Artikel Bin Baz

KESURUPAN JIN (Penyebabnya dan Pengobatannya)

Abu Bassam | Kamis, 23 April 2015 - 10:17:39 WIB | dibaca: 3391 pembaca

Kesurupan jin merupakan kejadian nyata. Walaupun sebagian kecil orang ada yang tidak mempercayainya namun hal itu terbantahkan dengan adanya nash yang jelas dari al-Kitab dan al-Sunnah, juga fakta di tengah masyarakat. Seseorang yang telah kerasukan jin otomatis hidupnya menjadi hancur. Akalnya tidak berfungsi lagi dan rohnya dikuasai oleh jin. Dia akan tidak karuan, dan melakukan perbuatan–perbuatan yang tidak terkontrol. Sungguh memprihatinkan kondisi seseorang akibat kerasukan jin.  Semoga Allah Subhanallahu wa ta'ala menjauhkan kita dari penguasaan Jin.  Tentang kesurupan jin Al-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata,

“Kesurupan, kita berlindung kepada Allah darinya, itu ada dua jenis:


1.    Kesurupan karena adanya kerusakan pada urat syarafnya, ini adalah penyakit anggota tubuh yang mungkin untuk diobati oleh para dokter, dengan memberikan obat yang akan bisa menenangkan urat syarafnya atau bahkan terkadang menyembuhkannya.

2.    Jenis kedua adalah kesurupan yang disebabkan oleh setan dari kalangan jin
, yaitu jin menguasai seseorang, lalu merasukinya. Jin akan membuat orang yang dirasukinya terkapar di tanah dan pingsan, disebabkan oleh dahsyatnya pengaruh kerasukan.  Sementara yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Kesurupan jenis ini, kita memohon kepada Allah agar dilindungi, cara penyembuhannya adalah dengan bacaan al-Quran yang dilakukan oleh orang yang berilmu dan baik. Dalam hal ini kadang jin berbicara dan menjelaskan motifnya dalam merasuki manusia, tetapi kadang tidak mau berbicara.

Ada dua upaya untuk mengatasi kerasukan, yaitu:


1.    Upaya penangkalan.
Hendaknya seseorang berupaya sungguh–sungguh membaca wirid–wirid yang disyariatkan tiap pagi dan petang. Dan wirid–wirid tersebut mudah didapat di dalam kitab–kitab Ahli Ilmu. Di antara wirid tersebut adalah membaca ayat kursi, barangsiapa membacanya pada malam hari akan selalu mendapat penjagaan dari Allah, dan tidak didekati oleh setan sampai datangnya pagi. Juga membaca surat al-Ikhlas, atau mengamalkan doa-doa yang terdapat dalam hadits Nabi [Tentang wirid pagi dan petang dapatkan dalam bonus Majalah Fatawa vol. IV no. 06, yang sumbernya diperoleh dari buku Hisnul Muslim karya Al-Qahthani, redaksi.]. Hendaknya seorang mukmin rajin mengamalkan wirid tersebut, yang menjadi sebab terlindungnya manusia dari gangguan jin.

2.    Melakukan pengobatan.
Apabila seseorang terkena kesurupan jin, hendaknya dibacakan ayat-ayat al-Quran  yang mengandung makna ancaman, peringatan–peringatan, dan permohonan perlindungan kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala. Dilakukan  sampai jin tersebut mau keluar dari orang yang kerasukan. [Contoh doa dan dzikir untuk melakukan pengobatan akibat kerasukan dan sihir bisa diperoleh dalam bonus Majalah Fatawa edisi kali ini, vol. IV no. 07, redaksi.].” (Ringkasan dari Syarh Riyadhus Shalihin Jilid I bab Sabar)


