Artikel Bin Baz

MENGENAL SAHABAT RASULULLAH

Abu Bassam | Sabtu, 18 April 2015 - 11:49:20 WIB | dibaca: 4107 pembaca

ilustrasi

Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tidak seperti sahabat yang dipunyai manusia biasa. Mereka adalah orang yang adil dan jujur, zuhud terhadap dunia dan tamak terhadap kebaikan dan akhirat. Masa mereka adalah masa kejayaan, generasi terbaik yang paling bertakwa, lebih sedikit perselisihannya.

Pertanyaannya kemudian adalah siapa sebenarnya sahabat itu? Hal ini perlu diketahui karena sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai peran penting dalam agama. Dari merekalah kita bisa mengenal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan risalah yang diembannya. Para sahabat adalah wasilah (penyambung) hubungan kita dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sementara itu musuh Islam berusaha merusak Islam dengan cara, salah satunya, merusak nama baik dan mengacaukan definisi sahabat. Bahkan ada sekelompok agama, yang kini mendominasi Iran, beranggapan bahwa seluruh sahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali tiga atau empat sahabat.

DEFINISI SAHABAT
Karena itulah langkah pertama yang perlu dimengerti adalah definisi sahabat itu sendiri. Dengan definisi yang baku dan mapan maka bisa diketahui batasan sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada beberapa definisi sahabat yang disampaikan para ulama.

Pertama: Definisi secara bahasa
Shahabah (الصحابة) adalah salah satu bentuk jamak (plural) dari kata Shahib (صاحب).  (Tahdzibul Lughah karya Azhari 4/261 dan Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur 1/519 materi (صحب) .) Kata الصحابة pada dasarnya adalah bentuk masdar (kata dasar). Setiap sesuatu yang selalu menyertai sesuatu yang lain layak disebut sebagai sahabatnya. ( Mu'jam Maqayisil Lughah karya Ibnu Faris 3/335, Misbahul Munir karya Qayyumi 1/160, dan Tajul 'Arusy 1/332 materi (صحب ).)
Qadhi al-Baqilani ( Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Thayyib bin Muhammad bin Ja'far meninggal tahun 403 H.Termauk di antara ulama besar ahli kalam dari golongan madzhab 'Asy'ariyah. Periksa dalam Tarikh al-Baghdad karya Al-Khatib al-Baghdadi 5/379 dan kitab Al-A'lam karya Zarkali 6/176.) berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahli bahasa bahwa kata  Shahabi (صحابى) berasal dari kata Shahabah (الصحبة). Hal ini tidak hanya berlaku khusus tetapi bisa berlaku bagi siapa saja yang berteman dengan orang lain baik dalam waktu sebentar maupun lama. Demikian pula seluruh isim (kata benda) yang berasal dari fi'il (kata kerja). Seperti ketika dikatakan aku bersahabat dengan fulan (صحبت فلانا) bisa berlangsung selama bertahun-tahun, setahun, semusin, sebulan, sehari ataupun sesaat. Dengan begitu pertemanan bisa terjadi dalam waktu lama atau sebentar. Ketentuan kaidah bahasa ini mestinya juga berlaku dalam konteks orang-orang yang menemani atau bergaul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meskipun hanya sesaat di siang hari. Inilah dasar pembentukan isim tersebut. ( Al-Kifayah fi 'Ilmi al-Riwayah karya Al-Khatib al-Baghdadi 100)
Dengan demikian penjelasan ini membantah pendapat Abul Muzhafar al-Sam'ani .( Muqaddimah Ibnu Shalah hal.423.) Dia berpendapat bahwa kata الصحابى   menurut bahasa maupun lahiriahnya hanya berlaku bagi orang-orang yang bersahabat lama dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sering hadir dalam majelis-majelis Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengambil pelajaran darinya. ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal.423.)
Yang dimaksud dengan kata shahib (الصاحب) adalah rafiq (الرفيق) sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa ta'ala

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْأَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْهُمَا فِي الْغَارِ إِذْيَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَتَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا
 
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita." (Al-Taubah:40)

