Artikel APU

Atturots Peduli Umat

Nasehat: YANG BERSYUKUR DENGAN HARTANYA

Abu Bassam | Minggu, 16 Oktober 2016 - 07:44:10 WIB | dibaca: 760 pembaca

oleh: Ustadz Mustain Syahri, Lc حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى

Sering kita mendengar bahwa harta sebab kehancuran, harta sebab kebinasaan, harta sebab kerugian .... 

Benar.... Harta sebab dari banyak kerugian kecuali orang yang bersyukur dengan hartanya. ... Beruntunglah Orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya, Allah berfirman :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Ingatlah tatkala Rabb kalian menetapkan: jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih". [QS. Ibrahim : 7]

Lantas siapakah orang yang bersyukur dengan hartanya?? 

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata : Dialah yang mendapatkan hartanya dengan cara yang diridhoi, dan membelanjakannya pada arah-arah yang diperintahkan.

[Riyadhussholihin, Bab Keutamaan Orang Kaya yang Bersyukur] 

Dialah yang menjalankan perintah Allah pada hartanya dan menunaikan hak-hak wajib pada hartanya... 

Hak wajib harta ada 3 :

1⃣ Mendapatkannya dari arah yang diridoi oleh syariat, selamat dari kecurangan, penipuan, riba, Meminta-minta, atau untuk sekedar memuaskan hawa nafsu. 
Dengan demikian pedagang yang menyembunyikan cacat barang dagangannya, dan menjualnya dengan harga barang tanpa cacat, berarti dia belum menunaikan hak hartanya yang pertama. 

2⃣ Memberikan dari hartanya kepada yang berhak sesuai dengan haknya tidak berlebihan dan tidak terlalu pelit, seperti keluarganya, juga mengeluarkannya untuk Zakat dan Sedekah-sedekah sunnah, karena didalam harta juga ada hak selain yang wajib. 

Dengan demikian orang yang berharta tapi keluarganya  terlantar, atau tidak menunaikan zakat, dan tidak peduli terhadap orang lain, maka dia belum menunaikan hak hartanya.

3⃣ Menggunakan hartanya dalam perkara yang dibolehkan Islam, banyak orang yang mendapatkan hartanya dengan cara yang benar namun harta tersebut dipergunakan dalam perkara yang dilarang, sungguh dia tidak menunaikan hak hartanya.

[Bahjatun Nadhirin, Syarh Riyadhus Sholihin. 1/623]

Banyak atau sedikitnya harta yang kita peroleh dan yang kita belanjakan bukanlah ukuran, akan tetapi yang menjadi tolak ukur adalah darimana kita mendapatkan dan kemana kita belanjakan.

__
via:Group WA Suara Al-Iman 
 
 
Baca Juga:
 
 
 
 
 
 
 



Berita Terkait