Fatwa Syaikh Bin Baz Rahimahullah
   
“Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para keluarganya, para sahabatnya, dan orang–orang yang mengikuti mereka.  Amma ba'du.
Sebagian koran lokal pada bulan Sya'ban tahun 1407 H memuat beberapa komentar baik ringkas maupun yang panjang lebar terkait dengan pernyataan keislaman jin laki–laki di hadapanku yang merasuk pada tubuh seorang muslimah.  Sebelumnya jin tersebut telah menyatakan keislamannya di hadapan Saudara Abdullah Bin Musyrif al-Umari yang berdomisili di Riyadh, setelah sebelumnya Saudara Abdullah membacakan al–Quran pada wanita yang dirasuki oleh jin tersebut.  Saudara Abdullah berbicara dengan jin tersebut dan mengingatkannya tentang adzab Allah, menasehati, dan menjelaskan kepadanya bahwa kezhaliman adalah haram dan dosa besar.  Saudara Abdullah menyuruhnya agar keluar dari tubuh wanita tersebut.  Jin tersebut mau menerima dakwah dan menyatakan keislamannya di hadapan Saudara Abdullah.  Saudara Abdullah dan wali wanita tersebut kemudian berkenan menghadirkan wanita tersebut di hadapanku, agar aku bisa mendengar langsung pernyataan keislaman jin tersebut. Ketika wanita itu telah dihadirkan, aku menanyai jin tersebut tentang sebab masuknya dia ke tubuh wanita itu. Jin menjawab melalui lisan wanita tersebut, dengan suara yang keluar berupa suara laki-laki…bukan suara wanita!  Beberapa ulama turut menyaksikan peristiwa itu dan mendengar perkataan jin. Lalu Jin tersebut menyatakan keislamannya dengan jelas dan memberitahukan bahwa dia berasal dari India, penganut agama Budha.  Aku menasehatinya dengan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah dan keluar dari tubuh wanita tersebut.  Jin tersebut menuruti nasehatku, mengatakan mau menerima Islam. Lalu aku berwasiat kepadanya agar mengajak kaumnya untuk memeluk Islam setelah Allah memberikan Hidayah kepadanya. Dia memberikan janji yang baik dan keluar dari tubuh wanita tersebut.  Kalimat terakhir yang dia ucapkan adalah Assalamu'alaikum warahmatullah. Wanita tadi akhirnya mampu kembali berbicara seperti sediakala, dan merasa telah bebas dari cengkeraman jin tersebut.
Lebih dari sebulan kemudian, wanita tersebut datang kepadaku diantar oleh keluarganya, untuk mengabarkan bahwa keadaannya baik dan sehat dan jin tersebut tidak kembali lagi. Alhamdulillah. Aku menanyainya tentang yang dirasakannya tatkala jin masih berada di dalam tubuhnya. Katanya dia merasa memiliki pemikiran-pemikiran buruk yang bertentangan dengan syariat dan condong terhadap agama Budha. Saat itu juga ada keinginan kuat untuk mempelajari kitab-kitab yang berkaitan dengan kebudhaan. Setelah jin tersebut keluar, semua pemikiran menyimpang itu lenyap dari dirinya.
Tentang fenomena kesurupan jin Imam al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat,

الَّذِينَ يَأْكُلوُنَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila…”
(Al-Baqarah:275)

'Di dalam ayat ini terdapat petunjuk yang menyatakan kesalahan orang yang mengingkari fenomena kerasukan jin ke dalam tubuh manusia. Mereka menyangka bahwa kesurupan hanyalah disebabkan oleh tabiat, setan tidak berjalan di dalam tubuh manusia, dan tidak bisa menyebabkan manusia menjadi gila.'

Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah berkata, 'Tidak bisa dipungkiri bahwa jin memang ada berdasarkan al-Kitab dan al-Sunnah serta kesepakatan Salaful Ummah. Begitu pula fenomena merasuknya jin ke dalam tubuh manusia, memang nyata adanya berdasarkan kesepakatan para imam Ahlussunnnah wal Jama'ah. Rasulullah pun di dalam hadits sahih mengatakan bahwa setan berjalan pada diri manusia mengikuti tempat aliran darah.'

