Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

JUJUR LAWAN TAQIYAH

Abu Bassam | Senin, 14 September 2015 - 09:45:01 WIB | dibaca: 2812 pembaca

Baliho Rencana Pembukaan Kedubes Iran di Israel

Ahlussunnah wal Jama'ah di sepanjang zaman senantiasa memiliki ciri khas. Sebuah ciri yang membedakan mereka dengan ahlul bid'ah wal furqah (para pengusung bid'ah dan perpecahan). Di antara ciri khas tersebut, dan ini termasuk yang paling kental, adalah menjunjung tinggi kejujuran.

Jujur dalam ucapan, keyakinan, beramal, maupun berdakwah. Tidak sebagaimana perilaku musuh-musuh mereka. Syi'ah, misalnya, yang membungkus dakwah dengan baju kedustaan. Kemasan kedustaan ini berupa taqiyah. Taqiyah merupakan salah satu prinsip agama Syi'ah. Taqiyah adalah menampakkan diri sebagai orang yang mengamalkan Islam, tetapi hakekatnya mereka adalah kelompok yang bertentangan dengan agama Islam yang murni. Bahkan mereka berkeyakinan: ‘Taqiyah adalah agama kami!'

PENGERTIAN JUJUR DAN KEUTAMAANNYA

Jujur adalah kesesuaian perkataan dengan kenyataan berdasarkan keyakinan orang yang berkata tersebut. Ini kebalikan dari dusta. Dengan demikian jujur cakupannya luas, tidak hanya orang yang berdusta lisannya, lebih dari itu orang yang riya'/ingin dipuji manusia dalam melakukan ketaatan disebut sebagai orang yang tidak jujur. Hakekatnya orang riya' ketika melakukan ketaatan berarti sedang menginformasikan bahwa dirinya orang yang taat karena Allah. Sementara kenyataan hatinya mengharapkan pujian manusia. Demikian pula orang munafik, Syi'ah, ahli bid'ah dan yang semisalnya pun dikatakan tidak jujur, karena info yang ditampakkan menyelisihi kenyataan. 

Tidak samar bahwa jujur mempunyai keutamaan dan pahala yang besar. Hal ini menunjukkan betapa jujur begitu tinggi kedudukannya dalam agama Islam. Di antara keutamaan tersebut adalah: 
 
a. Merupakan ciri khas orang yang beriman dan bertakwa (Al-Ahzab ayat 35). Barangsiapa mempunyau sifat-sifat tersebut akan menjadi orang yang beruntung. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk dalam golongan ini.
 
b. Allah telah memerintahkan hamba-hamba–Nya yang beriman agar bersama orang-orang yang jujur serta senantiasa jujur didalam seluruh keadaan. (Al-Taubah ayat 119)
 
c. Salah satu yang menunjukkan keutamaan jujur adalah keburukan lawannya (dusta). Bahkan kedustaan termasuk tanda orang munafik.
Disebutkan hadits dalam Al-Shahihain [yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim] dari 'Abdullah bin 'Amr bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Ciri orang munafik ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji menyelisihi, dan jika diberi amanat akan berkhianat.” 
 
d. Kejujuran adalah jalan untuk menggapai kebaikan dan surga, kebalikannya, dusta adalah jalan kejahatan dan neraka. Dalam Al-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan dan kebaikan menuntun ke surga. Sungguh seseorang yang benar-benar belaku jujur, hingga di sisi Allah dianggap sebagai orang yang senantiasa jujur. Sesungguhnya dusta menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka. Sungguh seseorang benar-benar belaku dusta hingga di sisi Allah ditetapkan sebagai seorang pendusta.”


CAKUPAN JUJUR
Cakupan jujur yang paling penting meliputi tiga hal:
a. jujur di dalam niat dan tujuan
b. jujur  dalam ucapan 
c. jujur dalam amal

Berikut adalah uraian tentang tiga hal tersebut:

a. Jujur di dalam niat dan tujuan
Jujur dalam niat dan tujuan di dalam setiap ketaatan yang dilakukan seorang muslim, menuntutnya untuk ikhlas di dalam niat karena Allah Ta'ala di dalam setiap ketaatan tersebut. Konsekuensi dari jujur adalah kesesuaian hati dengan kenyataan lahiriah yang dilakukannya. Jika yang dilakukan oleh anggota tubuhnya adalah ketaatan maka tentu konsekuensi jujur adalah hatinya pun taat sesuai dengan lahiriahnya, yaitu dengan mengikhlaskan niat kepada Allah Ta'ala semata. Itulah kejujuran, senantiasa membawa pelakunya untuk berlaku sama dalam penampilan lahiriah dan batinnya, sama-sama berada dalam ketaatan kepada Allah Ta'ala. Karena itu tidak disebut sebagai orang yang jujur ketika lahiriahnya terlihat berdakwah, sementara batinnya hanya mengharap pujian manusia. Demikian juga tidaklah disebut jujur ketika seseorang secara lahiriah menampakkan sebagai orang yang mendakwahkan kebenaran sementara 'di belakang layar' menyembunyikan ajaran kesesatan (melakukan taqiyah). 

