Artikel Pondok Jamil

Pondok Jamilurahman

BAGAIKAN SEBUAH CERMIN ·

Abu Bassam | Minggu, 24 Mei 2015 - 09:53:50 WIB | dibaca: 2855 pembaca

ilustrasi

Ketika anda berdiri dihadapan cermin, apa yang anda lakukan?

Anda bisa melihat kekurangan-kekurangan, membersihkan muka dari kotoran-kotoran yang menempel dimuka...

Ketika anda bercermin, anda bisa memperbaiki penampilan anda, memperbaiki baju, menyisir rambut, merapihkan kumis, dan seterusnya...

Bahkan terkadang anda melakukannya berkali-kali melihat ke cermin, hanya sekedar melihat diri anda sebelum pergi...

Tahukah anda wahai saat saudaraku, bahwa dalam kehidupan ini, kita adalah sebuah cermin... ya, saya, anda, kita...

Nabi kita Muhammad shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ الْمُؤْمِنِ

"Seorang mu'min merupakan cermin bagi saudara mu'min yang lain." (HR. Imām Bukhari dalam kitab Adabul Mufrād dan Imam Bayhaqi dalam Syu'abul Imān, hadits hasan)

Bagaimana bisa seorang mu'min menjadi cermin mu'min yang lain?

Padahal cermin adalah tempat kita membersihkan wajah kita dari kotoran, jadi cermin itu akan memperlihatkan kepada kita kotoran-kotoran...

Sebenarnya begitu juga antara kita dengan saudara kita, hendaknya kita bisa saling mengingatkan...

Ini adalah permisalan yang agung dan sangat menakjubkan tentang nashihat-menashihati...

Seorang mu'min, dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan apa-apa akan menunjukkan kepada kita kesalahan dan kekurangan saudaranya sesama mu'min..

Cermin, bukan hanya sekedar memberitahukan dimana letak kekurangan, kesalahan atau kotoran yang menempel diwajah...

Tetapi cermin juga menjadi tempat kita untuk memperbaiki diri...

Demikian juga kita sebagai seorang mu'min, seharusnya kita semua, anda dan saya bisa merupakan tempat untuk memperbaiki diri..

Cermin, saat anda berdiri lalu pergi meninggalkannya, dia tidak pernah mengingat-ingat kembali aib, cacat atau kotoran yang ada padamu...

Saat kau kembali ke cermin itu, dia sudah tidak menampakkan kotoran yang ada padamu, sudah hilang...

Bahkan jika oranglain setelah anda berdiri memakai cermin itu, dia tidak akan pernah bercerita bagaimana kamu dan apa kotoranmu...

Dia tidak akan bercerita "Si fulan seperti ini dan itu."

Begitupulalah kita sebagai seorang muslim...

Kita tahu saudara kita keliru, kita tahu saudara kita salah, kita tahu saudara kita punya aib...

Lalu kita ingatkan, kita nashihati, dan tidak perlu menceritakan kepada muslim yang lain, cukup hanya anda yang tahu, simpan aib-aib saudara kita...

Cermin, tidak pernah mengingatkan seseorang dihadapan banyak orang, dia tidak pernah mengingatkan seseorang dengan keras atau kasar...

Dia mengingatkan dengan lembut dan tidak berteriak-teriak, hanya antara engkau dan cermin...

Begitu seharusnya kita memberi nashihat kepada saudara kita sesama muslim, dengan lembut, santun dan rahasia, tidak perlu oranglain tahu karena kita hanya mengharap balasan & pahala dari Allāh 'Azza Wa Jalla dan menginginkan agar saudara kita itu berubah...

Jadi, manusia tidak bisa lepas dari cermin.

Bahkan kebanyakan wanita kemana-mana membawa cermin. Kadang kalau tidak membawa cermin maka sebagian wanita bercermin dikaca-kaca mobil oranglain...sampai seperti itu kebutuhan seseorang terhadap cermin...

Kita juga begitu, kita membutuhkan saudara kita untuk memperbaiki diri kita...

'Abdullāh Ibnu 'Umar berkata:

رحم الله امرئٍ أهدى إلى عيوبي


"Semoga Allāh merahmati orang yang menunjukkan kepadaku aib-aib dan kekuranganku."


Terima kasih saudaraku, engkau telah mengingatkan aku... jazākumullāhu khairan, wahai saudaraku...

Cermin, semakin bening dan bersih dia, maka semakin jelas memperlihatkan aib, noda-noda, kekurangan diri yang ada pada diri kita...

Semakin mudah kita untuk memperbaikinya...

Begitu juga seorang mu'min, semakin bersih hatinya... semakin tulus dia dalam mencintai saudaranya dalam menashihatinya. Maka dia semakin berguna bagi saudaranya untuk memperbaiki diri...

Cermin itu sangat peka, wahai saudaraku...

Sangat halus perasaannya, sekecil apapun kesalahan dia akan memperlihatkannya...

Dan diapun mudah pecah, maka harus kita jaga dan kita rawat...

Begitulah persaudaraan kita sesama mu'min, harus kita rawat dan kita jaga...jangan sampai retak apalagi pecah?

Mari, saya menjadi cermin untuk anda dan anda menjadi cermin untuk saya...

Mari kita menjadi cermin satu dengan yang lainnya, sehingga ukhuwah islamiyyah kita semakin kokoh...

Sehingga kita bisa berjalan bersama-sama, menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

[Ust. Abu Zubair Hawary, Lc]

sumber Group WA : bimbinganislam.com

 



Berita Terkait