Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

IBU... BAPAK, DEKATKAN AKU KE SURGA !

Abu Bassam | Sabtu, 04 April 2015 - 12:21:14 WIB | dibaca: 2620 pembaca

ilustrasi

Hampir pasti setiap orang punya impian yang sama, ingin punya anak. Orang tua yang telah punya anak pun tidak berbeda angan-angannya, ingin anak turunnya menjadi orang yang berbahagia. Yang tidak sama adalah ketika mereka memaknai kebahagiaan dan memilih jalan untuk membahagiakannya.

Satu yang kebanyakan orang memilihkan jalan kebahagiaan bagi anak-anaknya yakni faktor pendidikan. Lepas motivasinya apa hampir setiap orang tua bagitu antusias memberi perhatian bagi pendidikan anak-anaknya. Di tengah kesibukan sehari-hari yang menenggelamkan orang tua dalam aktivitas rutin di ladang dunia orang tua tak ingin anaknya terlihat bodoh. Sekolah favorit diburu, meski harus merogoh kocek teramat dalam. Berbagai kegiatan belajar tambahan pun dijejalkan kepada anak-anaknya untuk dan atas nama keberhasilan pendidikan anak.

Tak heran bila di tengah ambruknya sekolah dasar negri dan inpres karena kekurangan murid, justru sekolah swasta umum dan islam terpadu menjadi laris manis. Sekolah dengan sistem full day pun semakin menjadi pilihan setelah semakin hari semakin orang tak punya waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. Sebuah alasan pragmatis yang memang tidak gampang disalahkan.

MENJADI GURU DI RUMAH

Dengan kondisi demikian akhirnya orang tua memasrahkan proses pendidikan anak (termasuk usia dini) sepenuhnya kepada pihak sekolah. Apalagi orang tua merasa sudah membayar banyak kepada sekolah. Orang tua pun berpikir di tengah kesibukan hidupnya; sudah mengeluarkan berbagai biaya yang tidak kecil masak anaknya tidak jadi beres. Akibatnya muncul hubungan yang hampa dengan anaknya, karena orang tua maunya asal beres saja.

Sementara itu, sekolah hampir tidak ada yang bisa melepaskan diri dari visi profit oriented-nya. Melambungnya biaya pendidikan tidak selalu diiringi dengan peningkatan kualitas pendukung proses belajar. Paling banter bangunan fisik yang sering mendapat perhatian. Sementara kualitas tenaga pengajar, buku-buku, laboratorium, dan sarana lain terkesan asal ada. Lebih parah lagi ternyata tenaga pendidik (bukan pengajar) sangat langka. Akhirnya anak hanya terajar dalam keterbatasan, sementara pendidikan bisa dikatakan nihil.

Sudah saatnya bagi orangtua untuk menyadari bahwa kewajiban mendidik anak tidaklah hilang dengan menyekolahkan mereka. Orangtua pun perlu mengaitkan proses belajar di sekolah dengan di rumah sehingga target pendidikan dapat dicapai. Adalah sebuah fakta bahwa bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. Keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah 'perjuangan', nilai-nilai, 'kebiasaan' yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagaian ahli menyebut bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluarga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai baru yang rusak.

Karena itulah orang tua harus berusaha aktif menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya. Bagi anak-anak, terutama saat usia dini, orang tua adalah guru utama. Sebagai guru orang tua perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya:
• Memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
• Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
• Memahami kiat mendidik anak secara praktis, sehingga setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
• Sebelum mentransfer nilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
• Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain.
• Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai dengan ajaran yang diberikan pada anak.
• Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.

MENJADI TELADAN

Keselamatan nasib anak sebenarnya 'terletak' pada tangan orang tua. Orang tuanyalah yang 'menentukan' hitam putihnya anak. Dalam sebuah hadits disebutkan perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah (Islam), orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (Shahih al-Bukhari no. 1319). Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung kesuksesan proses pendidikan anak merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang.

Menurut penelitian ahli psikologi setiap anak memiliki tiga aspek kehidupan, yaitu kognitif (otak), afektif (sikap), dan psikomotorik (ketrampilan). Sekolah cenderung lebih menangani kognitif dan afektif. Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Karena itulah untuk ” melengkapi ” pendidikan anak di sekolah, orang tua mesti membangun jiwa anak sesuai pengarahan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika tidak, anak cenderung tumbuh menjadi sosok yang mungkin pandai berhitung, banyak hafalan, dan terampil tetapi punya sikap yang tidak terpuji.

