Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

MERETAS KEBAHAGIAAN HIDUP

Abu Bassam | Kamis, 30 April 2015 - 11:39:30 WIB | dibaca: 2819 pembaca

Tidak ada orang yang tidak ingin hidup bahagia di dunia. Tetapi sedikit yang mengetahui jalan menuju kebahagiaan dunia yang sejati. Apalagi kebahagiaan di akherat kelak.

Islam sebenarnya telah membentangkan jalan menuju titik bahagia tersebut. Di antara sarana untuk mereguk kebahagiaan tersebut adalah:
 
1.    MENDULANG ILMU


Allah berfirman,

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِالْقِسْطِ لآَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 18)

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk mendapatkan kebaikan, Allah pahamkan tentang agama.” (Shahih al-Bukhari no. 69 dan Shahih Muslim no. 1038)

 مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
 
“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” (Sunan al-Tirmidzi  no. 2570)

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Dan barangsiapa mengambil warisan tersebut berarti dia telah mengambil bagiannya yang terbanyak.” (Sunan al-Tirmidzi no. 2606)

2. MEMANFAATKAN WAKTU LUANG DAN KESEHATAN


Keduanya adalah anugerah dari Allah, sehingga tidak sepantasnya tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ {3}

“Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al-'Ashr: 1-3)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya (seluas) langit dan bumi yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali 'Imran: 133)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Termasuk kebagusan agama seseorang yaitu dia meninggalkan segala yang tidak bermanfaat.” (Sunan al-Tirmidzi no. 2239 dan Sunan Ibnu Majah no. 3966)

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anha berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang kebanyakan orang melalaikannya: Nikmat sehat dan waktu luang.” (Shahih al-Bukhari no. 5933)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah, akan tetapi setiap (dari mukmin yang kuat dan lemah) memiliki kebaikan, bersemangatlah untuk melakukan segala yang bermanfaat buatmu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bermalas-malasan.” (Shahih Muslim no. 4816)

Dari Abi Bazrah al-Aslami Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya di mana dihabiskan, tentang ilmunya apa yang diperbuat, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan ke mana dia pergunakan dan tentang jasadnya di mana dia hancurkan.” (Sunan al-Tirmidzi no. 2341)


3. BERHIAS DENGAN AKHLAK MULIA

Hal ini bisa diperhatikan dalam pengajaran Luqman kepada anaknya. Hingga namanya diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam al-Quran. Petuahnya terekam dalam al-Quran surat Luqman ayat ke 12 hingga 19.

Nasihat Indah Ibnul Qayyim Rahimahullah
Barangsiapa tidak mengenal dirinya bagaimana mampu untuk mengenal penciptanya. Ingat, Allah telah menciptakan di dadamu sebuah rumah. Itulah hati. Allah juga telah meletakkan di dadamu singgasana untuk mengenal Allah yang keagungan-Nya beristiwa' padanya dan Allah dengan dzatnya istiwa' di atas 'Arsy-Nya, berbeda dengan makhluk-Nya. Bagi Allah perumpamaan yang tinggi dalam mengetahui-Nya, mencintai-Nya, dan mentauhidkan-Nya beristiwa’ di atas ranjang hati, dan ranjang permadani ridha. Allah letakkan di sebelah kanan dan kirinya para penjaga syariat-Nya dan pernitah-perintah-Nya. Allah membukakan pintu menuju surga rahmat-Nya, tenteram bersama-Nya dan benar-benar berharap ingin berjumpa dengan-Nya.

Allah telah menurunkan hujan dengan siraman firman-firman-Nya yang dengannya tumbuh wewangian dan pepohonan yang berbuah segala bentuk ketaatan seperti bertahlil, bertasbih, bertahmid dan menyucikan Allah. Allah menjadikan di tengah-tengah kebun tersebut pohon pengetahuan yang memberikan buah sepanjang masa dengan seizin dari Rabbnya berupa cinta, bertobat, takut, bergembira, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya. Allah mengalirkan dari pepohonnan tersebut apa yang akan menyiraminya berupa penggalian firman-firman-Nya, memahaminya, dan mengamalkan segala wasiat-Nya. Dan Allah menggantungkan di dalam persinggahan tersebut lentera yang meneranginya dengan cahaya pengetahuan, keimanan dan tauhid.

Lentera itu berangkai dari pohon yang diberkahi dan mengandung minyak yang tidak diketahui ujung timur dan baratnya, hampir-hampir minyaknya akan menerangi walaupun tidak disentuh api. Kemudian Allah melingkarinya dengan pagar yang mencegah masuknya segala hama perusak. Barangsiapa mengganggu kebun, niscaya mereka tidak akan sanggup, Allah meletakkan malaikat penjaga yang akan menjaganya baik di waktu dia tertidur ataupun terjaga.
Kemudian Allah mengingatkan pemilik kebun dan rumah tersebut tinggal di dalamnya dan selalu membersihkan tempat tinggalnya serta segala apa yang akan mengotorinya agar penghuninya senang. Ketika dia merasakan ada sesuatu yang mengotorinya dia berusaha untuk membersihkannya karena khawatir jika yang menempatinya itu enggan tinggal. Aduhai betapa nikmatnya orang yang tinggal di dalamnya dan tempat tinggal tersebut.” (Al-Fawa'id hal. 190)

Sumber: Majalah FATAWA Vol IV No 10



Berita Terkait