Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

MENJAGA AGAMA LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA SEGALA SESUATU

Abu Bassam | Rabu, 19 April 2017 - 08:13:23 WIB | dibaca: 2883 pembaca

Oleh: Ustadz Amir As-Soronji Hafizhahullah.

Termasuk aqidah al-wala (loyalitas) dan al-bara (disloyalitas) yang diantara maknanya adalah memilih pemimpin muslim dan membenci orang-orang kafir secara mutlaq, serta tidak menjadikan mereka sebgai pemimpin. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari dari apa-apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (Al-Mumtahanah:4).

Perhatikanlah –semoga Allah Ta’ala menjagamu– bagaimana Ibrahim ‘alahissalam berlepas diri dari kaum dan keluarganya, termasuk di dalamnya ayahnya. Bukan itu saja, bahkan lebih dari itu, beliau ‘alahissalam berlepas diri dari sesembahan-sembahan mereka, lalu menjadikan batasan akhir dari permusuhan dan kebencian itu sampai kaumnya, termasuk bapaknya, beriman kepada Allah Ta’ala semata, serta tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Kemudian –perhatikanlah (ayat ini) dengan cermat– niscaya kamu akan dapati bahwa Allah Ta’ala menjadikan perbuatan Ibrahim di atas sebagai contoh teladan yang baik bagi orang-orang sesudahnya.

Ayat lain yang melarang kita memilih orang kafir sebagai pemimpin firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Al-Maidah: 51).

Syariat Islam yang indah mengharamkan mejadikan orang kafir sebagai pemimpin karena beberapa alasan diantaranya:

1) Memilih mereka merupakan sebab yang bisa mengantarkan seorang muslim mengikuti agama mereka. Maka dalam rangka menjaga agama, dia dilarang memilih mereka.

2) Mempersempit ruang gerak kaum muslimin dalam menerapkan syariat islam

3) Mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi pemimpin-pemimpinmu". (Al-Mumtahanah: 1)

4) Diantara sebab diharamkan memilih pemimpin kafir, karena mereka sangat berharap bisa menyesatkan kita dan menjadikan kita termasuk pengikut agama mereka yang batil. Dzat yang Maha Benar Perkataan-Nya berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)”. (An-Nisa: 89).

Tatkala ini adalah misi utama mereka, maka kita diperintahkan untuk memusuhi mereka yang mengharuskan tidak memilih mereka sebagai pemimpin. Sehingga mereka tidak dapat menyesatkan dan menjadikan kita termasuk pengikut agama mereka.


----------------------
via Group Radio ICBB
----------------------



Berita Terkait