Sekali lagi anak cenderung meniru perilaku dan sikap, bukan kata-kata. Seribu nasihat kata-kata tentang kebajikan akan lebur oleh satu perilaku yang berlawanan. Karena itu sifat sebagai pendidik yang baik mestinya menghiasi orang tua.  Sifat-sifat ini kalau secara indah disaksikan oleh anak akan ditiru dan dijadikan sebagai perilaku dasarnya. Di antaranya:

1. Penyabar dan tidak pemarah.
Dua sifat ini dicintai oleh Allah.

2. Lemah lembut dan menghindari kekerasan.
Alah punya sifat rifq (lemah lembut), Dia pula cinta kelemahlembutan. Kelemah lembutan adalah sumber kebaikan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

”Sesungguhnya Allah itu Lemah Lembut, mencintai kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan selainnya. “
( Shahih Muslim no. 4697)    

مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ

”Barangsiapa dijauhkan dari sifat lembut, maka dijauhkan pula dari kebaikan.“
( Shahih Muslim no. 4694)

3. Penuh rasa kasih sayang.
Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun menghasung umatnya agar berhias dengan sifat kasih sayang. Sabdanya,

مَنْ لَا يَرْحَمْ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

”Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia tidak akan disayangi oleh Allah aza wa jalla.“
( Shahih Muslim no. 4283)

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

”Bukan bagian dari kami orang yang tidak sudi menyayangi kaum kami dari golongan anak-anak dan menghormati yang tua.“  (Sunan al-Tirmidzi no. 1842)

4. Memilih yang termudah.
Ini adalah salah satu sifat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada kondisi tertentu selalu memilih yang mudah. Sifat ini dgambarkan oleh istri beliau tercinta,

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ

”Apabila dihadapkan pada dua permasalahan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam cenderung memilih yang paling mudah/ringan selama hal itu tidak termasuk dalam dosa, jika sudah menyangkut masalah dosa maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya.”
( Shahih al-Bukhari dengan Syarh Fathul Bari 7/386.)

5. Luwes.
Tidak dimaksudkan luwes adalah bersikap lemah dan kendor, tetapi fleksibel yang tetap dalam koridor syariat. Sifat luwes itu terangkum dalam hadits yang dikatakan sebagai sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,

حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنْ النَّاسِ

” Orang yang mudah, lembut, gampang, dan dekat diharamkan dari neraka. ”  (Musnad Ahmad no. 3742.)

6. Bijak menasihati.
Menasihati bukanlah hal yang gampang. Perlu ada sikap bijak. Salah satu sifat bijak adalah sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“ Permudahlah dan jangan kamu persulit, sampaikanlah kabar yang menggembirakan bukan yang membuat lari. ”
( Shahih al-Bukhari dengan Syarh Fathul Bari  كتاب العلم باب ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتخولنا بالموعظة lihat pula Musnad Imam Ahmad 4/12 nomor hadits 2136 dan 4/911 nomor hadits 2556 dan 5/150 nomor hadits 3448.)

Di samping itu juga tidak menjejali anak dengan berbagai pengajaran yang monoton dan tanpa jeda. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas'ud a ia berkata, “ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa menjanjikan nasehat-nasehatnya dalam beberapa hari (tidak terus-menerus) untuk menghindari kebosanan yang bisa saja merasuki hati kami. ” ( Shahih al-Bukhari dengan Syarh Fathul Bari 1/214 nomor hadits 68 كتاب العلم باب ما كان النبى صلى الله عليه وسلم يتخولهم )  Karena itulah Ibnu Mas'ud pun hanya mengajar pada tiap hari Kamis.

DEKATKAN JIWA KE SURGA

Dengan sifat-sifat tersebut orang tua akan lebih mudah membangun jiwa si anak. Inilah sesungguhnya tugas utama pendidikan anak, membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang diperoleh demi kebaikan sesama.

1. Menemani anak
Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu 'Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja'far. Juga menemani Anas. Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan risih.

2. Menggembirakan hati anak

Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan.

3. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya

Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak 'Abbas lainnya, lalu bersabda, “ Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu … ”

4. Memberi pujian

Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya.

5. Bercanda dan bersenda gurau

Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam.

6. Membangun kepercayaan diri anak
Bisa dilakukan dengan memupuk tekad dan kemauan anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan berpuasa. Dibiasakan melakukan interaksi sosial bersama, kemampuan ilmiah, belajar berdagang dengan membeli.

7. Memenuhi keinginan anak

Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua.

9. Bimbingan terus-menerus
Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup untuk mempersiapkan diri menerima taklif  (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas'ud berkata, “ Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, dengan begitu kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”

10. Bertahap dalam pengajaran

Contohnya pada saat mendidik anak untuk shalat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun baru mendorong orang tua memerintah shalat ketika anak berusia tujuh tahun, tiga tahun kemudian baru menerapkan hukuman bila bandel.

11. Imbalan dan ancaman

Cara ini tidak kalah pentingnya dalam membangun jiwa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menggunakan cara ini dalam pendidikan. Contohnya untuk membuat anak berbakti kepada orang tua, beliau menyebutkan besarnya pahala berbakti kepada orang tua dan besarnya ancaman bagi mereka yang durhaka kepada orang tua.

Berbagai langkah tersebut sangat diharapkan oleh anak-anak kita. Mulut-mulut mungil yang menghiasi kepolosan wajah-wajah mereka yang masih dalam fithrah kiranya senantiasa menggumamkan harapan pada orang tua: 'Ibu...Bapa dekatkan kami ke surga!'. Tinggal bagaimana kecermatan dan keseriusan orang tua dalam menerjemahkannya pada pola pendidikan untuk menjadikannya sebagai ahli surga.

sumber: Majalah FATAWA Vo IV No 05



Berita Terkait