Artikel Stikes Madani

Stikes Madani

SELEMBAR KERTAS YANG MENGHANTARKANKU KE SAUDI ARABIA

Abu Bassam | Minggu, 19 Februari 2017 - 09:15:53 WIB | dibaca: 3009 pembaca

*Berawal dari Brosur Stikes Madani Yogyakarta, Hingga Bekerja di Saudi Arabia

Bulan Februari ini tepat 9 bulan berada di Arab Saudi. Terkadang masih tak percaya, seorang anak desa bisa menginjakkan kaki di tanah nabi. Berkali-kali mengingat-ingat, langkah ringan membawa tubuh saya menuju ke sebenar-benarnya keajaiban. Nyata. Tanpa cela.

Selembar kertas yang dibawa bapak dari masjid menjadi tiket saya mengarungi kehidupan. Selembar kertas yang tak berarti bagi orang lain, tapi sangat mengubah masa depan saya.

Golden ticket itu adalah brosur Stikes Madani Yogyakarta. Saya tak habis mengira, dengan ketabahan hati seorang bapak, ingin anaknya menuntut ilmu keluar pulau. Toh apa salahnya jika saya tetap berada di Lombok? Dekat dengan orang tua dan keluarga.

Tapi Allah punya rencana lain, bermodal brosur itu, perjalanan saya dimulai.

Berpindah dari Lombok yang hangat, menuju Yogyakarta, bukan hal mudah tentu saja. Perbedaan bahasa dan kultur budaya membuat saya mau tak mau harus beradaptasi dengan cepat. Apalagi berada di kampus setengah pesantren atau pesantren setengah kampus.

Stikes Madani Yogyakarta adalah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan dengan sistem pembelajaran yang berbeda. Memang apa bedanya? Bukankah yang namanya Stikes tetap begitu-begitu juga? Kuliah memakai seragam, ada praktek di Rumah Sakit, lalu tugas keperawatan yang menumpuk.

Iya, itu umumnya. Tapi ada yang menarik, karena menjadi kampus kesehatan pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berusaha untuk berpegang teguh pada Manhaj Salaf.

Seperti, kampus laki-laki dan perempuan dipisah. Kami benar-benar tidak pernah bertatap muka dengan mahasiswinya. Celana seragam saya cingkrang. Sarung, koko dan peci, sepertinya juga bisa disebut seragam di sini.

Untuk yang perempuan diwajibkan memakai rok dan baju lebar. Kerudungnya juga harus panjang dan tebal. Uniknya, diperbolehkan menggunakan cadar. Dianjurkan malahan. Kebayangkah kalau perawat di Indonesia memakai cadar?

Jika setiap akhir pekan para mahasiswa di luar sana santai menikmati liburan, kami, di kampus pesantren ini, harus mengikuti kajian mahasiswa. Wajib selama 4 tahun perkuliahan. Diadakan setiap minggu demi menambah ilmu akhirat. Yang paling ditakutkan jika bangun terlambat adalah tidak mengikuti shalat subuh di masjid kampus. Siap-siap saja setor 5 ribu rupiah jika absen. Ahh, uang 5 ribu bagi mahasiswa itu bagaikan emas di akhir bulan!

Kampus berarsitektur masjid ini juga tempat mencetak Hafizh dan Hafizhah. Bagaimana tidak, jika syarat pengajuan pendaftaran skripsi adalah sertifikat hafal juz 30! Alhasil, setiap lepas subuh kami harus menghafal Al Qur’an. Jangan sampai ikatan memori Al Qur’an lepas ketika ujian anatomi fisiologi dan setumpuk hafalan kasus keperawatan lainnya. Alhamdulillah, tahun 2016 lalu, lulusan terbaiknya adalah hafidz juz 30.

Ada pula yang membuat selalu semangat. Karena selain ilmu medis, kami juga dibekali dengan Bahasa Arab dan Keperawatan Holistik Islami. Contohnya seperti bekam, akupuntur, akupresur dan terapi guasa, semacam pengobatan alami asal China. Bahkan, kami juga ada ekstrakuler memanah. Olahraga sunnah dari Rosulullah.

Meski berat dengan peraturan yang ketat dan mengikat, dari sinilah hidup saya mulai berbenah. Pemahaman tak hanya tentang kesehatan, tetapi juga ilmu-ilmu langit. Kita selalu ditanamkan kepercayaan, bahwa apapun yang kita lakukan sekarang, akan menghasilkan buahnya di hari pembalasan kelak.

Wisuda Ners di Bulan Januari 2016, membawa keberkahan bagi seorang manusia biasa seperti saya. Mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari kampus. Dari panggilan untuk merawat, memijat, hingga bekam di rumah. Bahkan jika ada yang sakit, mereka akan menelepon saya meminta bantuan. Bukankah khairunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?

Tak butuh waktu lama, 3 bulan setelah kelulusan itu, saya terbang ke Arab Saudi. Bermodal restu dari orang tua, saya menggapai doa dan harapan di sini. Bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Al Nahda Jeddah, bersama rekan dari Philippines, India, Pakistan, Arab Saudi, Sudan dan Banggali.

Bekerja di Kota Jeddah adalah mimpi yang tak pernah terbayangkan akan menjadi kenyataan. Ini karena jarak tempat saya berada dengan Masjidil Haram hanya 1 jam perjalanan darat, saya merasa dekat dan hangat dengan Ka’bah. Alhamdulillah.

Untuk adik-adik yang sedang menjalani kuliah di Stikes Madani Yogyakarta, bersabar dan belajarlah sebaik-baiknya. Teruslah berdoa dan berusaha. Bersyukurlah karena mendapat kesempatan mengenyam ilmu di kampus ilmiyah yang amaliyah dan amaliyah yang ilmiyah. Selalu ingat Allah kapan pun dan di mana pun, niscaya Allah akan mengingatmu.

Sometimes we must make a choice, to take a change, or our lives will never change.

Saya menjadikan brosur Stikes Madani Yogyakarta adalah tiket hidup yang telah ditentukan Allah. Tapi jika tidak mengambil kesempatan itu, bisa jadi saya tak akan umroh dan bersujud di depan ka’bah di usia muda. Percayalah, rencana Allah indah pada waktunya.

Saya berterima kasih kepada seluruh dosen, karyawan, dan ustadz yang selalu mengajarkan nilai kehidupan dan agama dengan hati. Tidak hanya menjadikan lulusannya ahli kesehatan, terapis dan seorang Da’i, tetapi juga manusia yang rendah hati yang selalu dekat dengan Ilahi. Melalui mereka, saya semakin mengerti, bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memudahkan segala urusan manusia. Wallahu ‘alam bish shawab.

Semoga Allah senantiasa merahmati dan melindungi seluruh keluarga besar Stikes Madani Yogyakarta, di mana pun berada.

“Berbeda tidak selalu lebih baik, tetapi yang terbaik itu sudah pasti berbeda,” pesan Ketua Stikes Madani Yogyakarta yang selalu melekat diingatan.

Judul Asli: -MUDA MENDUNIA HIDAYAH MEYAPA-
Lulusan Stikes Madani Yogyakarta Tahun 2016
oleh: Musa Laksana Bijaksana

#NURSINDONESIA
#LOTIM
#JEDDAH K.S.A
 
 
Baca Juga:
 
 
 
 
 
 
 
 



Berita Terkait