Artikel Bin Baz

AHLUSUNNAH ITU MODERAT

Abu Bassam | Sabtu, 27 Juni 2015 - 14:02:07 WIB | dibaca: 2929 pembaca

oleh al-Ustadz Jundi Soehardin, Lc Hafizhahullah.

Bisa jadi ada yang salah paham tentang makna moderat. Sebagian pihak secara salah memaknai moderat sebagai bebas/liberal. Padahal liberal merupakan salah satu bentuk pemahaman ekstrim.

Liberal merupakan bentuk ekstrim yang bersifat meremehkan, sementara lawannya adalah ekstrim dalam berlebihan (ghuluw). Moderat (wasath/pertengahan) merupakan salah ciri pokok dari manhaj Ahlusunnah wal jama'ah. Ahlussunnah membebaskan diri dari berbagai bid'ah pemikiran yang muncul di kemudian hari. Sebagaimana diketahui munculnya berbagai firqah dikarenakan berlebihan dalam merespon pemikiran firqah yang muncul sebelumnya. Khawarij muncul sebagai respon ekstrim terhadap pemikiran murji'ah. Syi'ah timbul karena merespon secara ekstrim pemikiran nashibiyah (mencela Ali).

Sebagaimana umat Islam yang bersikap pertengahan (wasath) di antara kaum Nashara yang ghuluw dan kaum Yahudi yang meremehkan agamanya, Ahlusunnah wal jama'ah berada di tengah-tengah antara berbagai firqah bid'ah yang menyimpang.
Allah Ta'ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ

"Demikianlah Kami jadikan kalian sebagai umat yang adil dan pilihan (di antara umat-umat yang menyimpang) agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia.” (Al-Baqarah:143)

Beberapa Bentuk Sikap Pertengahan Ahlusunnah adalah:

Tentang Asma'  dan Sifat Allah.

Ahlus sunnah berada di tengah-tengah antara ahlut ta'thil (jahmiyah  yang menafikan asma' dan sifat Allah dengan ahlut tamtsil (musyabbihah ) yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk-Nya. Ahlusunnah menetapkan sifat Allah sesuai dengan keagungan-Nya tanpa tamtsil (memisalkan), takyif (menanyakan bentuk dan rupanya) dan menyucikan-Nya tanpa melakukan tahrif (perubahan) maupun ta'thil (meniadakan).

Tentang Perbuatan Allah (Af'alullah)
Ahlusunnah berada di tengah-tengah antara Jabbariyah  dan Qadariyah. Ahlussunnah wal jama'ah mengimani bahwa tiap manusia memiliki pilihan dan kehendak untuk berbuat, tetapi tidak lepas dari kehendak dan ketetapan Allah ta'ala. Di telah berfirman,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

"…dan Allah menciptakana kamu serta apa yang kamu kerjakan (Al-Shaffat:96).
Kehendak manusia datang setelah kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاء اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Dan kamu tidak akan berkehendak kecuali jika dikehendaki Allah Rabbul'alamin (At-Takwir: 29)

Tentang Penamaan Din dan Iman.
Ahlussunnah bersikap tengah-tengah antara haruriyah /khawarij dan mu'tazilah dengan murji'ah dan jahmiyah. Khawarij dan mu'tazilah menyatakan bahwa din dan iman adalah perkataan, perbuatan dan i'tiqad; tidak bertambah maupun berkurang. Barangsiapa yang melakukan dosa besar, zina misalnya, dianggap kafir oleh khawarij. Sementara menurut mu'tazilah ia berada di antara dua tempat (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga bukan mukmin. Namun kedua kelompok ini sepakat pelaku dosa besar kekal di neraka. Mur'jiah berbeda lagi. Menurutnya iman hanya perkataan atau pembenaran dalam hati. Kelompok ini beranggapan bahwa perbuatan maksiat tidak mengurangi iman, dan mutlak tidak mengakibatkan pelakunya masuk neraka. Paham ini juga dianut oleh jahmiyah.
Ahlussunnah wal jama'ah berada di tengah-tengah antara empat kelompok tersebut. Iman adalah perkataan, amal dan i'tiqad; bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena maksiat. Pelaku maksiat tidak dianggap kafir karena semata-mata kemaksiatannya dan tidak kekal di neraka, berbeda dengan khawarij dan mu'tazilah. Iman pelaku maksiat akan berkurang, masuk neraka jika Allah berkehendak mengadzabnya atau terbebas dari neraka jika Dia mengampuni. Ini berbeda dengan golongan jahmiyah dan murjiah.