Yang dimaksud dengan kata Shahabi (الصحابى) adalah seorang sahabat dan kata Anshari (الأنصارى) adalah seseorang dari suku Anshar, sementara kata Shahabiyah (الصحابية) berarti seorang sahabat yang berjenis kelamin perempuan.
Kata Shahabah (الصحابة) berasal dari bentuk masdar kemudian menjadi jamak di mana bentuk tunggalnya adalah Shahib (صاحب).  Tidak ada perubahan kata tunggal dengan bentuk fa'ali —Shahabi— (فاعلى) menjadi jamak dengan bentuk fa'alah —Shahabah— (فعالة)  kecuali hanya dalam kasus kata ini saja. ( Lisanul Arab 1/519-520 dan Mukhtarus Shihah karya al-Razi hal. 356.)
Bentuk mu-annats (kata yang menunjukkan jenis perempuan, editor.) dari Shahib (الصاحب) adalah Shahibah (صاحبة), bentuk jamaknya Shawahib (صواحب) yang bila di-mu-annats-kan bentuk ini menjadi Shawahibat (صواحبات). ( Al-Misbahul Munir 1/357.)


Kedua: Definisi menurut ahli hadits

Para ahli hadits berbeda pendapat tentang batasan istilah Shahabi (الصحابى) atau sahabat sebagaimana pendapat berikut ini:

Pendapat Imam Sa'id bin Musayyib  ( Beliau seorang imam dan ahli fikih kota Madinah, bernama Abu Muhamad Sa'id bin al-Musayyib bin Hazan al-Makhzumi. Seorang tabi'in yang wafat pada tahun sembilanpuluhan H. Periksa dalam Tadzkiratul Hufazh karya al-Dzahabi 1/54-56 dan Taqribu al-Tahdzib karya Ibnu Hajar 1/305-306 nomor biografi 260.)
Diriwayatkan darinya tentang definisnya tentang sahabat. Katanya, “Sahabat adalah orang yang bergaul bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selama setahun atau dua tahun dan ikut berperang bersama beliau sekali atau dua kali." ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 424, Al-Kifayah hal.99, dan Ikhtisharu Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir hal. 203.)
Ibnu Shalah ( Beliau adalah Imam Taqiyuddin Abu Amar Utsman bin Mufti Shalahuddin Abul Qasim Abdurråhman bin Utsman al-Nashåri al-Kurdi al-Syarkhani al-Syahrazwari. Periksa dalam Tadzkiratul Huffazh karya al-Dzahabi 4/1430.) membantah pendapat yang disampaikan oleh Sa'id bin Musayyib ini. Alasannya, definisi semacam ini sempit. Akibatnya definisi ini membatasi sejumlah sahabat, semacam Jarir bin Abdillah al-Bajali, dianggap tidak tergolong sebagai seorang sahabat karena terganjal syarat-syarat yang disebutkan Ibnu Musayyib. Sementara itu para ulama telah bersepakat bahwa Jabir bin Abdillah al-Bajali adalah termasuk golongan sahabat. ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 424.)

1.    Pendapat Al-Imam al-Bukhari
Seorang sahabat adalah kaum muslim yang pernah berteman atau melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 423 dan Fathul Bari Syarh Shahih  al-Bukhari 7/4)  Pendapat ini berbeda dengan Anas bin Malik yang berpendapat bahwa unsur “melihat" saja belum cukup untuk dijadikan dasar sebagai syarat penyebutan seseorang sebagai sahabat. ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 423 dan  Ikhtisharu Ulumil Hadits hal. 21.)

