Artikel Bin Baz

KEUTAMAAN PUASA HARI ARAFAH (TANGGAL 9 DZULHIJJAH)

Admin IT | Senin, 20 Agustus 2018 - 10:24:23 WIB | dibaca: 172 pembaca

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) aku harap kepada Allah dapat menghapus dosa tahun yang sebelumnya dan tahun yang setelahnya.” [HR. Muslim dari Abu Qotadah radhiyallahu’anhu]

🚧 TAPI ADA SYARATNYA....

Syarat untuk mendapatkan penghapusan dosa dengan amal-amal shalih adalah dengan menjauhi dosa-dosa besar atau bertaubat kepada Allah ta’ala dari dosa-dosa besar tersebut.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

"Sholat lima waktu, sholat Jum'at sampai Jum'at berikutnya dan puasa Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, adalah amalan-amalan penghapus dosa yang dilakukan di antara waktu-waktunya, selama dosa-dosa besar dijauhi." [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

قال جمهور أهل العلم: إن أداء الفرائض وترك الكبائر يكفر السيئات الصغائر، أما الكبائر فلا يكفرها إلا التوبة إلى الله سبحانه وتعالى

“Mayoritas ulama berkata: Sesungguhnya mengamalkan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]

Dan tidak diragukan lagi bahwa Dzulhijjah adalah momen yang sangat indah untuk bertaubat, karena Dzulhijjah adalah bulan yang Allah muliakan, maka lebih tidak patut bagi seorang hamba untuk melakukan dosa atau menunda-nunda taubat.

Dan bagi jama'ah haji, tidak dianjurkan puasa Arafah, agar lebih kuat untuk menunaikan wukuf di Arafah serta memperbanyak dzikir dan doa.


-----------------------------------------------
PUASA ARAFAH IKUT WUKUF DI ARAFAH ATAU NEGERI KITA?

بسم الله الرحمن الرحيم

Pendapat yang kuat insya Allah adalah tetap mengikuti ru’yah dan keputusan Pemerintah di negeri kita.

Berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Berpuasa adalah hari kalian berpuasa, berbuka (berhari raya idul fitri) adalah hari kalian berbuka dan berkurban (berhari raya idul adha) adalah hari kalian berkurban.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 224]

Al-Imam Abu Isa At-Tirmidzi rahimahullah setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkata,

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ : إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا الصَّوْمُ وَالْفِطْرُ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعِظَمِ النَّاسِ

“Sebagian ulama telah menafsirkan hadits ini, mereka berkata: Hanyalah makna hadits ini adalah berpuasa dan berbuka (berhari raya) bersama al-jama’ah (Pemerintah) dan kebanyakan manusia (tidak sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok).” [Sunan At-Tirmidzi, 2/72]

Al-‘Allaamah As-Sindi rahimahullah berkata,

وَالظَّاهِر أَنَّ مَعْنَاهُ أَنَّ هَذِهِ الْأُمُور لَيْسَ لِلْآحَادِ فِيهَا دَخْل وَلَيْسَ لَهُمْ التَّفَرُّد فِيهَا بَلْ الْأَمْر فِيهَا إِلَى الْإِمَام وَالْجَمَاعَة وَيَجِب عَلَى الْآحَاد اِتِّبَاعهمْ لِلْإِمَامِ وَالْجَمَاعَة

“Dan nampak jelas bahwa makna hadits ini adalah, perkara-perkara ini (menentukan waktu puasa dan hari raya) tidak boleh ada campur tangan individu-individu dan tidak boleh bagi mereka untuk menetapkan keputusan sendiri, akan tetapi keputusannya diserahkan kepada pemimpin dan pemerintah, dan wajib bagi individu-individu untuk mengikuti keputusan pemimpin dan pemerintah.” [Haasyiatus Sindi ‘ala Ibni Majah, 1/509]

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لو قدر أنه تأخرت الرؤية عن مكة وكان اليوم التاسع في مكة هو الثامن عندهم، فإنهم يصومون يوم التاسع عندهم الموافق ليوم العاشر في مكة، هذا هو القول الراجح

“Andaikan ru’yah di suatu negeri terlambat dari Makkah, sehingga tanggal 9 di Makkah adalah tanggal 8 di negeri mereka, maka hendaklah mereka berpuasa pada tanggal 9 di negeri mereka yang bertepatan dengan tanggal 10 di Makkah, inilah pendapat yang kuat.” [Majmu’ Fatawa war Rosaail, 20/29]

Alasan lainnya adalah pernah terjadi dahulu kaum Syi'ah menyerang kota Makkah sehingga haji tidak dapat ditunaikan oleh seluruh kaum muslimin, maka tidak ada wukuf di Arafah, tentunya tidak menghalangi kaum muslimin untuk tetap berpuasa Arafah.

Terlebih lagi di zaman dulu belum ada internet dan telepon, sehingga kaum muslimin di berbagai negeri yang jauh dari Makkah tidak dapat memastikan kapan waktu wukuf di Arafah.

Namun sangat baik untuk berpuasa di tanggal 8 Dzulhijjah juga, karena dianjurkan berpuasa mulai tanggal 1 - 9 Dzulhijjah, berdasarkan keumuman dalil memperbanyak amal shalih di awal Dzulhijjah, dan puasa termasuk amal shalih.

Juga berdasarkan hadits dari sebagian istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ

“Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa 9 hari awal Dzulhijjah.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2106]


Ustadz Sofyan Ruray Hafizhahullah

Sumber:

https://web.facebook.com/taawundakwah/posts/2215863781979754

https://www.instagram.com/p/Bmp987eBl1E/





Berita Terkait