Artikel Bin Baz

Islamic Centre Bin Baz

AKIDAH MUSLIM TERHADAP AL-QURAN AL-KARIM

Abu Bassam | Selasa, 05 Mei 2015 - 09:15:00 WIB | dibaca: 2843 pembaca

ilustrasi

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya tentang akidah al-Salaf terhadap al-Quran al-Karim.

Syaikh menjawab:

Aqidah al-Salaf tentang al-Quran al-Karim, sebagaimana keyakinan mereka tentang seluruh nama dan sifat Allah yang lain. Yakni sebuah keyakinan yang terbangun di atas dalil yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alihi wa sallam.
Setiap kita tentu sudah mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati al-Quran al-Karim dengan keterangan bahwasanya al-Quran adalah “Firman-Nya”  dan diturunkan dari sisi – Nya, Allah Ta'ala berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَّيَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Al-Taubah:6)

Tidak diragukan lagi maksud firman Allah di dalam ayat tersebut adalah al-Quran al-Karim. Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (Al-Nahl:102)

Juga demikian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَقُصُّ عَلَى بَنِي إِسْرَاءِيلَ أَكْثَرَ الَّذِي هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Sesungguhnya Al Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebahagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangnya.” (Al-Naml:76)

Dengan demikian al-Quran adalah firman Allah, baik lafal maupun maknanya. Allah benar – benar berfirman denganya. Dia menyampaikan al-Quran kepada Jibril al-Amin, kemudian Jibril menurunkannya ke hati Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam, agar menjadi pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang sifatnya jelas dan menjelaskan.

Para Salaf Shalih meyakini bahwa al-Quran diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Muhammad Shallallahu 'alihi wa sallam tidak sekaligus. Maksudnya diturunkan secara bertahap pada rentang waktu selama 23 tahun sesuai dengan tuntunan hikmah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Turunnya al-Quran ini ada yang tanpa disertai sebab, di samping ada juga yang disertai sebab. Artinya bahwa sebagian al-Quran diturunkan dengan sebab tertentu yang menuntut penurunannya. Sementara sebagian yang lain diturunkan tanpa sebab. Di sisi yang lain sebagiannya diturunkan berkenaan dengan penuturan keadaan Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya, sebagian yang lain diturunkan berkenaan dengan hukum–hukum syar’i ibtida’i, sesuai dengan apa yang disebutkan ulama. Tentang masalah ini para Salaf Shalih mengatakan, ‘Sesungguhnya al-Quran berasal dari sisi Allah dan kembali kepada-Nya di akhir zaman.’ Inilah keyakinan Salaf terhadap al-Quran al-Karim

Tidak samar bagi kita bahwasanya Allah Ta'ala menyifati al-Quran al-Karim dengan sifat–sifat yang agung. Allah sifati al-Quran dengan Hakim, Karim, Azhim, dan Majid. Sifat–sifat yang mulia ini —yang Allah lekatkan pada firman-Nya— juga diperuntukkan bagi orang–orang yang berpegang teguh dengannya dan mengamalkannya baik secara lahir maupun batin. Sehingga Allah jadikan bagi orang yang berpegang teguh dengan–Nya ketinggian sifat–sifatnya berupa keagungan, hikmah, kemulian, dan kekuasaan. Hal ini tidak didapatkan oleh orang yang enggan berpegang teguh terhadap kitab Allah Ta'ala. Karena itulah, saya menyeru lewat mimbar ini, kepada seluruh penguasa, rakyat, ulama, dan masyarakat umum, untuk berpegang teguh dengan kitab Allah Ta'ala secara lahir maupun batin. Dengan begitu mereka akan mendapat kemuliaan, kebahagiaan, keagungan sifat-sifatnya serta kekuasaan di belahan timur maupun barat. Saya memohon kepada Allah Ta'ala untuk menolong kita mewujudkan hal ini.

Fatawa al-‘Aqidah wa Arkanul Islam dijawab oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.


SIFAT AL-QURAN YANG UNIVERSAL

Berkata Syaikh Abdurrahman al-Sa’di tentang sifat-sifat al-Quran yang umum dan universal:

“Sungguh, Allah telah menyifati kitab-Nya kemuliaan dan keagungan. Terbukti memang sifat-sifat tersebut terdapat pada seluruh ayat-Nya. Hal ini merupakan petunjuk yang paling jelas, yang menegaskan bahwasannya al-Quran merupakan landasan pokok bagi seluruh ilmu yang bermanfaat dan berbagai disiplin ilmu yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Allah sifati al-Quran dengan al-Huda/petunjuk, al-Rusyd/benar, al-Furqan/pembeda antara kebenaran & kebatilan, dan jelas serta menjelaskan dalam menjelaskan segala sesuatu.