2.    Pendapat Mayoritas Muhadditsin (Ahli hadits )
Ibnu Shalah meriwayatkan dari Abu al-Muzhaffar al-Sami'ani al-Marwazi bahwa beliau berkata, “Para Ahli hadits menyebut sahabat itu adalah orang yang pernah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meski hanya satu hadits atau satu kalimat, kemudian mereka memperluas pengertian sehingga seseorang yang pernah melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bisa digolongkan sebagai sahabat." ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 423)
Pendapat jumhur tentang pengertian sahabat adalah pendapat yang paling baik sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. Katanya, “Sahabat adalah seseorang yang bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beriman kepada-Nya dan mati dalam keadaan Islam, meskipun, menurut pendapat yang sahih, di antara waktu itu dia pernah murtad. Yang dimaksud dengan bertemu di sini konteksnya lebih luas dari dari makna bergaul dan bersentuhan fisik atau saling bertemu, jadi termasuk orang yang tidak pernah berucap sesuatu. Termasuk dalam pengertian "bertemu" adalah orang yang pernah melihat beliau baik sendirian ataupun bersama yang lain." ( Nuzhatun Nazhar karya Ibnu Hajar hal. 57, Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah karya Ibnu Hajar 1/7, dan Fathul Mughits karya Sakhåwi 3/423)
Dari itu semua bisa dipetik sebuah simpulan. Jumhur Ahli hadits berpendapat bahwa الصحابى  atau seorang sahabat adalah seseorang yang telah bertemu dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian beriman kepada-Nya dan mati dalam keadaan tetap beriman. Terlepas orang tersebut bersahabat dengan Nabi dalam jangka waktu lama atau sebentar, meriwayatkan sesuatu dari Nabi atau tidak, berperang bersama Nabi atau tidak, melihatnya sendirian atau bersama orang lain. Ini semua karena tingginya kedudukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga para Ahli hadits memberikan predikat sahabat itu kepada seseorang yang pernah melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, meskipun hanya sekali. ( Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 423.)


Ketiga: Definisi menurut ahli ushul (Ushuliyin)

Diriwayatkan dari Abu al-Muzhaffar al-Sami'ani al-Marwazi, beliau menukilkan pengertian seorang sahabat menurut istilah ahli ushul. Sahabat adalah seseorang yang banyak bergaul bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bertemu langsung secara fisik, selalu hadir dalam majelis-majelis Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. mengambil pelajaran dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka dalam konteks ini tidaklah dikatakan sebagai sahabat seseorang yang hanya bertemu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sesaat, atau berjalan beberapa langkah bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendengarkan suatu hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ( Al-Kifayah hal. 100, Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 423, dan Tadribur Rawi karya Suyuthi 2/210.)
Yang paling kuat (rajih) adalah pendapat jumhur Ahli hadits, merekalah orang-orang yang berkompeten dalam bidang ini. Seandainya diambil pendapat ahli ushul tentu kita akan mengeluarkan sekelompok sahabat mulia Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam meskipun telah pasti kemuliaan mereka sebagai ssahabat. Hal ini disebabkan mereka tidak termasuk orang yang ikut meriwayatkan satu hadits pun dari beliau atau pertemuan mereka tidak berlangsung lama. Padahal mereka telah dikenal sebagai yang telah terbukti keadilan, kesucian, amanah dan kegigihan mereka dalam membela Islam.
Definisi yang dikemukakan oleh Ahli hadits sesuai pula dengan pendekatan makna bahasa, karena itu dalam konteks ini kita lebih memilih pendapat mereka dibandingkan pendapat ahli ushul.

BAGAIMANA MENGENAL SAHABAT?

Hal lain yang penting dipahami adalah cara menentukan seseorang dikenal sebagai sahabat. Ada beberapa metode dalam menganal sahabat. Seorang sahabat bisa diketahui melalui tiga cara:

Dengan cara tawatur ( Al-Kifayah hal. 100, Muqaddimah Ibnu Shalah hal. 426, Al-Taqrib karya Nawawi Syarh Tadribir Rawi 2/213, dan Fathul Mughits 3/96.) (periwayatan mutawatir). Seperti riwayat tentang Khulafaur Rasyidin, riwayat sepuluh nama sahabat yang telah dijamin masuk surga, ataupun nama-nama lainnya yang lewat riwayat telah dikenal sebagai golongan sahabat. ( Sama dengan sebelumnya)

Melalui berita yang masyhur meski di bawah derajat mutawatir. Seperti halnya Ghumam bin Tsa'labah ( Seorang sahabat bernama Dhamam bin Tsa'labah al-Sa'adi dari Bani Sa'ad bin Bakar. Menurut pendapat yang kuat ia bertemu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun ke-9. Tersebut namanya dalam Shahihain dan Sunan Abi Dawud. Periksa dalam Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah Ibnu Hajar al-Asqalani 2/210-211), 'Ukasyah bin Muhsin ( Seorang sahabat 'Ukasyah bin Muhshin bin Hurtsan al-Asadi, kunyahnya Abu Muhshin Halif Abdus Syams, termasuk deretan generasi pertama yang masuk Islam. Pernah ikut dalam perang Badar.  Tersebut namanya dalam Shahihain dalam deretan tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa beliau meninggal saat berperang melawan orang-orang  murtad, dibunuh oleh Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi. Periksa dalam Al-Isti'ab fi Ma'rifatis Shahabah karya Ibnu Abdil Bar 3/155-157 dan Al-Ishabah 2/494-495) dan yang semisalnya.

