Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN (Bag. 1)

Abu Bassam | Selasa, 23 Mei 2017 - 13:49:31 WIB | dibaca: 2156 pembaca

oleh: Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc Hafizhahullah.

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
قال الله تعالى في كتابه الكريم يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته و لا تموتن إلا و انتم مسلمون أما بعد
 


Para pembaca, Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan karunia dan nikmat yang Allah telah berikan kepada kita.

Kita membahas tentang "Menyambut bulan Ramadhan".

Karena memang bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat luar biasa, memiliki keistimewaan-keistimewaan yang sangat agung sekali.

Sebagaimana Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan sebuah hadīts dalam sunannya, bahwa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

"Apabila malam pertama di bulan Ramadhan maka syaithan-syaithan yaitu jinn-jinn yang jahat akan diikat dan akan ditutup pintu-pintu api neraka dan akan dibuka pintu-pintu jannah dan akan ada penyeru yang akan menyeru, wahai yang menginginkan kebaikan kemarilah dan wahai yang menginginkan keburukan kurangilah dan Allah memerdekakan dari api neraka hamba-hambanya dan itu terjadi di setiap malamnya."

(Hadīts Riwayat At Tirmidzi dalam sunnannya nomor 682)

⇒HadÄ«ts ini menunjukkan akan keagungan bulan Ramadhan.

Karena di bulan Ramadhan kebaikan-kebaikan diberi kemudahan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, demikian pula keburukan-keburukan dikunci atau dipersempit jalannya.

Dengan seseorang berpuasa syahwatnya akan berkurang sehingga jalan syaithan untuk mengganggu dirinya sangat sempit sekali.

Oleh karena itu kedatangan bulan Ramadhan adalah perkara yang ditunggu-tunggu oleh salafuna shalih.

Dahulu RasÅ«lullah shallallahu 'alayhi wa sallam dan para shahabat, apabila datang bulan Ramadhan mereka bergembira dan bersuka cita  Bahkan Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan bulan yang penuh berkah."

(Hadīts Riwayat An Nasai)

Dan para shahabat saling memberikan selamat kepada satu sama lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan.

⇒Sunnah sebelum Ramadhan adalah saling memberikan tahniah (selamat) dengan datangnya bulan Ramadhan.

Adapun bermaaf-maafan sebelum Ramadhan ini tidak ada contohnya.

Adapun hadīts yang tersebar di masyarakat yang disebutkan katanya malaikat Jibrīl berkata kepada Rasūlullah shallallahu 'alayhi wa sallam:

"Wahai Muhammad, abaikan puasa orang yang sebelum Ramadhan belum minta maaf kepada istrinya, orang tuanya, kerabatnya."

⇒Ini hadÄ«ts palsu yang dibuat-buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Ucapan ini tidak pernah diucapkan oleh Rasūlullah shallallahu 'alayhi wa sallam, oleh karena itu tidak ada satupun riwayat ada hadīts yang menyebutkan sebelum Ramadhan kita disyari'atkan maaf-maafan.

Karena minta maaf itu kata para ulama disyari'atkan ketika kita berbuat salah kepada seseorang, segera kita meminta maaf.

Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

"Siapa yang pernah berbuat zhalim kepada saudaranya atau sesuatu apapun, hendaklah dia minta maaf pada hari itu juga, sebelum datang hari ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham."

(Hadīts Riwayat Bukhari nomor 2449)

Banyak kaum muslimin yang berkeyakinan:

√ Disyari'atkan saling memaafkan sebelum Ramadhan.
√ Untuk pergi kekuburan sebelum Ramadhan.

Hal ini termasuk perkara yang dilarang oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam. Kenapa?

Karena Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda:

لاَ تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا

"Jangan kamu jadikan kuburanku ini sebagai 'Ied."

Apa itu 'Ied?

Kata Syaikh Abdul Qadir Al Munawwi dalam kitab beliau Al Faidhul Qadir Al-Jami' Ash Shaghir yang dimaksud dengan:

"Jangan kalian menjadikan kuburan sebagi 'Ied."

Adalah:

"Janganlah kalian mengunjungi kuburan tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan berkumpul di sana, baik itu seminggu sekali, sebulan sekali atau setahun sekali."

Sebagaimana disebut 'Ied Al Fithr, 'Ied Al'Adh.


◆ 'Ied Al Fithr

Dinamakan 'Ied Al Fithr karena 'Ied berpulang setahun sekali setiap tanggal 01 Syawwal.

Sehingga nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengatakan:

لاَ تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا

Jangan engkau jadikan kuburanku sebagai 'Ied

-->Yaitu yang dikunjungi di waktu yang telah ditentukan dan berkumpul disana.

Maka mengkhususkan ziarah kubur dan berkumpul di sana sebelum Ramadhan atau setelah Ramadhan ini jelas masuk di dalam larangan Rasūlullah shallallahu 'alayhi wa sallam.

⇒Ziarah kubur tidak ditentukan waktunya oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.

Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam hanya bersabda:

زوروا القبور ؛ فإنها تذكركم الآخرة

"Berziarah kuburlah, karena ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kehidupan akhirat."

(Hadīts Riwayat Ibnu Majah nomor 1569)

Maka Rasūlullah shallallahu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan:

√ Ziarah kuburlah setiap Jum'at.
√ Ziarah kuburlah setiap Senin.
√ Ziarah kuburlah seminggu sekali.

Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam tidak pernah mengatakan ini!

Justru Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam melarang untuk menjadikan kuburan sebagai 'Ied yang dikunjungi di waktu yang telah ditetapkan dan di sana orang-orang berkumpul.

Ini adalah perkara-perkara yang tidak disyari'atkan sebelum kita menghadapi bulan Ramadhan.

Bersambung kebagian dua, In sya Allah

---------------------------------------------------

Via Group WA BiAS (BimbinganIslam.com)
 



Berita Terkait