan bila mereka ditanya, “Bagaimana hukum orang-orang yang terlibat dalam pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Islam?”
Niscaya mereka akan menjawab: Haram! Bahkan, mereka akan mengatakan bahwa setiap pegawai atau orang-orang yang terlibat di dalam pemerintahan tersebut adalah Thagut (tandingan Allah), dan melawan pemerintah yang semacam ini —menurut anggapan mereka— adalah benar dan termasuk perjuangan suci (jihad)” .
Sikap Khawarij yang menonjol adalah suka gegabah mengkafirkan orang lain dan berprasangka buruk terhadap sesama kaum muslimin. Hal itu biasanya terjadi apabila keyakinan mereka tidak sejalan dengan keyakinan orang lain. Begitulah penyakit Khawarij di masyarakat Islam.

Pada kesempatan ini penulis coba meluruskan pemahaman dan sikap mereka, tentu dengan merujuk kepada pemahaman ulama salaf.
Wahai para pemuda, mari kita lihat bagaimana para ulama salaf menghadapi masalah yang menimpa diri mereka. Mari kita lihat perjalanan hidup Imam Ahlu Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah, yang pada waktu itu pemerintahan didominasi oleh orang-orang Mu'tazilah-
Jahmiyah, yang meyakini bahwa Al-Quran adalah makhluk dan berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki sifat. Bagaimana sikap Imam Ahmad dalam kondisi yang semacam itu? Beliau tetap mengeluarkan fatwa, “Barangsiapa mengatakan Al-Quran adalah makhluk, maka ia kafir.” Apa reaksi yang timbul dengan fatwanya itu? Para ulama salaf ditangkap, dibunuh, dipenjara, diusir, diberhentikan dari pekerjaannya; bahkan, siapa saja yang tidak mengatakan al-Quran adalah makhluk dihukumi kafir oleh pemerintah pada saat itu. Memang hal itu sangatlah wajar, karena yang menjadi hakim dan qadhi pada waktu itu adalah orang Jahmiyah-Mu'tazilah.
Sekalipun seperti itu keadaannya, lihatlah bagaimana sikap Imam Ahmad Rahimahullah pada saat itu. Beliau tidak mengkafirkan khalifah (penguasa) dan orang-orang yang menjadi aparatnya.
Beliau tetap mendoakan khalifah dan aparat-aparatnya itu, sekalipun beliau dipenjara bersama dengan para sahabatnya demi mempertahankan kebenaran, bahkan beliau hampir dihukum mati. Beliau mendoakan dan memintakan ampunan bagi mereka kepada Allah dan tidak dendam.
Seandainya beliau mengkafirkan khalifah, niscaya beliau tidak akan mendoakan dan memohonkan ampun, karena hal tersebut dilarang oleh Islam. Begitulah sikap yang ditunjukkan Imam Ahlu Sunnah, perkataan maupun perbuatan. Beliau tidak serta merta mengkafirkan orang tertentu, baik terhadap orang Jahmiyah ataupun Mu'tazilah, sekalipun mereka mengatakan al-Quran adalah makhluk. Hal itu tidak lain karena untuk mengkafirkan orang tertentu harus terpenuhi syarat-syarat serta penghalang-penghalangnya; tidak bisa sembarangan.

Nasihat untuk Para Pemuda
Hendaknya para pemuda yang mempunyai semangat tinggi berhati-hati, jangan sampai terpengaruh pemikiran Khawarij yang ghuluw  dalam beragama, karena akan berdampak buruk terhadap Islam dan kaum muslimin. Ingatlah, perbuatan mereka itu masuk dalam perkataan:

كَلِمَةُ الحقِّ يُرِيْدُ ِبهَا البَاطِلُ

“Perkataan benar, tapi digunakan untuk sesuatu yang batil”

Dalil dan istilah yang mereka gunakan benar, tapi dalam praktek pelaksanaannya salah. Lihat saja, pemahaman mereka terhadap dalil:

لاَ حُكْمَ إلاَّ ِللهِ

“Tidak ada hukum, melainkan hanya dari Allah”

Ayat ini betul, tetapi mereka terapkan untuk mengkafirkan Amirul Mukminin Ali Radhiyallahu 'anhu pada saat itu. Mereka bermaksud 'menghilangkan kemungkaran'. Itupun sesuatu yang benar, akan tetapi mereka melakukan dengan cara yang salah; mereka tidak mengindahkan kaidah yang baku. Walhasil, mereka melakukannya dengan semena-mena, main grabak-grubuk saja. Begitulah. Karena keluar dari cara-cara ulama salaf, akhirnya dampak negatifnya pun kembali kepada umat Islam secara keseluruhan. Islam akhirnya teropinikan menakutkan, anarkhis, teroris, kejam, tukang pembunuh, dan sebagainya.

Yang terakhir, marilah kita memperdalam manhaj salaf, dalam masalah akidah, dakwah, muamalah, akhlak, dan semua aspek kehidupan. Semoga Allah selalu memberi taufik dan

pertolongan-Nya kepada kita dan mematikan kita dalam keadaaan beriman dan senantiasa berada di atas jalan-Nya. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Amin.

Sumber: Majalah FATAWA Vol V No 11.



Berita Terkait