b. Jujur dalam ucapan 
Jujur jenis ini menuntut pelakunya untuk menjahui seluruh ucapan kebatilan, baik berupa ucapan dusta, celaan, laknat, ucapan keji, menggunjing, maupun pengakuan palsu. Pendek kata sosok muslim yang jujur akan senantiasa berusaha menampakkan keislamannya sesuai ajaran Islam, sehingga sesuailah ucapannya dengan pengikraran keislamannya. Artinya dia jujur, karena ucapannya sesuai dengan ajaran Islam yang diikrarkannya sebagai agama yang dipeluknya tersebut. Terlebih lagi jika seorang da'i, konsekuensi kejujurannya adalah tidak mendakwahkan sesuatu kecuali kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Itulah Islam yang asli dan murni. Bukanlah termasuk da'i yang jujur tatkala dia mengaku mendakwahkan Islam tapi ternyata tidak jujur, karena yang didakwahkan adalah bukan ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan ajaran imam-imam sesat mereka yang justru menyeru manusia membenci kebanyakan para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. [Kelompok Syi'ah mengklaim secara dusta mempunyai imam dari kalangan ahli bait, sering pula membuat pernyataan yang secara dusta disandarkan kepada imam yang baik tersebut, redaksi]

c. Jujur dalam amal
Maksudnya kesesuaian seluruh amalan dengan kebenaran dalam Islam. Tidaklah seseorang dikatakan jujur sementara amalannya bertentangan dengan sunnah, justru melakukan amal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagian orang ada yang tertipu dengan ajaran yang hakekatnya bukan ajaran Islam, sedikitpun, sebagaimana upacara ritual setaniyah perayaan hari 'Karbala. [Perayaan Karbala adalah perayaan orang Syiah yang mengklaim bekabung atas syahidnya cucu Rasulullah, Husain bin Ali h, di tanah Karbala, mereka ada yang ‘sekadar' memukul dan menampar pipi hingga ada yang melukai tubuhnya dengan pedang. Bagaimana disebut ajaran Islam sementara meratap dengan menampar pipi dan merobek baju saja dilarang oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? redaksi]


KEJUJURAN DAN KEBERHASILAN DAKWAH

Kejujuran memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan dakwah Islam yang benar. Gambaran pengaruh tersebut nampak pada kisah naiknya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ke atas bukit Shofa untuk menyeru orang–orang dari beberapa suku. Begitu mereka berkumpul Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berseru, “Bagaimana kiranya pendapat kalian, seandainya aku kabarkan bahwa ada kuda di lembah ini hendak menyerang, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menjawab, “Tentu! Tidak pernah kami temukan pada dirimu selain kejujuran.” Kemudian beliau lanjutkan seruannya dengan berdakwah memperingatkan manusia dari pedihnya api neraka. Kisah ini tersebut dalam hadits riwayat al-Bukhari.   

Demikianlah para pembaca, buah dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dakwah yang benar! Sebuah dakwah yang kemudian diteruskan oleh murid-murid beliau dari kalangan sahabat yang mulia. Sehingga barangsiapa menyerukan ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana dipahami & didakwahkan oleh para sahabat beliau, niscaya akan menemui kesuksesan pula dalam berdakwah.

Sebaliknya, barangsiapa yang isi dakwahnya justru bertentangan dengan apa yang dipahami oleh para murid Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan menemui kegagalan. Pantaskah kita pecaya pada sebuah gerakan dakwah model Syi'ah yang menyerukan bahwa al-Quran yang ada pada kaum muslimin saat ini adalah al-Qur-an yang telah diubah oleh para sahabat sehingga tidak lengkap alias tidak asli! Kaum Syi'ah meyakini bahwa mush-haf merekalah yang benar, mereka klaim sebagai mush-haf Fathimah, yang ukurannya tiga kali lipat daripada al-Quran yang ada sekarang.

Pantaskah mereka disebut kaum beriman, ketika pemimpin mereka —Khumaini— berkata, “Dan sesungguhnya yang pasti dalam madzhab kami bahwa para imam kita memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh satupun Malaikat yang dekat dengan Allah, tidak juga Nabi yang diutus!” 
Maksudnya, mereka punya keyakinan bahwa kedudukan para imam mereka jauh lebih tinggi daripada kedudukan para malaikat dan nabi, termasuk dibanding dengan utusan paling mulia dari kalangan manusia Nabi Muhammad dan dari kalangan malaikat, Jibril! Wal'iyadzu billah.
Masih banyak  keyakinan agama Syi'ah yang sesat dan menyesatkan. Lantas apakah seorang muslim sudi menukar agama Islam dengan agama Syi'ah hanya demi nikah mut'ah. 

Ditulis oleh al-Ustadz Sa'id Abu Ukasyah

Sumber: 
1. Muqawwimatud Da'iyyah al-Najih fi Dhau-il al-Kitab wa al-Sunnah, Mafhum wa Nazhar wa Tathbiq, karya Syaikh Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani.
2. Al-Hikmah fid Da'wah ilallahi Ta'ala, karya Syaikh Sa'id bin 'Ali bin Wahf al-Qahthani
3. Mulia dengan Manhaj Salaf, karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir bin Jawas 

sumber : Majalah FATAWA NO V No 119

Baca Juga:
 
 



Berita Terkait