Tentang Ancaman Allah (wa'idullah).

Ahlussunnah bersikap moderat antara murji'ah dan golongan wa'idah, yakni khawarij dan mu'tazilah. Ahlussunnah wa jama'ah menyatakan bahwa pelaku dosa besar adalah fasik dan imannya berkurang. Tapi karena memiliki pokok iman sehingga tidak kekal di neraka dan nantinya akan dimasukkan ke surga.

Tentang Sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Ahlus sunnah bersikap moderat antara syi'ah rafidhah  dan khawarij. Rafidhah bersikap berlebihan terhadap Ali dan ahli bait. Mereka mencela dan melaknat para sahabat, terutama terhadap khalifah yang tiga. Ada juga yang mengkafirkan mereka atau sebagian dari mereka. Syi'ah ekstrim bahkan menganggap Ali sebagai Nabi atau Tuhan. Kelompok ini dihukum bakar oleh khalifah Ali. Sebaliknya khawarij justru mengkafirkan Ali, Mu'awiyah, dan para sahabat yang lainnya. Mereka memerangi para sahabat dan menganggap halal darah dan hartanya.
Ahlussunnah wal jama'ah, dengan hidayah Allah ta'ala, mengakui keutamaan para sahabat seluruhnya. Sahabat adalah generasi terbaik dari umat ini. Meskipun begitu Ahlussunnah tidak bersikap ghuluw kepada mereka dan tidak menganggapnya ma'shum. Ahlus sunnah tetap menjaga hak-hak mereka dan cinta kepadanya.

Sifat pertengahan yang menjadi ciri Ahlussunnah merupakan buah dari kesetiaan kepada sunah-sunah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan arahan para sahabatnya dalam memahami al-Quran. Metodologi ini bersih dari pengaruh paham Nashrani dan Yahudi, maupun Yunani. Kebersihan inilah yang telah diwanti-wanti oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa umatnya hendaklah hati-hati terhadap paham luar yang menyeret sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Penyerupaan pada paham-paham menyimpang itulah yang sering tidak disadari sehingga ketika umat Islam banyak yang terperosok dalam lubang biawak pun tetap tidak merasakan.

Memakai metodologi Ahlussunnah wal Jama'ah yang merupakan warisan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam akan menghasilkan Islam yang bersih jauh dari kabut syubhat. Dengan begitu sikap kepada Allah Ta'ala, kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, kepada para sahabat, memahami iman, dosa, neraka dan surga akan lurus dan adil. Terbuktilah bahwa Ahlussunnah mempunyai sifat pertengahan yang menghindarkan dari sikap ekstrim, baik ekstrim kanan maupun kiri. Jauh dari sikap keberagamaan yang bersifat main-main dan meremehkan model liberalis maupun sikap berlebihan (ghuluw) gaya khawarij. Dua-duanya kini sedang menggeliat berusaha untuk kembali bangkit. Karena itu umat harus waspada dengan tetap teguh berpegang kepada jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Semoga kita termasuk yang diberi hidayah oleh Allah untuk mampu menemukan jalan lurus itu dan menapakinya menuju surga bertemu dengan para nabi dan memandang Allah Yang Maha indah.


Maraji':
Al-Aqidah al-Wasithiyah bisyarh Abdurrahman al-Sa'di hal. 59-63, Muhammad Khalil Hirras hal. 125-132, Dr. Shalih al-Fauzan hal. 124-128.

Pernah dimuat di Majalah FATAWA Vol III No 10






Berita Terkait