Al-Quran itu sendiri jelas merupakan petunjuk yang mengarahkan manusia kepada seluruh apa yang dibutuhkannya, baik terkait urusan agama maupun dunia. Al-Quran pula menunjukkan kepada mereka jalan yang bermanfaat. Dengannya terbedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara petunjuk dan kesesatan, dan antara orang yang bahagia dan celaka; dengan menyebutkan sifat-sifat dua kelompok tersebut. Di dalam al-Quran terdapat penjelasan tentang urusan yang pokok dan cabang dengan menyebutkan dalil-dalil nash maupun akal. Jadi Allah telah menyifati al-Quran dengan sifat-sifat umum-universal ini, di mana tidak ditemukan satu pun penyimpangan dari sifat-sifat tersebut pada ayat-ayatnya yang banyak tersebut.

Allah juga memberikan keterangan pengikat bagi hidayah-Nya dalam sebagian ayat dengan beberapa pengikat keterangan. Dia memberikan keterangan pengikat bagi hidayah-Nya, bahwasanya al-Quran merupakan petunjuk bagi kaum mukminin dan muttaqin, bagi orang-orang yang berakal & berpikir, dan bagi orang yang menginginkan kebenaran. Sebenarnya ini merupakan penjelasan dari Allah Ta'ala tentang syarat bagi seorang hamba untuk mendapat hidayah-Nya; bahwasanya haruslah ada tempat yang “layak dimasuki hidayah” dan “mengamalkan tuntunan hidayah”.

Jadi, orang yang ingin mendapatkan hidayah mesti berakal; sudi memikirkan dan merenungkan ayat-ayat-Nya. Karena itu orang yang berpaling, tidak berpikir, enggan merenungkan ayat-ayat-Nya tidak bisa mengambil manfaat.
Demikian pula, orang yang tidak memiliki tujuan untuk menemukan kebenaran dan mengamalkan kebenaran, bahkan mempelajari al-Quran dengan tujuan buruk, sementara di sisi yang lain jiwanya telah dipersiapkan untuk “menyerang dan menentang al-Quran”, sedikit pun tidak akan mendapatkan bagian hidayah.
Perlu diperhatikan! Yang pertama terhalang mendapatkan hidayah karena “hilangnya syarat untuk mendapatkan hidayah”. Sementara yang kedua terhalang mendapatkan hidayah karena “adanya penghalang masuknya hidayah”.
Sementara itu orang yang menghadapkan hatinya untuk mendapatkan hidayah dari al-Quran, memikirkan makna-maknanya, mempelajarinya dengan pemahaman yang baik & tujuan yang baik, dan selamat dari hawa nafsu akan akan mendapatkan hidayah tentang kebenaran yang dicarinya. Dengan begitu ia akan mendapatkan seluruh tujuan yang mulia dan dicintai….”

Taisirul Lathifil Mannan fi Tafsiril Quran oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Abdillah al-Sa’di.


ALLAH TA'ALA YANG MENJAGA AL-QURAN

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin pernah ditanya: ‘Saya pernah mendengar kisah bahwasanya dahulu Jibril 'alaihi sallam memperdengarkan al-Quran al-Karim kepada Nabi ‘alaihis shalatu wassalam untuk mencek hafalan al-Quran beliau. Apakah kisah ini benar?

Syaikh    menjawab:
“Ya, dahulu Jibril 'alaihi sallam jika menyampaikan wahyu membacakannya kepada Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam, kemudian jika telah selesai giliran Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam yang membacanya sampai yakin benar bacaannya. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allah,

لاَتُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ {*} إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ {*} فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ {*} ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah:16-19)

Mengajarkan (yudarisu). Jibril 'alaihi sallam dahulu membacakan al-Quran kepada Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam sebanyak satu kali pada setiap bulan Ramadhan, kecuali pada tahun wafatnya Rasulullah  Jibril  membacakan/mengajarkannya sebanyak dua kali.( Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dan An Nasai).
[Tambahan redaksi: hadits yang menunjukkan hal tersebut di antaranya adalah:
Kabar dari Fatimah Radhiyallahu 'anha:

أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي بِالْقُرْآنِ كُلَّ سَنَةٍ وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ وَلَا أُرَاهُ إِلَّا حَضَرَ أَجَلِي

“Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam memberikan petunjuk kepadaku, ‘Bahwa biasanya Jibril mencek diriku tentang bacaan al-Quran sekali setiap tahunnya, kemudian Jibril melakukannya dua kali, aku rasa tidak lain karena akan tiba ajalku!” (Shahih al-Bukhari bab Jibril Mencek bacaan Al-Quran pada Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam.)

Persaksian Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu:

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ

“Dulu Nabi dicek hafalan al-Quran sekali setiap tahunnya, kemudian pencekan pada beliau dilakukan sebanyak dua kalipada tahun wafat beliau.”
(Shahih al-Bukhari no. 4614)]

Semua itu, demi memantapkan dan mencek hafalan al-Quran al-Azhim. Perlu diketahui bahwa Allah Ta'ala, ketika menurunkannya kepada Muhamad Shallallahu 'alihi wa sallam, telah menjamin penjagaan terhadap al-Quran. Tentang hal ini Allah Ta'ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
(Al-Hijr:9)

Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Sa’id Jamilurrahman.

sumber ; FATAWA Vol IV No 10



Berita Terkait