Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

JUJUR

Abu Bassam | Senin, 06 April 2015 - 10:06:49 WIB | dibaca: 2638 pembaca

ilustrasi

Saya pernah menjadi pengawas ujian untuk mahasiswa. Kebetulan hari itu adalah hari Kamis. Sebenarnya hari Kamis adalah hari libur. Tetapi kami terpaksa mengadakan ujian pada hari itu karena padatnya mata kuliah yang harus diujikan.

Beberapa menit setelah ujian di mulai, tiba-tiba seorang mahasiswa datang terlambat. Mahasiswa yang malang ini terlihat sangat gugup.
Saya berkata kepadanya: “Maaf, kamu terlambat dan aku tidakakan mengizinkan kamu mengikuti ujian.”
Lalu dia memohon kepada saya agar saya mengizinkan-nya.
“Kenapa kamu terlambat?” tanya saya. Dia menjawab: “Demi Allah, Pak Doktor! Saya keenakan tidur!”
Saya kagum dengan kejujurannya dan saya berkata: “Masuklah! Silakan mengikuti ujian!”

Beberapa menit kemudian ada mahasiswa lain yang datang.
“Kenapa terlambat?” tanya saya.
Dia menjawab: “Pak, demi Allah, jalannya maaaacet sekali. Anda tahu bahwa di pagi hari semua orang berangkat ke tempat kerja masing-masing. Ada yang ke kampus. Ada yang ke perusahaan. Ada yang.... la sebutkan satu persatu untuk meyakinkan saya bahwa jalannya macet. Tapi mahasiswa yang malang ini lupa bahwa hari itu adalah hari libur bagi para pegawai. Dan boleh jadi di jalan tidak ada orang lain selain mahasiswa kami.
“Jadi, jalan raya macet dan penuh dengan mobil?!” kata saya.
Dia menjawab: “Demi Allah, Pak! Subhanallah Sepertinya Anda tadi bersama saya.”
Saya berkata: “Hai anak pintar! Kalau kamu mau berbohong, berbohonglah yang rapi. Hari ini adalah hari Kamis. Berarti tidak ada pekerjaan dan tidak ada pegawai yang berangkat kerja. Dari mana kemacetan itu?"
Dia berkata: “Oooh! Saya lupa, Pak! Ban mobil saya kempes, lalu saya berhenti untuk menggantinya.”
Mahasiswa yang malang ini sangat gugup dan kelabakan. Saya tertawa dan menyuruhnya masuk ke ruang ujian.

Memang, alangkah jeleknya bila orang lain mengetahui bahwa Anda berbohong kepadanya. Kebohongan akan menjauhkan orang dari Anda dan membuat anda kehilangan kepercayaan dari mereka. Sehingga mereka tidak percaya lagi kepada Anda.
Kalau mereka punya masalah, mereka tidak akan mengadu kepada Anda. Dan kalau Anda membicarakan sesuatu, mereka tidak akan mau mendengarnya.
Alangkah buruknya kebohongan itu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يُطْبَعُ اْلمُؤْمِنُ عَلَى اْلخِلاَلِ كُلِّهَا إِلاَّ اْلخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ

“Orang beriman itu diciptakan dengan segala macam sifat kecuali khianat dan dusta.”  ( Diriwayatkan oleh Muslim)
Kemudian beliau ditanya: “Ya Rasulullah, mungkinkah orang beriman itu menjadi penakut?”
“Ya,” jawab beliau.
Lalu beliau ditanya: “Mungkinkah orang beriman itu menjadi kikir?”
“Ya,” jawabnya.
Kemudian beliau ditanya: “Mungkinkah orang beriman itu menjadi pendusta?”
Beliau menjawab: “Tidak!” ( Diriwayatkan oleh Malik dalam Al-Muwaththa dengan sanad mursal.)

Abdullah bin Amir berkata: “Suatu hari aku dipanggil oleh ibuku, sementara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di rumah kami. “Hai, kemarilah! Aku mau memberimu sesuatu!” kata ibu. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: “Apa yang mau kau berikan padanya?”" “Aku mau memberinya kurma,” jawabnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Sungguh, kalau seandainya kamu tidak memberinya sesuatu, maka kamu akan dicatat berbohong satu kali.”  ( Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan.)

Dan ketika beliau mengetahui bahwa salah satu keluarganya berbohong satu kali, maka beliau akan terus berpaling darinya.
Dalam banyak kasus sebagian orang sengaja berbohong untuk memberikan kesan bahwa dirinya lebih besar daripada kenyataan yang ada.
la berbohong pada kisah-kisah heroik yang dikarangnya dan kejadian-kejadian yang diciptakannya.
Atau menambahkan sesuatu pada kisah-kisah yang disampaikannya untuk mempermanis alur ceritanya.
Atau mengaku mempunyai hal-hal tertentu, padahal ia berbohong. Sehingga ia menjadi kenyang dengan sesuatu yang tidak pernah dia berikan.

Terkadang Anda menjumpai seorang pembohong yang berjanji dan tidak menepati. Atau menutup-nutupi sesuatu dengan mengarang bermacam-macam alasan. Tapi tidak lama kemudian publik mengetahui kebohongannya.
Imam Az-Zuhri pernah berdiri di depan penguasa untuk memberikan kesaksian atas sesuatu.
Lalu sang penguasa berkata: “Kamu berbohong!”
Az-Zuhri langsung berteriak: “A'udzu billah! Aku berbohong?! Demi Allah, seandainya ada suara dari langit yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah menghalalkan berbohong, niscaya aku tidak akan berbohong. Jadi, mana mungkin aku berbohong, sedangkan bohong itu diharamkan?!”


Sumber: Majalah FATAWA Vol IV No 06
yang bersumber dari: Nikmatilah Hidup Anda oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Arifi




Berita Terkait