Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

JANGAN PERNAH MERASA AMAN

Abu Bassam | Selasa, 05 April 2016 - 10:21:21 WIB | dibaca: 1346 pembaca

الســـلامـ عليكــــمـ ورحمة الله وبركــــاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، و على آله و اصحابه ومن وله ، و بعد
‎  
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,

Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam seringkali membaca sebuah berdoa yang berbunyi:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ
ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Zat yang membolak-balikan hati, kokohkanlah hatiku di atas agama-Mu."

Para sahabat Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam, ketika mendengar Nabi mereka sering kali membaca doa tersebut, memberanikan diri bertanya kepada Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

Mereka mengatakan:

"Ya Rasulullah, kami sudah beriman kepada engkau dan kami beriman dengan ajaran yang engkau bawa, apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?"

Jadi (seakan-akan para sahabat berkata):

√ Kita sudah beriman;
√ Kita sudah shalat;
√ Kita sudah berpuasa;
√ Kita zakat;
√ Kita bertauhid;
√ Kita benar-benar membumikan makna "La ilaha illallah" dalam kehidupan kita;

Apakah masih ada yang engkau khawatirkan atas kami?

Apa kata Nabi kita  shallallahu 'alayhi wa sallam?

Seakan-akan mengatakan:

Na'am..... ya jelas! 
Masih ada yang aku khawatirkan atas kalian.

Lalu Nabi mengatakan alasannya:

 إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

"Sesungguhnya hati-hati manusia itu berada di antara dua jemari Allah, Allah bolak-balikan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki."

(Hadits ini diriwayatkan Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih)

Saudaraku yang di rahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

Hadits ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa tidak ada yang boleh merasa aman, apapun yang telah ia kerjakan.

Ketika kita sudah mengerjakan shalat lima waktu; ketika kita sudah berpuasa ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa-puasa sunnah; ketika kita sudah membayar zakat dan tidak lupa berinfaq; ketika kita sudah mengenakan penampilan atau pakaian yang sesuai dengan sunnah nabi  shallallahu 'alayhi wa sallam, baik kita seorang laki-laki atau kita seorang wanita; kita sudah tutup aurat kita; kita sudah berhijab; atau kita sudah merasa berbakti kepada orangtua, melakukan silaturahim, kita sudah datang ke pengajian. 

Tetap,  tidak boleh merasa diri aman! 

√ Aman dari kekufuran.
√ Aman dari kebid'ahan/amalan yang tidak ada contohnya dari nabi kita  shallallahu 'alayhi wa sallam.
√ Aman dari kemaksiatan.
√ Aman dari kenifakan (kemunafiqkan).

Tidak ada satupun dari kita yang boleh merasa diri aman dan memiliki daya imun dari virus-virus tersebut.

Kenapa demikian? 

Karena kalaupun ada orang yang mendapatkan posisi dan zona aman tersebut, maka orang-orang tersebut adalah: 

>  Abu Bakar Ash Shiddiq
>  Ummar bin Al Khattab 
>  Utsman bin Affan
>  Ali bin Abi Thalib
>  Abu Hurairah
>  Abdurahman bin 'Auf
>  dan para sahabat-sahabat yang lain.

Sedangkan dalam hadits ini mereka bertanya langsung kepada Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, "Kami sudah beriman kepada engkau, dan kami beriman kepada ajaranmu,  ya Rasulullah. Apakah engkau masih mengkhawatirkan kami?"

Dan nabi menyatakan,  "Ya."  

Nabi masih mengkhawatirkan para sahabat, Nabi masih mengkahwatirkan generasi terbaik, generasi yang dikatakan oleh Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam. 

"Sebaik-baiknya manusia itu generasiku! "

Kalau mereka saja masih dikhawatirkan, maka tidak ada yang boleh dari kita merasa aman sampai kita benar-benar berpisah dengan dunia. 

Ini pelajaran bagi kita! 

Oleh karena itu, marilah kita meneladani Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam, perbanyaklah do'a kepada Allah, 

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Zat yang membolak-balikan hati, kokohkanlah hati ku diatas agama-Mu."

Perbanyak do'a ini sebagaimana Nabi memperbanyak do'a tersebut.

Kalau ada orang yang boleh mencukupkan diri dan tidak berdo'a kepada Allah, meminta kekokohan, meminta keistiqamahan, maka orang itu adalah Rasulillahi shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Tapi lihat bagaimana adab Nabi dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Bagaimana sikap Nabi?  

Beliau selalu berdo'a dan memperbanyak do'a:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Zat yang membolak-balikan hati, kokohkanlah hati ku diatas agama-Mu."

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Maka perbanyak do'a ini, 

> dalam sujud-sujud kita,
> diantara adzan dan iqamat,
> dimalam-malam kita/disepertiga malam terakhir
> diakhir waktu, dihari jum'at sebelum terbenamnya matahari.

Perbanyaklah do'a tersebut.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengokohkan kita

Karena Allah berfirman dalam surat Ghafir ayat 60:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

"Minta kepadaku, aku akan kabulkan."

Hingga kita benar-benar mengemis, meminta, mengangkat tangan kita kepada Allah , meminta dikokohkan hati kita, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mengabulkannya sebagaimana janji-Nya dalam surat Al Ghafir ayat 60 di atas.

Lalu yang terakhir kerjakanlah:

> Amal shalih  semaksimal mungkin.
> Terimalah nasehat dan amalkanlah ketika nasehat itu benar, nasehat yang berdasarkan Al Qur'anul Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang shahih.
> Kerjakan amal ibadah semampu kita dan sekuat tenaga kita.

Allah berfirman dalam surat An Nissa ayat 66:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا

"Kalau saja mereka mengamalkan apa yang dinasehatkan kepada mereka, maka itu lebih baik untuk mereka, dan akan lebih mengkokohkan hati mereka"

Allah berfirman kalau saja mereka mengamalkan, maka mengamalkan nasehat yang bersumber dari Al Quran, bersumber dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam yang shahih , yang valid dan dipahami dengan pemahamam yang benar.

Maka itu adalah "kunci kekokohan hati kita" sebagaimana tadi kita meneladani Rasulullah dengan terus membaca do'a:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Semoga hal ini bermanfa'at untuk saya yang berbicara dan saudara-saudaraku sekalian. 

Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkokohkan hati kita dan memberikan kita husnul khatimah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ 
_____________________________ 

oleh: Ustadz Nuzul Dzikri, Lc Hafizhahullah

Via Group WA BiAS (BimbinganIslam.com)
 



Berita Terkait