Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

PILIH TETANGGA, BARU PILIH RUMAH

Abu Bassam | Rabu, 06 Mei 2015 - 10:08:33 WIB | dibaca: 2774 pembaca

Disusun oleh al-Ustadz Arifin Ridin, Lc.

Pada pokok pembahasan yang lalu telah diuraikan sebagian keagungan dan keindahan ajaran agama Islam yakni menuntunkan adab dalam bertemu, bertamu, dan menjamu. Kali ini pokok bahasan kita masih berkaitan dengan materi yang lalu, adab-adab bertetangga. Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa menghormati dan memuliakan tetangga penting untuk diperhatikan. Mengapa? Karena merekalah orang-orang yang hidup bersama kita di suatu lingkungan, satu daerah, dan satu komunitas.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan kita semua dalam firmannya,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Beribadalah kalian kepada Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan terhadap kedua orang tua hendaklah berbuat baik, begitu juga kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat & tetangga yang jauh.” (Al-Nisa:36)

Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda,

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira ia akan memberikan warisannya kepadanya.“ (Al-Bukhari no. 6014, Muslim 2624, Tirmidzi no. 1942, Abu Dawud no. 3627, Imam Ahmad no. 23739)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam  juga berwasiat kepada Abu Dzar agar berbuat baik kepada tetangga. Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu berkata,

إِنَّ خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- أَوْصَانِى « إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

”Kekasihku (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ) memberikan wasiat padaku: apabila kamu memasak makanan yang berkuah perbanyak kuahnya, kemudian perhatikan keluarga tetangga rumahmu, maka berikan bagiannya untuk mereka dengan baik.”
(Muslim no. 2025)

Syaikhul Islam fil hadits Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menukil perkataan salaf, “Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah berkata, ‘Dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga yaitu dengan menyampaikan beberapa bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai dengan kemampuan seperti memberi hadiah, memberikan salam kepada yang muslim, menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu, memperhatikan keadaannya (dengan bertanya atau menengok) membantu dalam hal yang dibutuhkan, dan lain-lain. Juga menahan sesuatu yang bisa mengganggunya dengan berbagai cara” (Fathulbari jilid 10 hal. 456)

Kata tetangga cakupannya luas. Meliputi tetangga yang muslim & kafir, ahli ibadah & orang fasik, teman & lawan, orang asing & penduduk asli, yang memberi manfaat maupun yang memberi mudhorot, kerabat dekat maupun bukan kerabat, dan rumah yang paling dekat maupun yang jauh. Tentang tetangga ada beberapa tingkatan, sebagian mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dibanding sebagian yang lain. Tingkatan yang paling tinggi adalah yang terkumpul semua sifat utama, kemudian yang lebih sedikit, demikian seterusnya hingga yang mempunyai satu sifat saja. Masing-masing mendapatkan hak sesuai kondisinya.

Tetangga yang paling dekat memiliki hak yang tidak dimiliki oleh tetangga yang jauh. Aisyah Radhiyallahu 'anha bertanya pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam  tentang dua tetangga mana yang berhak diberi hadiah? Nabi menjawab, ‘Yang pintunya paling dekat dari rumahmu.’ (Al-Bukhari no. 6020, Imam Ahmad no. 24895, dan Abu Dawud no. 5155).

Dalam hadits lain tetangga ada tiga: yang punya satu hak berupa hak tetangga, yang punya dua hak berupa hak tetangga dan hak Islam, dan yang punya tiga hak berupa hak tetangga, hak Islam, & hak kerabat. Hadits ini dilemahkan oleh ulama ahli hadits sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambali dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, masing-masing dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam ketika menjelaskan hadits ke-15 dari ‘Arba’in dan Dhoif Jami’ush Shogir hadits ke-2674 & Silsilah al-Ahadits al-Dho’ifah no. 3493

Karena pentingnya kehidupan bertetangga & bermasyarakat maka ada yang perlu diperhatikan dalam kita bertetangga:

1.    Memuliakan tetangga dengan menghormati hak-haknya untuk hidup tenang, nyaman, dan tentram sebagaimana perintah Rasulullah dalam hadits sahih,

فَلْيُكْرِمْ جَارَه

“Maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Bukhari & Muslim)

2.    Tidak menyakiti tetangga baik dengan ucapan ataupun perbutatan. Dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim Rasulullah mengatakan,

فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ

“Maka janganlah menyakiti tetangganya.”

Menyakiti dengan ucapan seperti bicara kasar, menghina, mencaci, atau memaki. Menyakiti dengan perbuatan seperti mengambil barang miliknya, menodai kehormatan salah satu anggota tetangganya. Disebutkan dalam hadits sahih hal ini termasuk dosa besar yang hina, Rasulullah pernah ditanya tentang dosa-dosa yang paling hina, di antaranya beliau menjawab: أَنْ تُزاَنيِ حَلِيلَةَ جَارِكَ  setelah menyebut syirik (menjadilan sekutu bagi Allah) dan membunuh anak sendiri (Bukhari dan Muslim)
Juga termasuk membunyikan radio, televisi, atau tape yang bisa mengganggu termasuk menyakiti tetangga dengan perbuatan.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam  mengatakan,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
 
 “Orang Islam itu adalah yang bila orang Islam yang lain itu selamat dari gangguan lesan dan tangannya.”
 
3.    Bertegur sapa (menyapa dan bertemu dengan bermuka manis, menanyakan kabar keadaan dll). Hal ini disyaratkan dalam Islam

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”


4.    Memberi hadiah yang bisa menambah kasih sayang & hubungan silaturrohim setelah bepergian sebagaimana dijelaskan dalam adab safar. Apalagi Rasulullah bersabda,

وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah kalian karena akan bisa menambah kasih sayang.”


5.    Memberikan bantuan, baik fisik maupun mental, baik tenaga maupun barang terutama terhadap yang membutuhkannya.
Rasulullah bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Orang yang terbaik adalah yang bisa memberikan manfaat kebaikan kepada orang lain.” (Thabrani, Daruquthni & al-Baihaqi lihat Silsilah al-Ahadits al-Shahihah no. 426)

6.    Menjaga kehormatan tetangga dengan cara tidak menceritakan kejelekan/aib mereka, dengan tidak memata-matai atau mencari-cari aib yang dimiliki mereka, dan tidak melihat isi rumah kecuali yang diizinkan pemiliknya.


7.    Menjaga amanah atau titipan tetangga dengan baik dan memuaskan selama dalam kebaikan. Hal ini disyariatkan dalam Islam baik berdasar dalil al-Quran maupun al-Sunnah.


Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan berkaitan dengan adab-adab bertetangga. Semoga kita bisa mengamalkan syariat Islam yang agung dan mulia ini, sehingga benar-benar tercipta dan terwujud keindahan, keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan ajaran Islam yang kita cintai.

Sumber: Majalah FATAWA Vol V No 6



Berita Terkait