Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

KISAH SYAIKH ABDURROZZAQ AL-BADR HAFIZHAHULLAH DI PASAR TANAH ABANG

Abu Bassam | Sabtu, 02 April 2016 - 09:40:37 WIB | dibaca: 2889 pembaca

Usai sholat dhuhur kami kembali sebentar ke hotel, setelah itu aku (Firanda) dan syaikh Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr diantar oleh salah seorang supir (yang dia juga merupakan salah satu donatur radiorodja) menuju pasar tanah abang untuk belanja hadiah buat keluarga syaikh di Madinah. Tatkala sampai di pasar, sang supir meminta maaf kepada syaikh karena tidak bisa untuk memarkirkan mobilnya dekat dengan pasar, tapi harus jauh dari pasar karena saking padatnya. Tatkala sang sopir hendak parkir maka seperti biasa ada tukang parkir yang membantu parkiran untuk nantinya diberi ongkos jasa parkir. Syaikh sempat heran melihat kehadiran tukang parkir ini, beliau sempat bertanya kepadaku, "Firanda, buat apa orang itu bantu parkir, kan abu fulan (pak supir) bisa parkir sendiri tanpa bantuannya?". Memang wajar kalau syaikh terheran-heran, karena di Arab Saudi memang tidak ada pemandangan seperti ini. Maka aku jelaskan, "Ya syaikh, dia itu sedang mencari nafkah, karena kemiskinan di Negara kami sehingga berbagai model kerjaan dilakukan, diantaranya kreasi para tukang parkir".

Sebaliknya tatkala ada seseorang yang berangkat ke tanah suci dan bertemu saya di kota Madinah, diapun terheran-heran, karena selama kita berjalan-jalan mengelilingi kota Madinah dia sama sekali tidak melihat ada seorang tukang parkirpun.

Setelah mobil kami parkir kamipun berjalan menuju pasar Tanah Abang, dan tatkala itu kondisi pasar bagian luar agak becek, bahkan sebagian tempat tergenang air. Namun meskipun syaikh harus berjalan agak jauh dan harus melewati tanah yang becek  bahkan berair serta penuh dengan keramaian namun beliau sama sekali tidak mengeluh. Kamipun memasuki pasar Tanah Abang, dan beliau memang ingin mencari baju-baju wanita khas Indonesia terutama yang bernuansa batik. Akhirnya setelah lama berputar-putar sudah banyak baju yang dibeli beliau. Demikian juga beliau membeli baju untuk anak-anak bahkan untuk bayi, karena beliau masih memiliki seorang putra yang berumur belum setahun. Selain itu beliau juga belikan untuk cucu-cucu beliau. Banyak yang beliau belanja, dan untuk sementara yang membayar adalah sang sopir, karena syaikh hanya membawa uang real, tidak membawa uang rupiah.


Rahmat kepada pelaku kemaksiatan

Tidak terasa ternyata udah masuk waktu ashar, dan subhaanallah ternyata kumandang adzan ashar terndengar di dalam pasar, hal ini sangat menyenangkan hati beliau. Kamipun menuju musolla, ternyata mushollanya sangat kecil, ukurannya kira-kira 2 kali 6 meter. Sehingga orang-orang pada sholat sendiri-sendiri sementara banyak orang yang ngantri. Aku dan syaikhpun ikutan ngantri. Musolla kecil tersebut terbagi menjadi 2 saf, saf depan untuk para lelaki dan saf belakang untuk para wanita. Ternyata –alhamdulillah- banyak juga mbak-mbak yang ngantri ingin melaksanakan sholat. Dan suatu pemandangan yang aneh bagi syaikh, ada beberapa wanita yang tidak berjilbab, bahkan ada yang memakai pakaian menor (alias banyak yang aurotnya kelihatan) akan tetapi ikut ngantri untuk sholat sambil membawa mukena. Syaikh bergumam, "Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka karena sholat mereka ini. Kasihan… karena kejahilan mereka".

Aku tertegun tatkala mendengar ucapan dan doa syaikh ini. Yang sering aku dapati banyak dai tatkala melihat seseorang melakukan kemaksiatan –seperti membuka aurot atau terjerumus dalam bid'ah atau kesyirikan atau kemaksiatan-kemaksiatan yang lain- serta merta marah dan tidak member udzur kepada pelaku maksiat tersebut, bahkan bisa jadi terlontar cacian dan makian kepada pelaku maksiat tersebut. Akan tetapi syaikh di sini memandang para wanita yang terbuka aurotnya tersebut dengan pandangan rahmat, semoga Allah memaafkan mereka. Bahkan syaikh berusaha mencari udzur buat mereka dengan berakta, "Karena kejahilan mereka …".

Sepertinya hal ini adalah hal yang sepele, tapi ketahuilah para pembaca sikap ini merupakan sikap yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang da'i tatkala berdakwah. Sebagian da'i ketika berdakwah memasang kuda-kuda menyerang dan seakan-akan pelaku maksiat yang ada dihadapannya memang harus diserang dan tidak ada udzur baginya. Sehingga sang dai tidak menunjukan rasa rahmatnya kepada para pelaku maksiat. Sehingga hal ini berpengaruh dalam pola dakwahnya yang akhirnya dipenuhi dengan kekerasan dan kekakuan. Berbeda dengan seorang da'i yang sejak awal sudah menanamkan rasa ibanya kepada pelaku maksiat, maka dia akan berusaha berdakwah dengan sebaik-baiknya karena kasihan kepada para pelaku maksiat, dan harapannya agar mereka bisa memperoleh hidayah dengan sebab dia.

dikutip dari: Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 8)
https://firanda.com/index.php/artikel/adab-akhlaq/160-mendulang-pelajaran-akhlak-dari-syaikh-abdurrozzaq-al-badr-hafizhahullah-seri-8
 
 



Berita Terkait