Informasi yang disampaikan oleh sahabat yang sudah dikenal namanya sebagai sahabat Nabi yang menyebutkan bahwa fulan adalah sahabat. Seperti ungkapan tegas: "dia memang sahabat". Bisa juga ungkapan lain: "saya dan fulan pernah bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam", atau "kami pernah mampir ke Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam". Hal ini dengan syarat bahwa fulan yang diisyaratkan sebagai sahabat saat itu benar-benar muslim. Yang masuk dalam katagori ini seperti Hamamah bin Abi Hamamah al-Dausi ( Seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ikut dikirim dalam pasukan perang ke Ashbahan di masa kekhilafahan Umar bin al-Khattab. Wafat diakibatkan menderita sakit perut. Periksa dalam Al-Isti'ab 1/392 dan Al-Ishabah 1/355.) sebagaimana kesaksian Abu Musa al-'Asy'ari ( Seorang sahabat bernama Abu Musa Abdullah bin Qais bin Salim al-'Asy'ari. Umar pernah mengangkatnya sebagai gubernur di Bashrah, yang kemudian di zaman Utsman dipindah ke Kufah. Beliau termasuk salah satu dua hakim yang terkenal di Shiffin. Menurut sebuah riwayat wafat tahun 50-an. Periksa dalam Taqribud Tahdzib 1/441 nomor biografi 551, Al-Isti'ab 2/371-373, dan Al-Ishabah 2/359-360.), ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa Hamamah mati syahid. ( Al-Kifayah hal. 101 dan Fathul Mughits 3/96.)
1.    Memperkenalkan diri bahwa ia adalah sahabat. Ini bisa dibenarkan bila yang bersangkutan memang terbukti sebagai orang yang adil dan hidup semasa dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Misalnya perkataan: saya pernah menemani Nabi atau perkataan yang membuktikan kedudukannya seperti "saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam" atau kalimat-kalimat lain yang semakna. Tentu jika pengakuannya tidak dibantah dan disangkal oleh salah seorang yang sudah lebih terbukti sebagai sahabat.
Pengakuan ini harus realistis atau setidaknya dapat dimungkinkan. Jika pengakuan sebagai sahabat dilakukan setelah seratus tahun dari masa meninggalnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentu saja ucapan ini tidak bisa diterima meskipun yang bersangkutan dikenal sebagai orang yang baik. Kasus semacam ini pernah terjadi di mana sekelompok orang mengaku sebagai sahabat setelah jangka waktu yang lama dari wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jelas mereka berdusta dengan pengakuan itu. Generasi terakhir dari barisan pendusta ini adalah orang yang bernama Rutan al-Hindi ( Dia bernama Rutan bin Abdillah bin Sahuk al-Hindi al-Mitarandi muncul namanya tahun enamratusan dan mengaku sebagai sahabat. Periksa Al-Ishabah 1/532-538.)
2.    Pengakuan seorang tabi'in yang dikenal adil bahwa fulan adalah sahabat. Seperti ungkapan fulan pernah menyampaikan kepadaku bahwa ia pernah mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (secara langsung, editor.). Menurut Ibnu Hajar ungkapan seperti ini termasuk cara yang kuat sebagai bentuk tazkiyah yang diakui meskipun dari satu orang tabi'in. ( -Ishabah 1/8 dan Al-Wajiz fi Ulumil Hadits karya Muhammad 'Ijaj al-Khatib hal. 364.)
Dengan uraian di muka semoga wawasan kita bertambah sehingga kita bisa mendudukkan posisi sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana mestinya.

Dari Dauru al-Shahabah fi Hifzhi al-Sunnah al-Nabawiyah wa Nasyriha. Dr. Dhiya' Muhammad Mahmud Jasim. Dar al-Kutub al-Ilmiah.

Sumber: Majalah FATAWA Vol IV No 8



Berita Terkait