Abdullah bin Imam Ahmad berkata, 'Aku bercerita kepada bapakku tentang keberadaan sekelompok orang yang mengingkari masuknya jin dalam tubuh orang yang kerasukan.' Imam Ahmad berkata, 'Wahai anakku, mereka telah berdusta, bahwa jin telah merasuk pada tubuh–tubuh mereka dan mengatakan seperti itu melalui lisan–lisan mereka.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, 'Bermunculanlah para dokter yang mengingkari dan merusak agama, yang tidak mempercayai adanya fenomena kerasukan jin dalam tubuh manusia. Mereka hanya mengakui kesurupan yang disebabkan oleh faktor rusaknya urat syaraf.  Tentunya orang yang berakal dan mengenal pengaruh jin jahat akan menertawakan kebodohan dan lemahnya akal mereka.'
Sementara itu untuk pengobatan kesurupan yang disebabkan oleh jin dibutuhkan dua hal.

Hal yang pertama dari sisi orang yang kesurupan. Hendaknya dia memiliki jiwa yang kokoh dan kuat, benar-benar dalam menghadapkan dirinya kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala yang telah menciptakan jin-jin jahat tersebut. Yang bersangkutan berupaya memohon perlindungan yang benar kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala, yaitu permohonan perlindungan yang dihayati dan diresapi dalam hati. Mengobati kesurupan jin adalah sebuah bentuk pertempuran.  Orang yang hendak bertempur, walaupun membawa senjata, tak akan memenangkan pertempuran tanpa memenuhi dua faktor. Yang pertama, hendaknya memiliki senjata yang benar-benar berkualitas.  Yang kedua, orangnya kuat dan mahir dalam memainkan senjatanya.  Jika salah satu tidak terpenuhi maka senjata tersebut tidak bisa memberikan banyak manfaat. Apalagi jika dua-duanya tidak terpenuhi, yaitu manakala seseorang hatinya melompong dari tauhid, ketakwaan, tawakal, dan tawajjuh kepada Allah ditambah lagi tak memiliki senjata yang baik, berupa permohonan pelindungan yang benar kepada Allah Subhanallahu wa ta'ala.

Hal yang kedua (dari dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengobatan ini, redaksi.) dari sisi orang yang mengobati. Dua hal ini hendaknya dipenuhi olehnya.  Dengan begtu jin akan cepat keluar.  Bahkan sebagian orang ketika mengobati kesurupan cukup dengan menggertak berupa perkataan 'keluar kamu!', ada yang cukup mengucapkan bismillah, atau ucapan la haula wala quwwata illa billah. Nabi sendiri ketika mengobati orang yang kesurupan cukup mengatakan, 'Keluar kamu wahai musuh Allah, aku adalah Rasulullah! Aku pernah menyaksikan guru kami mengutus seseorang untuk mendatangi orang yang kesurupan. Utusan tersebut mengatakan, Syaikh mengatakan kepadamu, keluarlah! Sesungguhnya tidak halal bagimu merasuki manusia.  Maka kemudian orang yang kesurupan itu sadar. Dalam pengobatan kadang guru kami berbicara dengan jin. Ketika didapati jin yang membandel terpaksa Syaikh mengeluarkannya dengan cara memukul hingga orang yang kesurupan tersebut sadar tanpa merasakan sakit.

Jin mampu menguasai seseorang disebabkan orang tersebut sedikit sekali ketaatannya kepada Allah, hati & lisannya kosong dari hakikat dzikir, selain juga tidak mengamalkan doa yang berisi permohonan perlindungan dan penjagaan dari setan sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Hal ini diperparah dengan rapuhnya keimanan yang dimilikinya. Dalam kondisi demikian jin jahat kemudian menyerangnya. Ibaratnya orang tersebut tidak memiliki senjata atau dalam keadaan telanjang tidak ada pakaian yang bisa melindunginya. Akhirnya setan pun dengan mudah menguasai dirinya.

(Fatwa Syaikh Bin Baz dalam Al-Fatawa al-Dzahabiyyah hal. 246 dengan diringkas)

Sumber: Majalah FATAWA Vol IV No 7

 




Berita Terkait